Potensi Ultrapreneurship Umat Islam

15 09 2009

oleh Abang Eddy Adriansyah (Republika)

Kecepatan informasi membuat dunia seakan menciut. Peristiwa di salah satu belahan bumi dapat segera diketahui oleh orang di belahan bumi lainnya dalam hitungan detik saja. Pola-pola standar dalam lingkungan politik, ekonomi, sosial dan budaya memerlukan modifikasi agar adaptif terhadap ekses daripada perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat. Teknologi informasi dengan tingkat akselerasi yang tinggi, memegang peran sebagai source of changes yang menimbulkan kegairahan baru di dunia usaha. Saat ini, pasar tengah berevolusi dari bentuk marketplace menuju bentuk marketspace. Dalam bentuk marketspace, pertemuan antara pembeli dan penjual telah meninggalkan banyak cara-cara tradisional yang mengharuskan kedua pihak bertemu di suatu tempat. Fenomena yang dikemukakan ahli pemasaran Hermawan Kertajaya ini, timbul karena cyber technology berkembang dengan percepatan yang mengagumkan. Tak pelak lagi, inti daripada percepatan dalam dunia usaha di waktu sekarang adalah akses yang cepat dan reflek yang tanggap terhadap informasi.

Era keterbukaan informasi membuka peluang yang luas bagi para entrepreneur atau wirausahawan untuk melakukan strategic alliance (persekutuan strategis) dan outsourcing strategy, tanpa harus mengesampingkan kreativitas dan jati dirinya. Para entrepreneur itupun diharapkan pula mampu melakukan benchmarking yang synergistic. Sinergisitas ini diupayakan untuk optimal membesarkan, serta memberikan manfaat lebih bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat. Prinsip mutualisme selayaknya dikedepankan disini. Pola kompetisi murni yang sebelum era globalisasi ini banyak dianut, telah melahirkan pemenang dan pecundang. Pola tersebut berkontribusi dalam menciptakan sekat-sekat penutup bagi pertukaran informasi di antara perusahaan-perusahaan. Cara tersebut tidak tepat lagi untuk menggagas pertumbuhan dan kesinambungan usaha pada saat sekarang. Di era ini, keterpurukan yang menimpa satu pihak, akan membawa dampak negatif pula terhadap pihak lainnya. Untuk itulah diperlukan entrepreneur plus yang dapat melakukan strategic alliance, outsourcing strategy dan benchmarking yang synergistic tersebut, hingga tercipta dinamika usaha yang harmonis antar perusahaan-perusahaan yang terlibat. Ahli kewirausahaan, Thoby Mutis, menyebut para entrepreneur dengan kehandalan lebih itu dengan sebutan ultrapreneur.

Umat Islam Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan para ultrapreneur, dengan potensi kuantitatif sebagai mayoritas di Indonesia. Sebagai contoh, apabila persekutuan strategis tercetus di kalangan para entrepreneur dengan komitmen penegakan ekonomi syari’ah yang dilandasi oleh pertumbuhan, kontinuitas, dan keberkahan, maka dampaknya akan luas sekali, serta mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif secara nasional. Tanpa menutup kemungkinan persekutuan strategis, outsourcing strategic dan benchmarking dengan entrepreneur dari kalangan non-muslim, para ultrapreneur tersebut akan berperan luas dalam pemulihan ekonomi Indonesia, bahkan membawa kegairahan yang kondusif di wilayah regional maupun internasional. Selain itu, dengan landasan tiga fokus utama ekonomi syari’ah yang diungkapkan sebelumnya, maka aktivitas tersebut Insya Alloh akan berfungsi pula sebagai dakwah bil-lisan.

Umat Islam Indonesia menyimpan pula potensi kualitatif dalam mendorong terlahirnya para ultrapreneur. Hal tersebut diindikasikan oleh kegairahan kalangan santri maupun intelektual muda muslim untuk ikut berperan aktif mengembangkan sistem perekonomian syari’ah. Kegairahan itu disertai pula oleh ketertarikan mereka untuk mulai mempelajari konsep muamalah yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya secara lebih intensif. Selanjutnya, kemauan keras untuk mempelajari konsep muamalah tersebut, selayaknya diikuti pula oleh penerapan yang tepat dalam setiap aktivitas kewirausahaan. Dengan begitu, kesempurnaan konsep yang memegang prinsip adil, transparan, dan saling menguntungkan ini, secara optimal dapat dirasakan manfaatnya secara pribadi, hingga para santri dan intelektual muda ini matang sebagai entrepreneur dan siap menjadi seorang ultrapreneur yang akan memperkenalkan pula konsep perekonomian syari’ah melalui proses strategic alliances, outsourcing strategy, dan benchmarking yang synergistic tadi.

Tidak terdapat halangan bagi entrepreneur yang memegang prinsip ekonomi syari’ah untuk melakukan benchmarking dengan kalangan manapun. Prof. Thoby Mutis telah menjelaskan bahwa dasar daripada benchmarking adalah adanya keterbukaan informasi, kesediaan saling menukar informasi, perbandingan kinerja, dialog kerja dan saling mempelajari keunggulan. Dari penjelasan tersebut, inti dari benchmarking sendiri adalah kepercayaan, sesuatu yang dikedepankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam bermuamalah. Sehingga secara prinsip, tidak ada hal yang menghambat seorang entrepreneur muslim untuk mampu melakukan benchmarking yang sinergis, dan berhak mencapai derajat ultrapreneur atas dedikasinya dalam usaha.(red/aburashif)





Toni Iommi : Lord Of Metal Guitar

15 09 2009

tony iommi

Kawan semasa SMP, Ramdhan, pernah membawakan saya sebuah kaset The Best Of Black Sabbath, yang konon ditinggalkan seorang penumpang di kursi bis yang dikendarai ayahnya. Kaset dengan label publisher A-Team Record itu ia tunjukkan kepada saya, kawan sebangkunya, lantaran dia merasa takjub mendengarkan riff-riff gitar yang ada di album tersebut. Ramdhan yang mulai menyukai musik rock semenjak duduk sebangku dengan saya, kian besar saja rasa takjubnya ketika saya mengatakan belum pernah tahu ada grup rock bernama Black Sabbath. Maklum, saat itu, meskipun sejak sekolah dasar sudah menggandrungi musik rock, yang saya tahu soal lagu dan kelompok musiknya baru sebatas grup-grup yang memainkan hard rock atau rock n roll standar semacam :  The Beatles, Rolling Stones, Elvis Presley, Queen, Led Zeppelin dan Deep Purple. Terbatas pada koleksi rekaman bapak atau paman saja, tepatnya. Kebetulan juga, pada koleksi mereka memang tidak ada rekaman milik Black Sabbath. Kemudian hari, bapak dan paman memberi alasan : musik band asal Birmingham, Inggris itu, kurang  sejiwa dengan mereka.

Ketika pertamakali memutar The Best Of Black Sabbath, yang saya pinjam dari Ramdhan dengan janji akan dikembalikan dua hari ke depan, yang langsung menyita perhatian adalah intro demi intro dalam lagu-lagu mereka. Saking sukanya saya pada intro-intro yang dibangun lewat riff-riff gitaris Sabbath itu, sampai-sampai jadwal pengembalian kaset pinjaman molor dua minggu. Riff-riff yang tertuang di nomor-nomor legendaris Sabbath seperti “Paranoid”, “Iron Man”, “N.I.B” atau “Symptom Of The Universe”, membuat saya- yang baru menjelang akil baligh saat itu- “jatuh cinta pada pendengaran pertama.” Sehingga, sempat pula saya kecewa berat, disaat kawan sebangku di kelas 2 SMP itu menolak tawaran barter atas kaset temuan ayahnya tersebut. Kesungguhan saya untuk memiliki kaset, yang kemudian baru saya temukan lagi rilisannya sewaktu kuliah itu, bahkan membuat saya rela untuk menraktir Ramdhan setiap istirahat pertama selama beberapa hari. Tapi ternyata, harga Bubur Ayam atau beberapa porsi Baso Tahu Goreng yang biasanya mewah bagi anak usia sekolah menengah pertama ketika itu, tidak sebanding dengan harga kaset The Best Of Black Sabbath yang padahal didapatkan secara kebetulan, dengan cuma-cuma.

**

Orang dibalik intro-intro nan dahsyat yang mencengangkan saya itu adalah, Frank Anthony Iommi, gitaris Sabbath yang populer dengan panggilan : Tony Iommi. Gitaris yang lahir pada tanggal 19 Februari 1948 ini, mulai serius menekuni dunia musik, khususnya sebagai gitaris, setelah terinspirasi oleh permainan Hank Marvin, pemain gitar dari grup legendaris The Shadows. Hank Marvin & The Shadows pula yang menginspirasi fans fanatik FC. Aston Villa, Birmingham ini, untuk membentuk sebuah grup band bersama tiga karibnya semasa sekolah. Ya, pada medio 1967 itulah, Iommi mulai intensif  melakukan jam session dengan beberapa grup beraliran blues dan rock, sebelum akhirnya menemukan “rumah permanen” bagi hasrat musikalisasinya bersama Earth- sebuah kelompok yang kemudian berganti nama menjadi Black Sabbath. Kelompok yang kelak dianggap sebagai pelopor metal nomor wahid ini Iommi dirikan bersama, Terence Michael Joseph Butler (Geezer Butler, bassist), William Thomas Ward (Bill Ward, drummer) serta salah satu vokalis yang kelak menjadi ikon Heavy Metal, John Michael Osbourne a.k.a Ozzy Osbourne.

Pada masa-masa awal pembentukan karakter permainan gitarnya (medio 1967), Iommi mengalami sebuah peristiwa yang nyaris menutup karier bermusiknya. Ruas jari kanan gitaris kidal ini terpotong saat bekerja di pabrik logam, tempatnya mencari nafkah sebelum mapan sebagai musisi. Gagal mentransformasi diri dari seorang left-handed guitarist menjadi seorang right-handed guitarist, Iommi mengalami masa-masa depresi dan frustasi pasca “industrial accident” tersebut. Untung saja, Iommi memiliki kawan-kawan yang sangat peduli atas keberlangsungan kariernya. Lambat-laun kesehatan jasmani dan rohaninyapun pulih, terutama setelah Iommi mendengar kisah tragis yang pernah dialami Jean “Django” Reinhardt, seorang gitaris dan master musik Gypsy Jazz kelahiran Belgia. Reinhardt yang populer berkat permainannya di lagu “Minor Swing” itu, pernah mengalami kecelakaan tragis yang sampai merenggut fungsi normal jari kelingking dan jari manis kirinya ketika masih berusia 18 tahun. Berkat keteguhan hatinya, Reinhardt terus berkarya hingga ajal merenggutnya saat masih berusia 43 tahun. Masterpiece album buah karya Reinhardt, seperti Paris 1945 (1945), Ellingtonia (1947), Djangology (1949) hingga Django Reinhardt In His Rhythm (1959)-lah yang mengilhami Iommi, untuk terus bermusik dan melupakan cacat di dua ruas jari kanannya. Dengan pelindung ruas jari yang terbuat dari plastik lunak, Iommi kembali berlatih dan tampil secara rutin di berbagai pentas musik seputar kota Birmingham. Setelah melewati masa pemulihan fisik dan mental, Iommi juga sempat keluar dari Earth untuk mendukung Jethro Tull (1968), sebuah band yang punya nama besar di kancah Progressive Rock. Karena perbedaan visi, Iommi tercatat hanya sekali tampil sebagai personil Jethro Tull. Tepatnya ketika : Iommi dan band yang dimotori vokalis bergaya teatrikal, Ian Anderson itu, tampil dalam acara TV spesial, Rock & Roll Circus, memainkan lagu “Song for Jeffrey.”

Sekembalinya Iommi ke Earth, kelompok yang kerap membawakan nomor-nomor blues rock dari Joe Walsh Band dan Mountain ini, mengubah namanya menjadi Black Sabbath. Nama tersebut diambil dari English title film horor produksi Italia, I Tre Volti Della Paura.  Ganti nama, ganti juga warna musik. Musik a la Earth yang cenderung kearah blues rock, berkembang lebih kearah heavy rock ketika Iommi dan kawan-kawan menggunakan nama Black Sabbath. Diilhami oleh lirik-lirik mistis yang kebanyakan ditulis oleh sang vokalis, Ozzy Osbourne, aransemen Sabbath-pun cenderung bergerak ke nuansa yang lebih gelap dan keras. Dalam proses musikalisasi di tahun-tahun awal berkibarnya bendera Black Sabbath itu, Iommi menjadi pelopor corak permainan gitar yang kemudian dikenal sebagai blue-print-nya para gitaris Metal. Lewat album Black Sabbath (1969), Paranoid (1971), Master of Reality (1971), Black Sabbath Vol.4 (1972) dan Sabbath Bloody Sabbath (1973), Iommi mengembangkan teknik dan style permainan yang kelak menginspirasi banyak gitaris kelompok Metal legendaris setelahnya, seperti : Glen Tipton dan K.K. Downing (Judas Priest), Adrian Smith dan Dave Murray (Iron Maiden), Kirk Hammet dan James Hetfield (Metallica) atau almarhum Dimebag Darrell (Panthera).  Pengaruh Toni Iommi-pun, sepanjang pengamatan saya, mempengaruhi pula permainan gitaris-gitaris dan musisi Underground terkemuka di Indonesia. Robin Malauw (Puppen), Donnijantoro dan Ibrahim Nasution (Koil), atau double guitarist band keras paling populer di Indonesia, Agung BK dan Ebenz dari Burgerkill, sadar atau tak sadar adalah gitaris pribumi yang nyata terpengaruh corak dan spirit Iommi dalam permainan mereka.

Read the rest of this entry »





Menjemput Lailatul Qadr

14 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

Begitu cepatnya perputaran waktu, sehingga kita hampir sampai lagi pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bila dalam sepuluh malam pertama kita mengarungi lautan rahmat, sepuluh malam kedua menadahi limpahan ampunan dari Allah SWT, maka dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan Allah menjanjikan pembebasan kita dari api neraka.

Diantara sepuluh hari terakhir inilah terdapat ‘Lailatul Qadr`, yaitu ‘malam seribu bulan.` Apakah `malam seribu bulan` itu ? Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr :1-5)

Bagi mereka yang telah bersungguh-sungguh ibadah sejak hari pertama hingga malam ke-21, inilah saatnya menyempurnakan ibadah yang telah dikerjakan semenjak awal Ramadhan. Bagi mereka yang belum bersungguh-sungguh menjalani Ramadhan dengan ikhtiar terbaik, inilah waktunya untuk mulai meluruskan niat dan langkah, dengan melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah dan ghayr mahdhah yang sebelumnya terlalaikan. Pada sepuluh hari terakhir ini kaum muslimin dan muslimat hendaknya senantiasa `menghidupkan malam`. Dengan apa kita menghidupkan sepuluh malam terakhir tersebut ? Dalam shahihain disebutkan, dari `Aisyah r.a. : “Bahwasanya Nabi SAW selalu ber-i`tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.”
***
I`tikaf diisi dengan munajat, dzikir dan berdoa kepada Allah. Jumhur ulama mengatakan, i`tikaf berlangsung dengan shalat Isya berjamaah pada awalnya, serta shalat subuh berjamaah pada ujungnya. Lebih khusus disyariatkan : i`tikaf bagi laki-laki bertempat di masjid, sedang i`tikaf bagi perempuan bisa dilakukan di masjid atau cukup di mushola tempat-tinggal.

Dalam i`tikaf kita mengasingkan diri, mengosongkan pikir dari berbagai urusan dunia, serta meninggalkan segala kesibukan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan peribadatan. Orang yang i`tikaf menambatkan hatinya hanya kepada Allah, menikmati taat atas segala perintah-perintah-Nya, dan iapun menikmati khalwat ketika berdzikir dan menghaturkan munajat, hingga seakan ia sedang berdua dengan Allah saja. Dari sini bisa disimpulkan makna hakikat i`tikaf itu sendiri. Yaitu : memutuskan hubungan dengan semua mahluk demi menyambungkan penghambaan kepada Sang Khaliq.

Ketika diri menikmati ketaatan, menghayati dzikir dan senantiasa rindu untuk ber-khalwat dengan Allah, berarti diri telah sampai kepada derajat ihsan. Apakah ihsan ? Rasulullah menjawab,”(yaitu) apabila kamu menyembah (beribadah) kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.” (H.R. Bukhari).

Qur`an memuat 11 tempat yang menyebutkan kata ihsan dengan berbagai konteks dan 40 tempat yang menggunakan kata itu sebagai sebutan pelaku ihsan (orang yang berbuat baik/muhsin). Ihsan juga merupakan visi para ulama sufi dan para pengikutnya, ketika mereka mengarungi jalan tasawufnya. Arti jalan tasawuf ? Menurut Ensiklopedia Islam, tasawuf adalah metode seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui keimanan, pengamalan syariat Islam secara kaffah dan pembawaan akhlaqul karimah.
***
Bila umat Islam yang menjadi mayoritas mau berbondong-bondong ke masjid, menjemput malam kemuliaan yang telah dijanjikan diantara sepuluh hari terakhir Ramadhan, pantas bila kita berandai bahwa negeri ini kelak akan kembali dinaungi kesejahteraan. Entah berapa ratus, berapa ribu, bahkan berapa juta orang yang mampu memetik hikmah `Lailatul Qadr`, yaitu keihsanan diri, sehingga kelak menjadi manusia pembawa maslahat bagi lingkungan kerja, belajar, maupun tempat tinggalnya.

Namun sayang jikalau sepuluh hari terakhir ini justru kita abaikan, sebab kesibukan kerja, belajar, atau urusan-urusan tertentu di lingkungan tempat tinggal. Kesempatan kita untuk mendapat hikmah ruhani dan meraup bekal untuk akhirat kelak, kita lewatkan hanya untuk rutinitas dunia yang pasti lebih kerap menjengkelkan daripada menenteramkan diri. Bulan Ramadhan kemudian bukan menjadi sarana bagi bertambahnya keimanan, perbaikan kualitas dan kuantitas ibadah, serta peningkatan akhlaqul karimah kita. Bisa jadi, pasca Ramadhan kelak, kita malah menjadi lebih lalai, lebih jahil dan lebih tidak tenteram dibandingkan masa-masa sebelumnya. Na`udzubillah.

Untuk itu, mari kita sisihkan waktu dalam sepuluh hari terakhir ini untuk ber-i`tikaf. Bila tak mampu i`tikaf mulai ba`da isya hingga ba`da subuh, sebagaimana pendapat jumhur ulama, upayakan untuk bangun tengah malam lantas berangkat i`tikaf ke masjid sehingga ba`da subuh. Bila masih tak mampu mengikuti secara penuh sepuluh hari, hendaknya kita ber-i`tikaf pada malam-malam ganjil yang kemungkinan besar didalamnya terdapat pahala seribu bulan. Semoga dengan usaha paling sederhana itu kita masih bisa meraih Lailatul Qadr, mengikut ketentuan hadits dari Abu Dzar r.a. yaitu : “Bahwasanya Rasulullah SAW melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25) dan dua puluh tujuh (27). Dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja.” (Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Risalah Ramadhan, Darul Wathan, Riyadh, Rajab 1418 H). Jadikan itu standar minimal i`tikaf kita. Jangan sampai kita tidak menjemput Lailatul Qadr sama sekali. (aea)

***





Kemurahan Allah Di Bulan Ramadhan

12 09 2009

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah memuliakan semua hamba-Nya. Kemuliaan dilimpahkan oleh Allah ke atas langit dunia, tinggal menunggu siapa-siapa yang sudi meraihnya. Siapa yang mau berusaha menggapai rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, tentu bisa menggenggam kemuliaan itu.

Baik muslimin maupun muslimah sama-sama berpeluang meraih segala keutamaan Ramadhan. Kendati kaum Hawa lebih banyak bergiat di rumah daripada kaum Adam, sesungguhnya tak ada beda pahala yang disediakan Allah bagi keduanya. Meski terkadang para muslimah harus batal shaum karena `kedatangan tamu`, tetap saja tak mengurangi jamuan Allah di bulan yang suci ini. Pahala mereka ketika meng-qadha shaum Ramadhan-nya yang terpaksa batal, sama saja dengan pahala yang disediakan Allah pada syahrur-ramadhan, padahal qadha shaum itu tentunya dilakukan diluar Ramadhan. Malah pada hakikatnya pahala tersebut bisa berlipat-ganda, bila `kedatangan tamu` itu membuatnya ridha dan tidak berkeluh kesah, menjadi iri terhadap kaum lelaki atau sesama jenisnya yang ditakdirkan belum atau tidak `kedatangan tamu.`

Sesungguhnya Allah telah memudahkan kaum Hawa, dalam beribadah kepada Allah dan melayani kaum kerabatnya selama bulan Ramadhan. Pahalanya bisa berlipat-lipat, dan caranyapun sudah sangat disederhanakan, menurut ketentuan dalam Al Qur`an maupun hadits. Setidaknya untuk urusan persiapan buka dan sahur, untuk urusan i`tikaf pada sepuluh hari terakhir, peluang muslimah untuk meraih pahala lebih besar, sedang teknisnyapun lebih mudah ketimbang syarat yang harus dipenuhi oleh setiap lelaki muslim.

Untuk perkara buka shaum ataupun sahur, para ibu atau istri, pada khususnya, menjadi andalan suami dan anak-anaknya. Tugas mereka adalah menyediakan, menyiapkan, memasakkan hidangan untuk suami dan anak-anak, untuk buka shaum ataupun bersantap sahur. Ganjaran Allah untuk para ibu dan para istri yang sigap menyiapkan penganan untuk mereka yang berpuasa itu, termaktub dalam hadits yang di-shahih-kan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Baihaqi. Bunyi haditsnya adalah : Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang didalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi (sebab) ampunan dari dosa-dosanya, dan pembebasan dirinya dari api neraka.” Sedang syarat mendapat pahala yang dimaksud dalam hadits ini cukup dengan memberi sebutir kurma, bisa dibayangkan betapa besar pahala yang dilimpahkan oleh Allah terhadap kaum perempuan, yang biasanya berupaya menyediakan hidangan buka shaum dan santap sahur yang lebih istimewa, ketimbang bulan-bulan diluar Ramadhan.

Untuk urusan i`tikaf pada sepuluh hari terakhir, kaum wanita cukup melakukan ibadah di mushola atau tempat ia biasa shalat didalam rumahnya. Di tempat ia biasa shalat dan bermunajat kepada Allah itu, kaum Hawa disunnahkan untuk memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur`an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do`a dan sebagainya. Meskipun begitu, bukan berarti seorang muslimah tidak boleh ber-i`tikaf di masjid.
Ketentuan i`tikaf di mushola rumah itu tidak berlaku bagi kaum pria. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mencontohkan, menyimak penyebab batalnya i`tikaf, yaitu : “Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan.”(Panduan I`tikaf, Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia, Jepang), maka kaum pria dikatakan sedang ber-i`tikaf disaat ia berdiam di masjid, bukan dalam mushola rumah. Bila kaum Hawa bisa meraih pahala seribu bulan cukup dengan ber-i`tikaf dalam mushola rumahnya, maka kaum Adam mesti melakukan i`tikaf di masjid untuk mendapatkan malam lailatul qadr. Demikianlah ketentuannya.

Kesempatan ibadah, peluang partisipasi serta janji ganjaran yang Allah limpahkan terhadap kaum Hawa di bulan Ramadhan ini, nyata sedemikian besarnya. Dari ganjaran untuk persiapan ifthar dan kemudahan kaum Hawa dalam mendapatkan `malam seribu bulan`, nyata betapa Maha Pemurah-Nya Allah, khususnya terhadap kaum perempuan. Semoga ukhti-ukhti sudi merenungkan hikmah dibalik kemurahan-Nya itu, serta makin bersemangat dalam meraih keutamaan-keutamaan ibadah lainnya.

***





Memilih Teman Di Bulan Ramadhan

9 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

Ramadhan adalah momen untuk menguji kejelian kita dalam menjalin pertemanan atau persahabatan. Persahabatan adalah satu diantara banyak hal yang bisa memengaruhi serta memotivasi diri kita, dalam perlombaan meraih rahmat beserta maghfirah dari Allah `Azza wa jalla, yang begitu berlimpah dalam bulan suci ini.

Selama satu bulan penuh selama ramadhan, setiap malam Rasulullah SAW dikunjungi malaikat Jibril. Interaksi antara utusan Allah dan pemuka para malaikat itu berlangsung lebih intensif ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Dalam pertemuan mereka di setiap malam-malam ramadhan, Rasulullah SAW membacakan ayat demi ayat Qur`an, memperdengarkan bacaannya kepada Jibril a.s. Begitu pula dengan Jibril. Iapun melantunkan ayat demi ayat kalamullah kepada Rasulullah SAW, sebelum kemudian mereka berembug soal makna ayat per ayat yang baru saja dibacakan.

Selain mengingatkan kepada kita untuk lebih erat berinteraksi dengan Al Qur`an, kedekatan Rasulullah SAW dan Jibril a.s. menjadi pelajaran bagi kita, bahwasanya kita memerlukan seorang teman yang bisa memotivasi diri dalam beribadah. Terutama dalam ramadhan ini.

Rasulullah SAW memilih berteman dengan Jibril a.s. selama ramadhan, semata-mata untuk menangguk pelajaran dan pengetahuan dari sang teman, agar batinnya selama ramadhan lebih terbuka dalam menerima hikmah, dari ayat-ayat suci yang dibahas dan dilantunkan. Beliau jadikan Jibril a.s. sebagai pemotivasi, beliau jadikan persahabatan dan interaksi intim itu sebagai sarana menuju rahmat Allah SWT.

Sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkan, kitapun mesti pandai-pandai memilih teman atau orang yang dekat dengan kita, selama bulan ramadhan ini. Pilihlah teman terbaik yang mempunyai keinginan kuar, bertekad bulat menjadikan ramadhan tahun ini sebagai “ramadhan best of the best”, atau ramadhan paling prestatif sepanjang hidup. Kita akan terpacu meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, jika berteman dengan orang yang memiliki nilai baik dan frekwensi ibadah tinggi. Allah SWT akan menggolongkan kita sebagai umat beriman yang ia bangga-banggakan, dihadapan para penghuni langit atau penduduk surga.

Sebaliknya, jika kita memilih berteman dengan orang yang tidak mempunyai cita-cita mulia, didalam bulan yang barokah ini. Alih-alih makin rajin beribadah atau makin menjaga kualitas shaum dan tarawih kita, teman yang jahil malah akan menyeret kita jauh dari nilai-nilai ramadhan. Ketika kita shaum di siang hari, digodanya kita untuk memandang aurat atau tontonan yang diharamkan. Ketika kita hendak tarawih dibujuknya kita untuk memilih pergi ke tempat bersenang-senang. Meskipun kita bersikeras untuk bertahan, satu-dua kali kita pasti bakal terbujuk, jika interaksi kita dengan orang-orang jahil sudah sedemikian intensif dan dekat. Disaat kita merasa diri berhasil menjalani ramadhan-pun, kita cenderung lebih dekat kepada sikap tinggi hati, padahal sebenarnya kita hanya menjadi `yang terbaik` diantara `yang terburuk`.

Rasulullah SAW mengumpamakan teman kita sebagai seorang pedagang parfum atau seorang pandai besi. Kalau berteman dengan pandai besi, lama-lama bara dari tanur pengapiannya malah memerciki pakaian, jelaganya juga akan mengotori raut wajah kita. Amsal dari sabda beliau tersebut adalah : baik-buruknya diri ini tergantung dari siapa yang menjadi teman dekat kita. Bila dikaitkan dengan bulan ramadhan, baik-buruknya kualitas ibadah, tinggi-rendahnya standar shaum dan ibadah lainnya, tergantung dengan siapa diri kita berlomba meraih rahmat dan mengundang ampunan Allah tersebut. Pertanyaannya : apakah kita cukup puas menjadi `yang terbaik` diantara `yang terburuk`, atau baru puas setelah menjadi `yang terbaik` diantara `yang terbaik` ?
***





Menjadi Insan Istiqamah

6 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

‘Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu
dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu
dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya dia Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.’
(Q.S. Hud ayat 112)

Banyak kisah yang menceritakan bagaimana seseorang yang tadinya kufur namun diujung hayatnya menjadi seorang mukmin. Banyak pula kisah yang menceritakan bagaimana seseorang yang tadinya mukmin, menjadi kufur saat menemui ajal. Kisah demi kisah tersebut memberi hikmah dan pelajaran bagi mereka yang berakal, tidak hanya tentang kemungkinan iman yang naik turun, namun juga betapa hidayah merupakan harta yang memerlukan penjagaan dan pemeliharaan. Seorang yang terbiasa taat harus menjaga ketaatannya, dan seorang yang ingkar harus segera memutar haluan dari jalan kesesatan, serta menjaga kebenaran yang telah ia genggam sampai ajal memutuskan. Bila seseorang berhasil menjaga dan memelihara ketaatannya hingga akhir usia, maka ia berhak menemui akhir yang baik, atau : husnul khatimah. Maka sebelum menemui husnul khatimah, sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar aman dan berada dalam keselamatan kekal.

Ikhtiar menjaga dan memelihara islam, iman dan ihsan dengan tujuan mencapai husnul khatimah, perlu didukung oleh suatu sifat yang dinamakan : istiqamah. Sufyan bin Abdillah RA, pernah mendengar betapa Nabi SAW sangat mementingkan keistiqamahan setelah iman, tatkala sahabat tersebut bertanya,”Wahai, Rasulullah, ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau.” Untuk menjawab pertanyaan Sufyan, Nabi SAW menjawab dengan tegas,“Ucapkanlah ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!’“(H.R. Muslim). Ketegasan beliau saat berbicara soal keistiqamahan ini dikarenakan betapa beratnya menunaikan perkara tersebut. Bahkan dalam suatu hadits diungkapkan, betapa beratnya Nabi SAW dalam memikirkan soal keistiqamahan, sampai-sampai rambut beliau banyak yang memutih. “Mengapa begitu ya Rasulullah ?”tanya Umar bin Khatthab RA, saat melihat perubahan pada warna rambut junjungannya. Nabi SAW menjawab,”Surat Hud telah membuatku beruban.” Dan ketika ditanya lagi tentang ayat yang mana dari Surat Hud yang membuat rambutnya memutih, Nabi SAW menjawab lagi,”Yaitu firman Allah Swt., ‘Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.’” (Q.S. Hud ayat 112)

Istiqamah menjadi suatu perkara sulit, mengingat hati manusia itu senantiasa berbolak-balik, antara keimanan dan kekufuran, antara ketaatan dan keingkaran. Pada setiap fase kehidupan, hati atau iman seseorang tak bisa terlepas dari apa yang dinamakan ujian. Ditambah lagi, perintah Nabi SAW agar kaum muslimin dapat terus dan selalu meningkatkan kualitas islam, iman dan ihsannya, dari waktu ke waktu. Perintah itu secara tak langsung dapat tersimak lewat sabda beliau berkenaan dengan hubungan waktu dan nasib seorang hamba. Suatu saat Nabi SAW pernah bersabda,”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” Dari hadits tersebut dan uraian sebelumnya saja, kaum muslimin diingatkan dengan tegas bahwa, tiada pilihan bagi keberuntungannya selain dengan, istiqamah berikhtiar meningkatkan kualitas ketaatannya selama mengarungi kehidupan.

Kendati berat, bahkan menurut seseorang yang sekaliber Nabi SAW, kaum muslimin tetap perlu mengetahui dan mengamalkan beberapa kiat agar bisa istiqamah menjaga sekaligus meningkatkan kualitas islam, iman dan ihsannya. Menurut Ustadz Yusuf Hazim, seorang pengasuh Pondok Pesantren KH Zaenal Mustofa, Tasikmalaya, kiat-kiat mencapai istiqamah itu terdiri dari : muraqabah, mu’ahadah, muhasabah, mu’aqabah dan mujahadah.

Dalil bagi perintah ber-muraqabah tercantum dalam Al Qur’an surat Al-Hadiid ayat 4, yaitu :”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Melalui firman-Nya tersebut, tersirat betapa Maha Besar kekuasaan-Nya, betapa Maha Luas jangkauan pengawasan-Nya. Seorang muslim yang mukmin, yang mampu menghayati ayat ini kelak akan menjadi seorang muhsin, yaitu manusia yang dihiasi Allah dengan sifat ihsan. Ciri dari sifat ihsan itu adalah : beribadah, melaksanakan amalan mahdhah dan ghayr mahdhah, dengan meyakini bahwa Allah tak pernah lepas dari mengawasinya.

Read the rest of this entry »





Awalnya Adalah Basmalah

5 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

Dimulakan dengan bismillah
Disudahi dengan alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah mudahan dirahmati Allah
(Bismillah, Raihan)

Dalam lirik nasyid berjudul “Bismillah” buah karya kumpulan Raihan diatas, terbetik dengan jelas sebuah nasehat bahwasanya, setiap perbuatan yang diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah, berada dalam naungan rahmat Allah. Dengan mengucap basmalah pada awal dan mengucap hamdalah pada akhir aktivitas, seorang muslim menyerahkan proses dan hasil dari amalan-amalannya kepada kasih sayang Allah. Seorang kolumnis muslim, Abu Mushlih Ari Wahyudi mengungkapkan, hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan mengucap basmalah adalah demi, mencari keberkahan bagi perbuatan lewat melisankannya. Selain itu, demikian sang kolumnis mengutip dari Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat-nya Syaikh Shalih Al-Fauzan, dalam lafal basmalah juga terkandung kalimat permohonan, ungkapan kebutuhan, akan pertolongan Allah ‘azza wa jalla.

Bila diterjemahkan, lafal basmalah atau “bismillaahirrahmaanirrahiim” mempunyai arti : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Dalam lafal tersebut terkandung dua sifat Allah yang termasuk dalam Al-Asmaul Husna, yaitu : Ar-Rahman dan Ar-rahiim. Ibnu Jarir pernah mengatakan,”As-Surri bin Yahya bercerita kepada saya bahwa Usman bin Zufar mendengar Al-‘Azrami menjelaskan tentang Ar-Rahman dan Ar-Rahiim.” Al-‘Azrami menjelaskan kepada Usman bin Zufar bahwasanya,”Dia (Allah) adalah Ar-Rahman dengan segala ciptaan-Nya dan Ar-Rahiim dengan siapapun yang beriman kepada-Nya.” Dengan Ar-Rahman Allah mengasihi semua ciptaan-Nya, baik mereka yang beriman maupun kafir, baik mereka yang ingkar maupun taat. Namun tak seperti Ar-Rahman yang berlaku tanpa pandang bulu, mereka yang kafir dan ingkar tidak berhak mendapatkan Ar-Rahiim-Nya dalam kehidupan akhirat nanti. Ar-Rahim itu khusus dperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman saja, sehingga jelas nyata perbedaan keuntungan antara kaum mukminin dan kaum kafirin.

Perintah untuk mengucapkan basmalah ada termuat dalam Al Qur’an. Salah satu firman-Nya yang paling populer dikalangan umat muslim, terkait perintah melisankan basmalah setiap mengawali kegiatan itu, tercantum pada surat Al–‘Alaq ayat 1. Terjemahan ayat tersebut yaitu : “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan”. Al-Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyammi menafsirkan, dalam ayat yang termuat dalam surat Al-Qur’an yang pertama diturunkan itu, Allah memerintahkan secara langsung kepada Nabi SAW dan tak langsung kepada umat beliau, agar membaca dan mengawali bacaannya dengan basmalah. Disamping dalil atau nash Al-Qur’an tentang basmalah, dalil-dalil yang berlandaskan pada As-Sunnah atau hadits Nabi SAW-pun banyak macamnya. Diantara hadits-hadits yang memuat perintah agar umat muslim mengawali kegiatan dengan basmalah adalah hadits dari ‘Aisyah binti Abu Bakar RA, yang termuat dalam kitab Sunan Abu Dawud. Dalam hadits termaksud Nabi SAW bersabda,“Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Allah. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: “Dengan nama Allah di awal dan di akhir.’”

Ismail bin Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir mengutip sabda Nabi SAW bahwa,”Setiap perbuatan yang diawali dengan menyebut nama Allah (membaca) Bismillaahirrahmaanirrahiim- adalah terputus (dari berkah atau rahmat-Nya).” Secara tak langsung hadits yang dikutip oleh Ismail bin Katsir itu menjelaskan, jika seseorang mengucapkan basmalah pada setiap mengawali aktivitasnya, maka Allah akan menyambungkan keberkahan dan rahmat terhadap dirinya. Untuk mempertegas makna daripada pernyataan dalam hadits tersebut, Allah juga telah berfirman lewat hadits qudsi yang bunyinya,”Basmalah untuk-Mu dan umat-Mu, suruhlah mereka bila memohon sesuatu dengan Basmalah. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap matapun sejak Basmalah diturunkan kepada Adam.”

Bila melalui uraian tentang lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahiim dalam basmalah, kaum muslimin diingatkan bahwasanya Allah sedemikian mengistimewakan orang yang beriman, maka melalui sebuah hadits-nya Nabi SAW menjelaskan bagaimana cara Allah mengistimewakan kaum mukminin itu secara konkret. Dalam hadits yang termuat pada kitab Jamius-Shahih halaman 6419, sahabat Anas RA mendengar Nabi SAW bersabda,”Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Allah. Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’”

Amsal dari hadits yang dianggap shahih oleh Bukhari-Muslim diatas, yaitu : dengan memberinya petunjuk, Allah menuntun pelisan basmalah agar bisa membedakan mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan ; dengan mencukupinya, Allah menjamin pelisan basmalah selalu terpenuhi kebutuhan jasmani maupun ruhaninya ; dan dengan memeliharanya, Allah menjamin pelisan basmalah agar senantiasa ada dalam limpahan berkah, rahmat, hidayah dan nikmat-Nya. Tiga keutamaan yang diperuntukkan bagi kaum mukminin itu, tidak hanya sekadar berlaku di dunia dalam serba kefanaan, melainkan berlaku pula di akhirat dengan serba keabadiannya. Maka dengan mengucapkan basmalah, memahami makna, mengetahui keutamaan-keutamaan yang terkandung didalam lafadz-nya, setiap muslim yang beriman hendaknya selalu mengupayakan sinkronisasi antara hajat dunia dan akhirat, dari awal hingga akhir aktivitasnya. Jangan sampai mengutamakan salah satu hajat diatas hajat lainnya, agar Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Nya senantiasa mengiringi perjalanan dari alam fana menuju alam baka kelak. Wallahu a’lam bish shawab.





Relasi Bencana dan Kerusakan Hutan

5 09 2009

oleh Abang Eddy A

Secara etimologis, hutan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta, berarti kumpulan rapat pepohonan dan berbagai tumbuhan lainnya dalam suatu wilayah tertentu. Hutan adalah habitat bermacam spesies tumbuhan, spesies hewan, beberapa kelompok etnik manusia, yang berinteraksi satu sama lain, sekaligus dengan lingkungan sekitarnya. Hutan tidak hanya bermanfaat bagi spesies hewan, spesies tumbuhan, atau kelompok etnik tertentu yang meninggalinya saja. Setidaknya ada tiga manfaat hutan yang berpengaruh global terhadap bumi sebagai habitat yang lebih luas. Tiga manfaat tersebut adalah : hutan sebagai tempat resapan air ; hutan sebagai payung raksasa ; hutan sebagai paru-paru dunia ; dan hutan sebagai wadah kebutuhan primer.

Sebagai tempat resapan air, hutan merupakan daerah penahan dan area resapan air yang efektif. Banyaknya lapisan humus yang berpori-pori dan banyaknya akar yang berfungsi menahan tanah, mengotimalkan fungsi hutan sebagai area penahan dan resapan air tersebut. Kerusakan hutan bisa menyebabkan terganggunya fungsi hutan sebagai penahan air. Daerah dan habitat sekitar hutan yang rusak itupun sewaktu-waktu bisa ditenggelamkan banjir. Selain itu, kerusakan hutanpun akan membuat fungsi hutan sebagai area resapan terganggu. Ketiadaan area resapan ini bisa menimbulkan kelangkaan air yang bersih dan higienis, atau air siap pakai.

Selain fungsinya sebagai tempat resapan air, hutan berfungsi pula sebagai ‘payung raksasa’. Rapatnya jarak antara tetumbuhan satu dengan tumbuhan lainnya, juga rata-rata tinggi pohon di segenap lokasinya, berguna untuk melindungi permukaan tanah dari derasnya air hujan. Tanpa ‘payung raksasa’ ini, lahan gembur yang menerima curah hujan tinggi lambat laun akan terkikis dan mengalami erosi. Maka, dengan begitu, daerah-daerah sekitarnyapun akan rentan terhadap bahaya longsor.

Jika manfaat hutan sebagai daerah resapan terkait dengan keseimbangan kondisi air, bila fungsinya sebagai ‘payung raksasa’ terkait dengan kondisi tanah permukaan, maka sebagai ‘paru-paru dunia’ hutanpun ‘bertanggung-jawab’ atas keseimbangan suhu dan iklim. Kemampuan hutan hujan dalam menyerap karbondioksida, membuat suhu dan iklim di bumi selalu seimbang. Seandainya fungsi hutan sebagai ‘paru-paru-nya dunia’ itu terganggu, suhu dan iklim di bumi akan selalu bergerak ke titik ekstrem : kadang temperaturnya terlalu rendah, kadang temperaturnya bisa terlalu tinggi.

Karena hutan kaya akan hasil bumi, hutanpun menyimpan manfaat bagi manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan pokoknya. Rotan, madu, tanaman obat-obatan, dan banyak jenis sumber hayati lainnya, membuat hutan pantas dijuluki sebagai ‘warung hidup’ atau ‘apotek hidup’ besar. Dengan hutan hujan tropis yang sangat luas, rakyat Indonesia seharusnya tercukupi dalam hal kebutuhan pokok, terutama oleh sumber nabati dan hewani yang banyak terdapat didalam hutannya.
***
Melihat lokasinya, hutan bumi terbagi dalam tiga kelompok besar : hutan tropis, hutan subtropis (temperate), dan hutan boreal. Brazil dan Indonesia adalah negara dengan hektaran hutan tropis terluas di dunia. Luas lahan hutan Indonesia sendiri adalah 140,3 juta Ha, dengan rincian : 30,8 juta Ha hutan lindung ; 18,8 juta Ha cagar alam dan taman nasional ; 64,3 juta Ha hutan produksi ; 26,6 juta Ha hutan yang dialokasikan untuk dikonversi menjadi lahan pertanian, perumahan, transmigrasi dan lain sebagainya. Dari data dan rincian tersebut, berarti sekitar 54% dari total luas daratan negara kita adalah hutan.

Kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memperhatikan manfaat hutan sebagai sumber komoditi, ketimbang fungsi keberadaannya sebagai penjaga kondisi dan penyeimbang suhu serta iklim bumi secara global. Aktivitas eksploitasi tanpa perencanaan atau penanggulangan atas kerusakan hutan yang digarap, menyebabkan Indonesia kehilangan jutaan hektar lahan hutan setiap tahun. Data di Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup menunjukkan, akibat kebakaran dan penebangan, baik legal maupun illegal, telah membuat hutan kita berkurang sebanyak 1,87 juta hektar per tahun. Bahkan, lahan hutan diperkirakan habis sama sekali, dalam kurun waktu 50 tahun lagi.

Dampak pengabaian keberadaan hutan sebagai daerah penahan dan resapan air, bisa dilihat pada peristiwa banjir yang melanda beberapa Kabupaten, Propinsi Kalimantan, baru-baru ini. Banjir hebat yang meliputi : Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, dan Kabupaten Kapuas Hulu, ditengarai akibat kerusakan hutan di Pegunungan Meratus. Dampak pengabaian keberadaan hutan kota sebagai daerah penahan dan resapan airpun, bisa dilihat pada banjir besar yang menimpa ibukota beberapa tahun belakangan ini. Meskipun hutan kota secara luas lebih kecil dari hutan-hutan yang ada di pedalaman, namun fungsi keberadaannyapun tidak kalah vitalnya.

Konon banyak hutan resapan air sekitar Jakarta yang telah berubah fungsi menjadi Real Estate, kompleks perkantoran atau apartemen, dan pusat perbelanjaan megah. Titik-titik resapan yang diubah fungsinya itu diantaranya adalah : kawasan Puncak, Cipayung, Bogor, dan Depok. Pengerasan tanah akibat pendirian gedung-gedung perkantoran, kompleks perumahan, lapangan parkir di bekas daerah hutan pegunungan tersebut, memberikan andil besar atas terjadinya banjir di kawasan Jabotabek. Tanpa area resapan dan penahan air yang mumpuni, terjadi ketidakseimbangan sistem input dan output air tanah di Jakarta dan sekitarnya. Karena ketidakseimbangan itu, air hujan yang deras mengguyur kota mengalir langsung sebagai air permukaan. Air bah itu akan berkelok-kelok di sekujur selokan, lalu meluapkan sungai di daerah-daerah tertentu, sehingga akhirnya mengalir ke laut.

Pengabaian masyarakat terhadap manfaat hutan sebagai ‘payung raksasa’-pun telah membuat berbagai daerah di Indonesia mengalami musibah longsor. Salah satu contoh tragis adalah musibah longsor yang terjadi di Pulau Nias, tahun 2001, empat tahun yang lalu. Musibah banjir dan longsor yang menelan puluhan korban jiwa dan ratusan rumah penduduk itu, ternyata disebabkan oleh rusaknya 95.000 hektar hutan di hulu Sungai Masio, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Padahal, menurut Gubernur Propinsi Sumatera Utara ketika itu, tidak ada izin yang dikeluarkan untuk mengeksploitasi hutan yang menjadi daerah tangkapan air dan daerah aliran sungai (DAS) Sungai Masio. Menurutnya, kawasan yang meliputi hutan lindung dan hutan produksi itu mengalami kerusakan berat oleh ulah para penebang liar.

Jika dampak yang ditimbulkan oleh karena pengabaian terhadap dua fungsi hutan yang dipaparkan diatas scope-nya masih tergolong lokal, maka pengabaian masyarakat terhadap fungsi hutan sebagai ‘paru-paru’ dunia menimbulkan dampak global yang sungguh-sungguh memprihatinkan. Bagaimana tidak ? Sebab kerusakan hutan hujan tropika Indonesia yang termasuk terluas di dunia itu, iklim dan suhu bumi akan bergerak diantara titik-titik ekstrem, zat karbon menjadi tidak ternetralisir, dan bahkan eksesnya bisa sampai memicu badai global di seantero dunia. Badai global tersebut dipicu dari ketiadaan ‘media alamiah’ (hutan) yang bisa menyerap gas karbon dioksida. Sehingga, jumlah karbon menjadi tidak seimbang, dan gas karbon dioksida pada atmosfirpun tidak bisa dikonversi menjadi gas oksigen yang mencukupi bagi bumi.

Karena sifat gas karbon yang bisa mengurung panas (seperti rumah kaca), maka suhu atmosfir bumi terus naik sampai ke titik panas yang ekstrem. Terjadilah pergeseran arus gelombang panas di laut yang kemudian memicu terjadinya perubahan tekanan, yang lalu menimbulkan angin besar (badai). Tak hanya sampai disitu, kenaikan suhu atmosfir bumi itupun bisa menimbulkan banjir besar di berbagai kawasan, karena salju di kutub ataupun salju abadi yang meliputi puncak-puncak gunung tertentu terus mencair.
***
Dari paparan sederhana yang coba mengupas relasi antara kerusakan hutan dengan berbagai bencana yang terjadi tidak hanya di Indonesia, tempat kerusakan hutan parah itu ditemui, bisa ditarik kesimpulan bahwa perlakuan manusia terhadap alam mengandung dampak lokal sekaligus memicu pengaruh global. Pengetahuan orang per orang berkenaan dengan kesinambungan hubungan antara kejadian bencana dan aktivitas pengrusakan hutan, seharusnya memancing kesadaran semua pihak untuk ‘tatap-tanggap-sigap’ memerangi segala bentuk pengrusakan hutan atau lingkungan secara umum.

Disamping kesadaran akan pentingnya kelestarian hutan, alangkah bermanfaatnya jika semua kalangan mulai bergerak aktif melakukan gerak penghijauan. Sebetulnya tidak sulit, jika gerak dan ruang lingkup bisa disederhanakan oleh pihak-pihak yang mulai tersadar dan tergerak. Pertama-tama, setiap orang bisa mulai mencari dan menanami lahan kosong yang tersedia disekitar rumah tinggal. Upaya yang sepertinya kecil itu, sesungguhnya memiliki manfaat besar bagi pengadaan pohon, sebagai media alamiah penyerap karbon. “Setiap tanaman niscaya bisa menjadi mesin konversi yang dapat mengubah gas karbon dioksida menjadi gas oksigen yang bermanfaat untuk manusia. Jika pohon makin banyak niscaya kapasitas mesin konversi itu makin besar. Jadi, kita tak perlu berbuat terlalu jauh yaitu memperbaiki hutan tropis yang rusak. Tapi cobalah membuat “hutan tropis” kecil di sekitar lingkungan kita.” tulis Nyoto Santoso, salah seorang staf pengajar Fakultas Kehutanan IPB Bogor, dalam artikelnya “Badai Global Dan Hutan Tropis.”





Hakikat Ikhtiar Di Bulan Suci

4 09 2009

Adakah sore, malam, atau dinihari yang lebih ramai daripada sore, malam dan diniharinya bulan ramadhan ?

Bagi penulis, buat mereka yang bertinggal di negara-negara dengan mayoritas Islam, tentu saja tak ada sore, malam atau dinihari yang semeriah sore, malam, diniharinya bulan ramadhan.

Sore, umumnya kita berkeliaran ngabuburit atau luru sore, sekadar menunggu maghrib. Malam, kita berbuka bersama lantas melewatkan malam dengan tarawih. Dan dinihari, yang sunyi senyap di bulan-bulan lainnya, justru menjadi saat yang begitu hidup di bulan Ramadhan. Sebagian kita melakukan tradisi gerebeg sahur di waktu tersebut- ada yang ramai-ramai berkeliling kampung untuk membangunkan warga ; ada juga yang sekadar berkoar-koar dari corong masjid, lengkap dengan sirene atau suara-suara apa pun untuk membangunkan warga sekitar.

Tak pelak, kemeriahan itu ikut berdampak pula pada dinamika kegiatan perekonomian suatu negeri. Orang-orang lebih giat berbisnis dan bekerja di bulan ramadhan. Ramadhan di Indonesia dan negara dengan penduduk mayoritas Islam biasanya sering dihubungkan dengan melejitnya daya beli dan meningkatnya perilaku konsumtif masyarakat terhadap barang ataupun jasa.

Di Indonesia, selain dipengaruhi oleh upaya keras dalam bisnis, melejitnya daya beli tergantung pada jumlah Tunjangan Hari Raya (THR) yang biasa dialokasikan pemerintah/perusahaan swasta bagi para pegawai. Peningkatan daya beli kemudian terjadi hampir dalam semua sektor, mulai urusan sandang, pangan, transportasi dan pariwisata. Akibatnya, tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada bulan ini, disebabkan oleh begitu konsumtifnya masyarakat terhadap barang/jasa.

Dalam artikel di surat kabar Republika, Ekonomi Ramadhan, yang ditulis oleh Muhammad Syafi`i Antonio, fenomena di atas dicirikan dengan menjamurnya para pedagang musiman yang menjajakan berbagai komoditas mulai dari makanan hingga pakaian, di ruang-ruang publik terutama di pinggir jalan. Belum lagi, maraknya penyelenggaraan bazaar baik yang disponsori oleh pemerintah, swasta, organisasi maupun lembaga swadaya masyarakat tertentu.

Ikhtiar keras dalam memeriahkan ramadhan itu kemudian sering membuat sebagian kita terlena. Menjadi lalai atau lupa akan tujuan daripada shaum, tarawih atau tadarrus yang disunahkan Nabi SAW. Menjadi lupa, bahwa di bulan yang penuh keutamaan ini, ada momen nuzulul qur`an dan lailatul qadr- dua momen yang menjanjikan puncak kenikmatan beribadah, yang hanya bisa disentuh melalui penghayatan dan ruhaniah yang bersih. Titik inilah yang sering tak mampu kita capai, sebab memang pribadi lebih cenderung pada sekadar pemenuhan hasrat jasmaniah daripada memenuhi bisikan ruhaniah.

Ramadhan datang dan pergi silih berganti. Tapi kita tak pernah beranjak, dari kualitas Islam menjadi iman, dari kualitas iman menjadi ihsan, sebab kecenderungan ikhtiar kita memeriahkan ramadhan, yang masih cenderung disemangati oleh hasrat jasmaniah daripada fitrah ruhaniah.

***
Dalam sebuah pembekalan di bulan sya`ban lalu, kyai pengasuh sebuah pesantren tradisional yang berlokasi dekat rumah penulis menyampaikan, kunci sukses Ramadhan adalah kesanggupan seluruh indera kita dalam mengendalikan hasrat jasmaniah. Jasmani itu cenderung pada pemuasan keinginan, sementara ruhaniah itu cenderung pada pemenuhan kebutuhan.

Salah satu cara untuk menyeimbangkan dan mengendalikan hasrat jasmaniah dan ruhaniah sebagaimana pemaparan di atas adalah : kita bekerja dengan niat memenuhi kebutuhan sekaligus meningkatkan nilai ibadah, lewat peningkatan kualitas ibadah mahdhah dan ghayr mahdhah. Entah dia seorang pegawai, profesional atau pedagang, hendaknya ikhtiar keras yang dilakukan dalam bulan Ramadhan ini, selain untuk menafkahi diri dan keluarganya, juga diniatkan agar bisa beribadah lebih tenang, atau bersedekah lebih banyak dan konsisten daripada bulan-bulan sebelumnya.

Pada hakikatnya setiap ikhtiar keras itu ditunaikan, agar hajat hidup tercukupi dan kebutuhan jasmaniah terpenuhi. Tercukupinya hajat hidup dan kebutuhan jasmaniah disebabkan ikhtiar keras dan jujur itu akan membuat kita tenang dan leluasa, dalam beribadah kepada Allah SWT. Inilah hakikat daripada ikhtiar demi kebaikan dunia dan akhirat. Sesuatu yang sering kita mohonkan dalam do`a sapu jagat : “Rabbana aatinaa fid-dunya hasanah, wa fil aakhiirati hasanah,…dst”- dan proses pembelajarannya dilakukan serta menjiwai setiap rangkaian ibadah dalam kemeriahan bulan Ramadhan, setiap tahunnya.

Cara pandang terhadap upaya atau ikhtiar yang dipaparkan sebelumnyalah yang hendaknya menjadi framing bagi kita, dalam memeriahkan bulan-bulan selain atau setelah Ramadhan. Bisnis kita bukan sekadar mengejar laba dan memperkaya diri, tetapi ditujukan untuk membuat diri dan keluarga tenang menjalani hidup dalam naungan rutinitas ibadah dan taat kepada Allah, sebab hasil usaha yang berkah dan ikhtiar yang penuh semangat. Wallahu a`lam bish shawab.

***





Jalan Kampung Suatu Maghrib

2 09 2009

Senin sore itu, saya terpaksa pulang lebih malam. Lebih lambat dari kawan-kawan kantor, karena proses penayangan artikel yang lama. Inilah dilema jurnalis dunia maya. Ketika teks telah siap, tiba-tiba kecepatan jaringan internet berkurang, melemah dan akhirnya lambat sama sekali. Untuk membuka sistem manajemen konten butuh waktu 5 sampai 7 menit. Bila dijumlahkan, waktu mengganti artikel bisa memakan waktu 20 menit per satu artikel. Betul-betul menyiksa. Mengingat saya seharusnya sudah bisa pulang 20 menit lebih awal, jika kecepatan jaringan sedang normal.

Saya keluar dari pintu kantor lima belas menit menjelang shalat maghrib. Seharusnya, saat lima belas menit menjelang maghrib itu saya sudah menghirup bau rumah, rangkuman aroma masakan untuk makan malam, sabun mandi anak saya, dan harum tanah basah di kebun kecil rumah kami. Tapi apa boleh buat. Lima belas menit menjelang maghrib itu saya baru saja mengawali sebuah perjalanan pulang. Perjalanan yang juga seharusnya cepat dan tenteram, jika saja tidak ada kemacetan dan ulah pengendara mobil-motor yang seperti dikejar hantu. Melihat ulah mereka saya berbaik-sangka saja : “Mungkin takut ketinggalan maghrib berjamaah.”

Langit yang gelap dan penat yang sangat, membuat saya menyingkir dari jalanan sibuk, yang biasa saya lalui setiap pulang. Didepan mulai tampak tanda-tanda kemacetan, sedang dari langit mulai turun setitik-dua titik air hujan. Cukup alasan bagi saya untuk mengambil jalan pintas lewat perkampungan, meski sebenarnya bukan malah menyingkat jarak. Tapi setidaknya, lewat jalan kampung pasti terhindar dari macet, dan ketika hujan bisa berteduh di dangau atau warung kopi, yang tentu lebih nyaman keadaannya daripada berlindung di pelataran toserba pinggir jalan- menunggu hujan reda sambil memandang botol plastik, kotak minuman dan kadang veses atau bangkai tikus mengalir ke tengah jalan. Sungguh menjijikkan.

Singkat cerita, setelah beberapa saat menikmati suasana kampung yang lengang menunggu maghrib, hujan akhirnya turun menemani perjalanan pulang sore itu. Jalan desa yang dinaungi dedaunan rimbun, yang menjulur dari tangkai pohon besar di kiri-kanan jalan, membuat hujan deras itu tidak begitu menyulitkan saya. Dengan jaket lapis mantel hujan saya terus menyusuri jalan kampung. Saya bersyukur dan merasa beruntung telah memutuskan untuk lewat di jalan yang sangat sepi itu.

Hujan turun kian deras. Kalau mengikuti hitungan jam, semestinya saya bisa sampai ke rumah lima belas menit lagi, karena separuh jalan kampung itu telah habis saya lalui. Setelah jalan kampung ini, saya tinggal menyeberangi jalan raya lalu masuk ke gang lokasi tempat tinggal. Hati yang kecut karena gelegar petir yang terus sahut-menyahut, dingin yang menyusup karena air mulai tembus ke lapisan terakhir mantel hujan, jadi sedikit tak terasa. “Santai saja. Sebentar juga sampai ke rumah.”bisik batin saya.

Sedang asyik-asyiknya melancar, ketika jarum kecepatan motor melewati angka 60, tiba-tiba motor saya oleng sukar dikendalikan. Untung bukan kali itu saja saya mengalami kejadian serupa, sehingga saya bisa mengendalikan laju motor dengan mantap. Beberapa detik saya terlambat, bisa-bisa saya dan Gorgom-julukan motor saya, dijuluki demikian oleh montir langganan karena jarang sekali dicuci- menyeruak kebun singkong di pinggir jalan. Dulu, jaman pertama kali belajar motor, saya dan Gorgom pernah dua kali menggerus perkebunan dan tanaman milik orang. Pertama, waktu saya dan Gorgom ‘berselancar’ di perkebunan teh. Kedua, waktu saya dan Gorgom melakukan ‘terjun bebas’ di sawah belakang komplek. Alhamdulillah, senin sore itu saya dan Gorgom tidak sampai mencetak rekor baru.

Di pinggir jalan kampung itu, dibawah hujan yang masih deras menyiram, saya memeriksa apa penyebab dari olengnya motor saya tadi. Kalau dalam dua peristiwa sebelumnya olengnya motor disebabkan oleh terlalu cepat di belokan tajam, maka dalam peristiwa ketiga ini penyebabnya adalah ban belakang yang bocor. Inna lillaahi…kepala paku beton tampak tersembul dekat bagian pentil, ketika saya menjamah ban motor yang kempes total.

Setelah saya mencabut paku yang menancap dalam itu, dibawah air hujan yang turun dan kini betul-betul merembes ke seluruh tubuh, saya berjalan menuntun motor. Seandainya saja saya belum kawin, tidak punya tujuan rumah yang hangat dengan senyum istri dan canda anak, pasti rasanya pahit betul perasaan di sore nan gelap dan lembab itu. Sambil berjalan, mengatur nafas, saya berharap bisa cepat menemukan tukang tambal ban. Diantara kecipak langkah sendiri yang dirasa mulai berat sayapun bergumam : semoga anakda tercinta, Si Abang yang sedang demam dan menunggu-nunggu ayahnya di rumah, dikaruniai kesembuhan oleh Allah dan tidak gelisah atau panas seperti malam sebelumnya.

Ah, sudahlah. Saya harus melupakan bau rumah untuk sementara. Saya harus cepat-cepat mencari kios tambal ban, yang kalau tidak salah ada di ‘lima menit’ menjelang jalan raya, masih bagian dari jalan kampung ini. Singkat kata, sayapun bergegas menuntun motor ke arah depan, menyibak hujan yang mulai meriah ditingkahi suara gelegar petir yang menciutkan nyali.

+++

“Tambal Ban Uca.” Papan nama kios tambal ban yang saya tuju lamat-lamat terlihat di arah depan, setelah hampir setengah jam berjalan menuntun Gorgom. Kaki yang pegal seperti mendapat tenaga baru. Kaki yang beku berbalut sepatu gunung itu terus melangkah, berderap, diantara air yang membanjiri jalan sampai semata kaki. Cruk, crak, cruk, crak, sampai akhirnya tiba di tempat penambalan ban. Yang empunya bengkel mendongak sedikit, meninggalkan motor lain yang sedang ditambal, lalu membantu saya menaikkan motor. Untuk sesaat saya menghela nafas lega, lantas duduk bertiga, berderet, menonton kecekatan tangan Pak Uca (kalau melihat papan namanya mungkin saja namanya Uca), bersama pasangan dua-sejoli yang datang lebih dulu, yang mimiknya tampak tak rela atas keberadaan saya. Hmm, lagi asyik dempet-dempetan begitu ada yang nimbrung, pastilah sedikit gondok. “Maaf juragan, kalau tidak kempes ban saya tidak akan duduk di bangku ini.”cetus saya dalam hati, setelah mengucap istighfar, karena tak sengaja menatap terlalu lama si perempuan muda, yang bajunya basah ketat kena rembes air hujan. Pantas, yang laki-laki kelihatan seperti ’kucing melihat ikan tawes.’

Hujan reda dan Pak Uca telah selesai menambal ban motor pasangan ‘kucing’ dan ‘ikan tawes’ itu. Saya semakin lega saat Pak Uca menghampiri dan mulai melihat-lihat ban motor saya yang kempes. Dia ambil ember besar, perkakas, kaleng aspal dan tungku pemanas ke dekat motor saya. Aneh. ‘Kucing’ dan ‘ikan tawes’ itu malah mengobrol, bukannya cepat-cepat mengambil motor dan membayar ongkos tambal ban kepada Pak Uca. Untuk beberapa lama mereka tampak sedikit berdebat. Lama-lama, sang ‘kucing’ datang menghampiri Pak Uca, sambil mengulurkan sesuatu berbentuk dompet tipis, mirip-mirip kantong sarung Atlas, yang kemudian saya ingat bahwa itulah wadah SIM dan STNK. Karena, ada lambang kepolisian RI pada bagian sampulnya.

“Maaf, Pak. Saya tidak bawa uang. Inilah untuk jaminan.”

Pak Uca tampak terkesima. Sejurus lewat, wajah yang tadinya tenang, dengan air muka damai itu berubah keruh seperti warna air got.

“Tidak usah. Gampanglah. Nanti saja, Dik.”jawab Pak Uca. Kata-katanya memang halus. Tapi cara dia menampik menampakkan bahwa tukang tambal ban setengah baya ini kesal luar biasa. Wah, ikut tak enak juga saya, menyaksikan perangai Pak Uca. Tapi, lebih terkejut dan sebal menyaksikan ‘kucing’ pemilik motor itu yang langsung menurunkan penyangga motor sambil berkata, “Terima kasih, Pak,” lalu berlalu membawa ‘ikan tawes’-nya.

Duh, sangat tidak empatik dan kurang sopan sikap pasangan anak muda itu. Berlalu begitu saja sambil cengengesan, berboncengan mesra tanpa beban, dihadapan Pak Uca yang sudah capek-capek tapi belum lunas dibayar keringatnya. Mungkin mereka memang tak sengaja, mungkin memang betul-betul tidak bawa uang. Tapi, bukankah lebih baik mereka jaga sikap, jangan terlalu menunjukkan perasaan merdeka, saat berlalu dari hadapan kami.

Pak Uca kembali pada pekerjaannya menghadapi ban motor yang bocor. Ia susuri ban luar bagian dalam dengan tangannya yang sudah menonjolkan urat-urat ketuaan. Rupa-rupanya, ia lupa memeriksa ban dalam yang sudah sobek, sebab biasanya tukang tambal memeriksa bagian itu lebih dulu. Saya yang terkesima oleh kejadian sebelumnya juga lupa memberi informasi, bahwa ban dalam saya tadi ditembus paku beton secara telak.

“Den, sudah sobek ban dalamnya juga. Harus diganti sepertinya.”ujar Pak Uca kepada saya, ketika ia tersadar dan memeriksa ban dalam si Gorgom.

Raut Pak Uca saat menyapa saya sudah kembali seperti semula : tenang dan santun. Saya kemudian memintanya untuk memilihkan salah satu merk ban dalam, biar ban dalam yang robek itu lekas diganti saja. Sejurus kemudian Pak Uca masuk kedalam jongko, mengambil tiga buah kotak ban dalam dan memberikan semuanya kepada saya.

“Ini 19.000, Den. Yang ini 21.000 dan yang ini 25.000. Sudah sama harga pasang, Den.”jelas Pak Uca sambil mengatakan, ban dalam dengan harga 19.000 dan 21.000 sama saja kualitasnya. Dan ban dalam yang harganya 25.000 jelas terjamin dan paling bagus kualitasnya. Paling unggul dari yang dua sebelumnya.

“Ini saja, Pak Uca.”ucap saya sambil memilih kotak ban dalam seharga Rp.25.000

Pak Uca mengangguk dan segera menuruti apa keinginan saya. Sambil membaca koran sore yang menggeletak begitu saja di meja dalam kios, saya menunggui Pak Uca bekerja dengan sabar. Pasang ban dalam baru lebih cepat dari menambal ban yang lama. Hanya 10 menit, pekerjaan Pak Uca sudah kelar dan saya siap untuk kembali menyelesaikan seperempat jalan kampung, seberangi jalan, dan sampailah kedalam rumah.

Enteng saja saya mengulurkan uang kepada Pak Uca, dua puluh lima ribu rupiah jumlahnya. Alangkah tertegunnya saya, karena saat Pak Uca menerima lembaran uang Rp.25.000 itu, ia lantas mengucapkan syukur dengan terbata-bata, sedang tangannya yang kanan memegang punggung tangan kiri saya.

“Alhamdulillah. Akhirnya, akhirnya dapat rejeki juga bapak hari ini.”ucapnya dengan wajah penuh syukur, dan mata merah berusaha menahan tangis.

“Lho, kenapa, Pak ?” tanya saya yang memang tak habis pikir, kenapa Pak Uca sampai bisa sedramatis itu.

“Eh, si Aden ini. Dari pagi saya belum istirahat menambal ban. Tapi, rata-rata yang datang tak punya uang, lupa bawa dompet.”jelas Pak Uca tersendat-sendat.”Mau marah percuma, sabar juga hampir saja tidak bisa bapak ini. Mmh, Den. Terima kasih banyak.”

“Lho, tidak usah berterimakasih pada saya, Pak. Kan ini buruh pekerjaan, Pak Uca.”jawab saya yang agak sedikit grogi.”Kalau mau juga saya yang terima kasih. Kalau kios Pak Uca tutup, wah, saya bisa semaput jalan sampai depan.”

“Ah, alhamdulillah.”gumamnya sambil memasukkan lembar uang 20.000-an dan 5.000-an ke kantong baju. Sepertinya, dia tidak mendengar apa yang saya katakan tadi.”Semoga lebih besar lagi rejekinya,Den,”ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.

“Yah, saya pamit dulu, Pak Uca.”sayapun bersegera pamit.

“Hahaha ! Aden ini. Nama saya bukan Uca, Den. Nama saya Pardi. Uca itu nama cucu saya.”ucap Pak Uca eh Pak Pardi, sambil menghampiri saya, menepuk-nepuk pundak saya, dan berpesan agar saya berhati-hati.

“Ya, Assalamu’alaikum, Pak.”saya pamit untuk terakhir kali, meluncur deras menghabiskan seperempat jalan kampung ini.

+++

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan, betapa Pak Pardi mensyukuri nikmat rejeki yang dikaruniakan Allah itu. Padahal, barangkali laba jual-pasang ban dalam itu paling banter lima ribu rupiah saja. Ekspresi Pak Pardi itu sangat berkesan buat saya, kendati saya juga prihatin, sebab di jaman sekarang ternyata cari uang itu sulitnya minta ampun. Entah berapa motor yang menawarkan jaminan STNK, KTP, SIM atau mungkin surat nikah yang dilayani Pak Pardi hari ini. Sampai kemudian, saya dan Gorgom datang ke kiosnya dan dianggap sebagai malaikat yang ditunggu-tunggu. Ah, malaikat apa pula saya ini. Kalau malaikat, ya pasti tahu namanya Pardi bukan Uca.

“Lain kali, jangan sembarang panggil nama orang. Lebih baik panggil mas, mbak, ibu atau bapak saja. Bikin malu ibu saja kamu.”Terngiang lagi nasehat orangtua, yang diucapkan semasa saya SMA dulu. Ketika itu, saya dengan seenaknya memanggil nama pemilik warung “Sinyo”, warung baru di daerah rumah kami, dengan panggilan Bu Sinyo. Sang empunya warung tertawa terbahak-bahak lantas berkata kepada ibu : “Nama suami saya bukan Sinyo, Bu. Anak ibu jangan panggil saya Bu Sinyo, ah. Lucu banget kedengarannya…”

Maghrib itu saya lupakan semua penderitaan, ketika saya menuntun motor diantara deras hujan yang menyiram sekujur jalanan kampung, dan penderitaan sebelumnya : ganti artikel yang lambat, jalanan yang macet, ban dalam yang bocor dan badan yang nyaris beku karena dingin. Pengalaman di kios tambal ban telah mengajarkan kepada saya, bagaimana mengenali nikmat meraih sesuatu, nikmat mencapai sesuatu, nikmat mendapat rejeki yang sejati. Kedatangan saya di rumah disambut Si Abang yang sudah reda panasnya, dan suaranya sudah tidak seserak ketika saya pergi pagi hari. Duh, nikmat sekali rejeki kesembuhan yang Allah berikan terhadap anak saya, rejeki penghasilan yang Allah berikan kepada Pak Pardi, dan terhadap hamba-Nya yang sempat putus asa padahal, terselamatkan dari kecelakaan memalukan : melabrak kebun singkong di pinggir jalan kampung. Sayang, saya shalat maghrib agak terlambat, pada senin sore itu. (aea)





Pro Kontra Rekayasa Genetika

2 09 2009

Publikasi penemuan bidang sains dan teknologi sering menimbulkan polemik di kalangan masyarakat dunia. Sejak jaman pra-sejarah hingga renaissance, sejak jaman renaissance hingga periode post-modern, polemik seputar penemuan bidang sains dan teknologi selalu memancing perdebatan sengit, dus, suara pro dan kontra yang keras dan meluas, terutama di negara-negara tempat penelitian ilmiah tersebut dilakukan.

Pada awal abad 16, para pendeta Protestan mengecam keras Nicholas Copernicus, yang meyakini bahwasanya bumi dan planet-planet lainnya mengelilingi matahari -bukan sebaliknya, sebagaimana bunyi teori Ptolemaic yang berlaku umum ketika itu. Di awal abad 17, ketika Gereja Katholik mencanangkan gerakan Kontra Reformasi (gerakan kembali kepada kitab suci), semua karya tulis Copernicus diberangus, dimasukkan ke dalam daftar hitam, orang dilarang untuk membacanya. Dan jauh setelah Copernicus tiada, tepatnya tahun 1839, saat patungnya diresmikan di salah satu pojok utama kota Warsawa, Polandia, tak satupun dari pendeta Katholik yang sudi memberikan pemberkatan.

Menguatkan pendapat Copernicus, pada tahun 1632, Galilei Galileo mengumumkan kesimpulan serupa : bumi hanya salah satu diantara banyak planet yang mengitari matahari. Ensiklopedi “1001 Tokoh Penemu Paling Berjasa Bagi Umat Manusia” suntingan Iwan Gayo mengemukakan bahwa pendapat Galileo tersebut, bertentangan dengan kaidah “Benda Langit Yang Sempurna” dari Aristotles, yang berlaku umum di Eropa pada abad ke 17, semasa Galileo hidup. Vatikanpun bereaksi. Paus menuduh scientist kelahiran Pisa, Italia itu telah menyerangnya secara pribadi lewat karya tulisnya : “Dialogue Concerning the Two Chief World Systems: Ptolemaic and Copernican.” Pasca pernyataan Imam Besar Katholik sedunia itu, Galileo kemudian dikenai hukuman tahanan rumah seumur hidup.

***

Menjelang New Millenium, dunia dikejutkan oleh ditemukannya sebuah cara baru dalam hal proses berkembang-biaknya mahluk hidup. Proses kembang biak yang dikenal dengan istilah Kloning itu dinyatakan bisa menghasilkan anakan yang persis sama dengan induknya secara a-seksual (tanpa melalui pembuahan). Adalah Professor Jerry L. Hall, yang pertama berhasil melakukan percobaan Kloning. Konon, peneliti dari Washington University ini pernah membelah embrio manusia menjadi beberapa bagian, sampai masing-masing bagian tersebut berhasil dibiakkan menjadi embrio yang sama. Menyusul kemudian : Dr. Tim Cohen dari Inggris. Ia ditengarai berhasil “membantu” Maureen Ott melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Emma Ott, setelah sebelumnya melalui proses pengkloningan.

Disaat Dr. Ian Walmut, Direktur Tim Roslin Institute, mempublikasikan keberhasilannya dalam mengkloning sel kelenjar susu domba ras dorset asal Finlandia menjadi seekor domba normal, polemik yang sebelumnya hanya riak-riak kecil saja, berubah meluap ke permukaan. Polemik mengenai teknologi kloning itu semakin bertambah panas, ketika Dr. Martine Nijs, peneliti medik asal Belgia, mengaku telah berhasil mengkloning bocah kembar sejak tahun 1993. Menurut Nijs, ketika ia mempublikasikan hal tersebut, tepat pada 9 Maret 1997, klon bocah kembar itu masih terus mengalami masa pertumbuhan.

Seperti yang terjadi pada Copernicus dan Galileo, reaksi masyarakat dunia begitu keras menyoroti dampak, serta mempertanyakan etika teknologi rekayasa genetika. Mayoritas masyarakat dunia memandang ide tersebut sebagai sesuatu yang buruk, rubbish, dan mencampuri wilayah otoritas Tuhan. “Teknologi kloning memperlihatkan betapa kita sudah kehilangan rasa hormat kepada makhluk hidup,”ujar Paus Yohannes Paulus II dalam The Washington Post. “Ada banyak makhluk hidup yang perlu dihormati, bukan hanya digunakan untuk memuaskan nafsu tertentu saja,” tambah Douglas Bruce, direktur Church Of Scotland, yang berlokasi di propinsi tempat diumumkannya penemuan domba kloning Dolly. Dan di Amerika Serikat, Gereja Katholik Detroit,  mengeluarkan press release dalam The Detroit News. “Manusia diciptakan dari citra Tuhan. Dan kloning hendak mengotorinya,” tulis pernyataan itu.

Sesaat setelah Gereja Vatikan Roma mengeluarkan kecaman atas upaya pengkloningan manusia yang marak dilakukan di negara-negara maju pasca publikasi Dr. Ian Walmut, opini masyarakat barat, khususnya Amerika dan Eropa, menunjukkan sentimen negatif. Hampir 90 % responden majalah Time, Newsweek, BBC, atau CNN Television, menabukan rekayasa genetika.  Masyarakat duniapun masih tetap apriori terhadap teknologi kloning ini, kendati Advanced Cell Tecnology (ACT) Inc. dari Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat, dalam percobaannya berhasil membiakkan sel tunas (sel stem) menjadi sel tertentu pengganti jaringan tubuh yang rusak sebab penyakit kronis. Meskipun pihak perusahaan bioteknologi itu berusaha meyakinkan masyarakat luas bahwasanya teknologi kloning bisa berguna untuk theurapeutic ( proses penyembuhan penyakit), dunia tetap memandang sinis terhadap ide rekayasa genetika tersebut.

***

Dari kalangan cendekiawan ataupun ulama-ulama dunia Islam, sikap kontra terhadap teknologi kloning inipun sempat mengemuka. Rata-rata mereka mengkhawatirkan keruntuhan institusi perkawinan dan putusnya rantai keturunan, jika teknologi kloning ini dinyatakan halal untuk diterapkan. “Keberhasilan kloning manusia akan mengakibatkan sendi kehidupan keluarga menjadi terancam hilang atau hancur. Oleh karena manusia yang lahir melalui proses kloning tidak dikenal siapa ibu dan bapaknya, atau dia adalah percampuran antara dua wanita atau lebih. Sehingga, tak diketahui siapa ibunya, dan akan sulit dilacak keberadaan bapaknya, ketika anak hasil pengkloningan itu membutuhkan salah satu dari figur ayah atau ibu, ataupun figur keduanya. Dan kalau itu berulang terus, maka bagaimana kita dapat membedakan seseorang dari yang lain, yang juga mengambil bentuk dan rupa yang sama ?” ujar Syaikh Muhammad Ali al-Juzu, seorang Mufti kelahiran Lebanon yang beraliran Islam Sunni. Syaikh Farid Washil yang kini bermukim di Kairo, Mesir, memang mendukung ide kloning untuk penyediaan organ tubuh bagi mereka yang membutuhkan. Namun, ia juga menegaskan bahwa : “Kloning sebagai jalan keluar dari kemandulan jelas tidak bisa dibenarkan. Lagipula, kloning reproduksi manusia bertentangan dengan empat dari lima Maqashid asy-Syar’iah, yaitu : pemeliharaan jiwa, akal, keturunan, dan agama.”

Disamping pendapat yang menentang, ada juga sebagian ulama dan kaum cendekiawan yang sangat antusias mendukung diterapkannya teknologi kloning. Salah satunya adalah Sayyid Muhammad Hasan Al-Amin. “Kalau kita berandai kloning diterapkan pada manusia, maka menurut hemat saya ia merupakan suatu keberhasilan yang besar dan agung untuk kemaslahatan manusia. Pandangan agama secara umum dalam hal ini sejalan dengan pandangan agama terhadap semua keberhasilan ilmiah yang besar dan yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Kita harus membedakan sisi moral, sosial, dan kemanusiaan dengan pandangan agama menyangkut teori ilmiah tentang kloning.”ujarnya. ”Agama tidak mungkin mengharamkan atau melarang ditemukannya satu teori ilmiah baru yang dapat mengantar kepada pengungkapan rahasia dari sekian banyak rahasia kehidupan, manusia, dan alam raya. Sebaliknya pun demikian. Karena, agama mengundang manusia untuk berpikir, mengamati, menganalisis, dan mengambil kesimpulan.” tambah ulama yang juga Hakim Agung di Mahkamah Tinggi al-Ja’fariyah Lebanon itu.

***

Hampir sepuluh tahun dunia berpolemik soal teknologi kloning. Sampai dengan Oktober 2008 tahun lalu, sidang Komite VI Majelis Umum PBB belum juga menetapkan larangan terhadap pencangkokan sel pada manusia. Ada dua draft resolusi yang satu sama lain memiliki perbedaan yang sangat signifikan, berkenaan dengan batasan larangan pengembangan kloning. Delegasi Costa Rica mengajukan draft resolusi yang melarang seluruh bentuk kloning, baik untuk tujuan reproduksi atau untuk maksud kesehatan. Menurut delegasi-delegasi negara pendukung draft resolusi tersebut, therapeutic cloning tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara etika. Prediksi mereka : akan ada penyimpangan dalam pengembangan kloning yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya.  Lagipula, proses kloning tersebut hanya akan menguntungkan negara-negara besar saja.

Bertolak belakang dengan draft resolusi yang diajukan oleh delegasi Costa Rica, delegasi Belgia mengajukan draft resolusi yang mengijinkan kloning untuk maksud penelitian yang bakal berkontribusi untuk kesehatan (therapeutic cloning). Dengan pengawasan yang ketat, therapeutic cloning bisa dikembangkan demi menyelamatkan kehidupan manusia. “ Para penderita kanker, AIDS, parkinson, alzheimer bisa berharap banyak dari pengembangan kloning untuk maksud kesehatan.” demikian pendapat Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan.” Secara pribadi saya mendukung pengembangan therapeutic cloning.”ujarnya pula.

Menyimak berbagai polemik seputar teknologi kloning, ada kecenderungan mayoritas opini memberi dukungan pada pengembangan kloning untuk kesehatan (therapeutic cloning). Fatwa dari Majma’ Buhus Islamiyah Al-Azhar, yang berkedudukan di Kairo, Mesir, memberikan pengecualian untuk therapeutic cloning. Kendati fatwa yang ditanda-tangani oleh Syaikh Tanthawi itu kurang lebih berbunyi : ”kloning manusia itu haram dan harus diperangi serta dihalangi dengan berbagai cara.”, namun fatwa tersebut membedakan antara pengembangan kloning untuk maksud reproduksi pada manusia dengan pengembangan kloning untuk maksud pembaharuan terhadap organ tubuh manusia yang rusak. Jika kerusakan organ tubuh bisa diatasi dengan kloning,  maka dipersilahkan untuk menempuh prosedur tersebut. Sebab, fatwa itu menimbang : manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya.

Terlepas dari pro dan kontra seputar rekayasa genetik pada manusia yang populer dengan istilah kloning itu,  sampai saat ini, belum ada ilmuwan yang berhasil mengkloning primata -kloning yang dianggap bisa menjadi jembatan menuju kloning manusia-  yang paling dekat susunan genetiknya dengan manusia. Prof. Gerald Schatten dari Pittsburgh University mengemukakan bahwasanya belum terdapat kemajuan berarti dalam proses kloning primata, kendati upaya kloning primata ini telah diujikan pada 700 sel telur monyet selama periode enam tahun ini. “Teknik kloning yang digunakan saat ini memusnahkan unsur protein dalam sel telur primata. Waktu nukleus sel telur diangkat untuk diganti dengan DNA sel lain, protein kunci malah ikut terangkat. Padahal protein tersebut sangat dibutuhkan demi keberlangsungan hidup embrio.” ucap Prof. Gerald Schatten, seperti dikutip oleh Harian Kompas. Keterangan itu menjelaskan kematian domba Dolly- yang dianggap monumental dalam Today History Of Science- pada 14 Februari 2003, karena Lung Disease yang parah.  Metode kloning yang diterapkan oleh Dr. Ian Walnut ketika mengkloning Dolly, domba ras dorset Finlandia itu, ternyata malah membuat sel telur primata cacat. Itulah sebabnya, tidak ada hasil kloning yang berumur panjang, yang sehat seratus persen, dan tidak mengalami kerusakan genetik.  (red/aea)





Membuka Jalan Sedekah

2 09 2009

Bulan ramadhan melatih kepekaan sosial kita, melalui ibadah shaum yang kita kerjakan. Dalam haus dan lapar, kita diajak untuk menghayati penderitaan mereka yang kurang beruntung, tidak hidup dalam kebercukupan. Dengan berpuasa diharapkan kita bisa merasai betapa lapar itu tidak enak, haus itu demikian menyiksa. Sehingga diharapkan, kita yang berkemampuan mau berbagi ridzki dengan mereka yang papa, karena perasaaan empatik yang dirangsang melalui ibadah puasa.

Sikap nyata dari perasaan empatik kita adalah kedermawanan diri. Dan wujud kedermawanan diri itu tercetuskan lewat sedekah, yaitu segala ikhtiar yang kita lakukan hingga membawa manfaat moril dan materiil bagi sesama mahluk.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata : “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al Qur`an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al Qur`an. Rasulullah SAW ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dengan tambahan : “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.”

Mengapa Rasulullah SAW sedemikian bersemangat dalam kedermawanannya pada syahrur-Ramadhan ini ?

Pada bulan ramadhan Allah melimpahkan rahmat dan ampunan sedemikian banyak dan `dahsyat`-nya. Bagi para pencari surga, mereka yang rindu untuk tinggal bertetangga dengan Nabi-nya serta kangen menatap raut Sang Khaliq, bulan Ramadhan ini menjadi waktu kebebasan mereka dari api neraka. Mengingat Allah yang begitu Maha Pemurahnya di bulan yang suci ini, tentu menjadi pertanyaan, bila kita sebagai umat-Nya malah bersikap kebalikan. Sungguh tak tahu diri, jika kita yang lemah dan tak punya kuasa apapun tidak mau mendermakan sebagian milik, padahal segala yang kita miliki itu pada hakikatnya adalah kepunyaan Allah, bukan milik kita semata.

Bila apa-apa yang kita miliki adalah kepunyaan Allah, maka sungguh tak beralasan jika kita menggunakannya untuk meraih sesuatu yang malah menjauhkan kita dari-Nya. Akan lebih mulia diri ini, seandainya semua hak Allah itu kita kembalikan melalui, salah satunya, mengikuti perintah sedekah. Dengan bersedekah berarti kita telah membelanjakan sebagian ridzki kita di jalan Allah.

Manfaat sedekah itu hakikatnya diperuntukkan bagi diri kita juga. Pahalanya untuk kita, berguna sebagai bekal akhirat kita, apalagi dilakukan pada bulan dimana pahala amal perbuatan kita dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bila kita mengerti akan hal itu, kita akan mafhum, bahwa upaya sedekah kita bisa menjadi jalan bagi kebahagiaan tak hanya di akhirat saja, namun juga di dunia tempat kita hidup sekarang ini. Dengan sedekah kita akan memahami bahwa, `meraih` bukan dengan `mengambil` melainkan dengan `memberi.` Artinya, meraih dunia dan akhirat itu tidak hanya dengan menimbun harta, tapi memperbanyak sedekah dan membuka banyak jalan untuk menafkahkan rejeki di jalan Allah. Insya Allah.
***





Geliat Wirausaha Di Bulan Suci

29 08 2009

Jangan sekali-kali meragukan mental entrepreneur bangsa ini. Selalu banyak sarana dan kreatifitas masyarakat kita, dalam urusan mencari ridzki atau menambah penghasilan untuk menghidupi keluarga.

Saat badai krisis moneter membumi-hanguskan kehidupan perekonomian negeri, disaat pengusaha kalangan atas ketir-ketir dihantam gejolak tersebut, masyarakat menengah ke bawah Indonesia tampil dengan kreatifitas sendiri untuk menopang perekonomian negeri. Usaha-usaha kecil, industri-industri rumah tumbuh dan berkembang di mana-mana. Pasar-pasar kaget menjadi jadwal atau agenda minggu pagi dan ba`da jum`at. Dan tak terhitung lagi ragam kreatifiitas yang diunjukkan oleh masyarakat kita dalam rangka menghidupi diri dan menopang perekonomian negeri.

Di Bandung, kota tempat tinggal penulis, usaha-usaha rumahan hasil tempaan krisis moneter itu tumbuh bahkan mampu menjadi penggerak roda ekonomi kepariwisataan. Untuk industri makanan saja, Bandung mencatat banyak legenda hidup, semisal : Bolen Kartika Sari, Roti Bagelen, Gepuk Ny. Yong, Kripik Suseno dan Brownies Amanda. Untuk industri sandang, selain tenar karena factory outlet-nya, Bandung terkenal dengan sederet toko-toko distro, seperti : Board Rider, Ouval, Monik, Omuniuum, 347 atau Pro-Shop.

Momen-momen tertentu tak urung digunakan pula sebagai ajang jual-beli para entrepreneur kita. Pertemuan antara penjual dan pembeli dalam momen-momen tertentu itu dikenal dengan sebutan pasar kaget. Setidaknya, kita mengenal pasar kaget akhir pekan, pasar kaget ba`da jum`at dan pasar kaget ramadhan- pasar kaget yang digelar di tempat keramaian setiap menjelang berbuka puasa.

Pasar kaget ramadhan, seperti juga pasar dadakan lainnya, mencatat jumlah pengunjung yang fantastik. Segala jenis dagangan, terutama makanan jadi bakal buka shaum, disikat habis dan tak jarang membentuk antrian pembeli. Bintang pasar kaget di kota Bandung saat ini adalah : Sop Buah dan Es Shanghai. Coba saja lihat antrian pembeli jenis minuman segar ini, mulai dari pedagang yang mangkal di Alun-alun Bandung, Lapangan Gasibu depan Gedung Sate, Simpang Dago (ujung Jl.Ir.H Juanda) dan lokasi-lokasi pertokoan perumahan Real Estate. Saking padatnya pengunjung stand Sop Buah dan Es Shanghai, penulis yang di bulan-bulan selain ramadhan kerap mereguk minuman yang diracik dari berbagai jenis buah-buahan lezat dengan susu kental manis itu, mesti menunggu pesanan selesai sampai setengah jam.

***

Tak hanya mereka yang menggelar dagangan di tempat-tempat tertentu yang bisa ikut ambil bagian mendulang ridzki ramadhan. Dari pelosok-pelosok kampung dan kompleks perumahan, banyak ibu rumah tangga ikut ambil bagian dalam meraih berkah ridzki di bulan suci. Mereka berdagang sandang-pangan keperluan lebaran, tak jarang melibatkan pula suami dan anak-anaknya sebagai pemasar.

Bila di pasar kaget Sop Buah dan Es Shanghai menjadi idola pembeli, paket kue kering menjadi primadona para pelanggan ibu-ibu kita yang berkreasi dari dapurnya masing-masing itu. Paket berisi Kue Nastar, Kue Kacang Mede, Kue Keju, Cheese Stick, Kue Lidah Kucing, Kue Putri Salju dan lain-lain menjadi paket standar yang diburu pelanggan.

Riva Nafisa, ibu rumahtangga yang di hari-hari biasa mengasuh dua anaknya yang duduk di bangku SD, adalah salah satu produsen kue kering dadakan di bulan ramadhan kali ini. Meskipun bulan ramadhan baru berlangsung dalam hitungan jari, istri pegawai BUMN ini sudah memulai kesibukan membuat kue lebaran untuk Idul Fitri 1430 Hijriyah. Ordernya kebanyakan dari sejawat sang suami, tetangga kompleks, atau kalangan keluarga.

“Kalau deket lebaran bisa berabe, Mas.”ucap Ibu Riva yang telah memulai bisnisnya semenjak lebaran empat tahun lalu itu.”Keuntungannya lumayan. Bisa bantu mencukupi kebutuhan suami dan anak-anak, dan yang lebih penting, bisa nambah-nambah celengan bakal bekal di akhirat.” tambahnya lagi setengah berkelakar.

“Celengan akhirat ?”

“Iya, buat nambah-nambah sedekah dan ngasih ke orangtua dan sanak saudara.”jawab Ibu Riva dengan lugas, sembari menambahkan, bahwa keuntungan dari bisnis rumahtangga ini bisa menyentuh angka 3 Juta perak !

“Biasanya batur di rumah pun seneng kalau banyak pesanan dari mana-mana. Lumayan, pulang kampung mereka bisa dapet THR dobel.”tambah Ibu Riva yang dalam menangani pesanannya dibantu oleh dua orang pembantu rumahtangga.

***

Bila Ibu Riva Nafisa mempekerjakan dua orang pembantu rumahtangganya, maka lain halnya dengan Ibu Kania Banowati. Istri kepala sekolah menengah umum terkemuka di kota Bandung ini justru mengerahkan seluruh anggota keluarganya dalam mengelola pesanan kue kering dan basah.

“Anak-anak gadis saya bisa merangkap asisten pembuat kue sekaligus pemasarannya. Bapaknya juga aktif menyebar sample kue bikinan keluarga.”jelas Ibu Kania kepada penulis.

Hikmah yang didapat selain ridzki dalam bentuk material adalah bertambah kompaknya Ibu Kania dengan suami dan empat anak-anaknya (dua wanita, dua laki-laki). Anak gadisnya bisa mengisi waktu menunggu maghrib dengan belanja kue atau membantu sang ibu dalam proses pembuatan. Sebuah berkah yang dianggap luar biasa oleh Ibu Kania adalah sikap kedua anak lelakinya yang jauh dari gengsian, dalam membantu pemasaran kue bikinan sang ibu.

“Kalau anak-anak lain ngebut di track dadakan, anak lelaki saya ya ngebut sekeliling kompleks atau daerah yang nggak jauh dari sini, buat nyebarin sample dan nganvas pesanan.”

Ketika ditanya masalah ibadah selama bulan ramadhan, Ibu Kania mengaku bisa membagi waktu. Menurut dia, banyaknya kesibukan tidak menutup kemungkinan untuk menunaikan shalat tepat waktu. Justru waktu menjadi sedemikian efektif, dan lapar-dahaga menjadi tak kentara, waktu serasa cepat, sebab diisi dengan kegiatan yang positif.

“Kami ini biasa shalat tarawih bersama di rumah. Sepulang Bapaknya dan anak-anak dari shalat Isya` berjamaah, kami bersama-sama tarawih di mushola rumah. Habis itu, ya nongkrongin oven sama mixer lagi” jelas Ibu Kania, sambil menyodorkan sekantong kripik ceker, kacang mede, dan kue keju yang masih hangat.

“Sekalian promosi, Bang Edi.”

***

Kegairahan di pasar kaget dan semangat ibu-ibu untuk berlatih mandiri itu merupakan cermin, betapa rakyat masih antusias untuk menggerakkan hidup di negeri yang begitu carut-marut ini.

Hal tersebut merupakan cermin bagi sebagian kita yang belum tergerak atau kerap malas menjemput ridzki, bahwa ternyata banyak cara untuk meraih ridzki yang halal dan penuh berkah. Kita tinggal memperhitungkan waktu yang tepat, untuk unjuk apa pun keterampilan kita yang bisa digunakan dalam menggarap prospek bisnis. Dijamin, dengan kontinuitas dan kesabaran, sukses pun bisa kita gapai.

Pengalaman penulis dalam mengamati aktivitas usaha selama awal ramadhan ini pun memberikan pencerahan kepada penulis, bahwasanya Allah memang telah merancang banyak jalan untuk manusia agar sampai pada ridzki-Nya. Ya, tak hanya menuju Roma, ternyata banyak juga jalan menuju ridzki.

***





Pemimpin Yang Baik Adalah…

21 04 2009

Tahun 1998, saya tengah aktif-aktifnya mengikuti dinamika organisasi kampus. Sebagaimana lazimnya seorang aktivis, suatu saat ada keinginan terbetik di hati saya untuk tidak sekadar jadi seseorang yang bergiat secara taktis dan teknis. Saya punya keinginan untuk dapat bergiat secara strategis, yang mau tak mau hanya dapat diwujudkan jika saya menjadi pucuk pimpinan organisasi.

Sebelum menempati pucuk pimpinan organisasi itu saya mengikuti Diklat Kepengurusan. Banyak pementor berkelas yang menjadi pemateri Diklat tersebut. Dari mulai dosen, praktisi, guru besar, mantan menteri atau senior-senior organisasi, semuanya begitu antusias membagi-bagikan pengalaman serta ilmu, yang sungguh baru dan berharga bagi saya yang masih minim pengalaman saat itu. Diantara yang disampaikan pemateri-pemateri tersebut, terseliplah sebuah kata mutiara yang sampai saat ini masih tercetak dalam benak maupun notes merchandise Diklat, yang saya simpan rapi di lemari buku.”Syarat memimpin adalah mampu memengaruhi. Adapun pemimpin yang baik itu adalah yang mampu memengaruhi orang banyak sehingga tergerak berbuat baik,”demikian bunyi kata mutiara yang kini menjadi inspirasi saya, setiap kali diserahi amanah atau menawarkan diri untuk mengemban amanah, pada setiap kesempatan beraktivitas didalam suatu kelompok.

Kata-kata mutiara diataslah, yang saya sampaikan kepada seorang sahabat, tatkala dia ditawari amanah untuk memimpin Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebuah Partai Politik. Pada mulanya dia ragu dan malu, untuk maju dalam persaingan memperebutkan kursi strategis di DPD Partai. Dia juga merasa malu, karena menurut pemahamannya bila mengajukan diri dia akan sama seperti halnya seorang peminta-minta. Wah, menyaksikan potensinya dalam memengaruhi seseorang atau suatu kelompok, tentu saya menyayangkan jikalau dia enggan maju mengambil kesempatan yang ditawarkan langsung kepadanya itu. Maka, dengan pelan-pelan, dalam sebuah diskusi santai saya berkata kepadanya,”Kalau kamu ingin jadi pemimpin, tentu tidak ada salahnya. Asal niat kamu menjadi pemimpin yang baik, yaitu bisa memengaruhi seseorang atau kelompok kamu agar melakukan kebaikan.” Saya tambahi, bahwa kalau dia merasa dan orang-orang terdekat dia merasa dia bukan seseorang yang berpengaruh, maka sebaiknya dia tolak saja amanah untuk memimpin itu “mentah-mentah”.

Setelah menimbang-nimbang pendapat saya, kawan saya kemudian bersedia untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua DPD Partai. Sejak mula pencalonan, bakatnya memengaruhi orang-orang agar memilihnya begitu kentara mengemuka. Setidaknya, dalam pandangan saya, dia telah berhasil menjadi calon pemimpin yang baik, sebab cara-caranya memengaruhi orang lainpun melalui cara-cara yang baik. Dia mengemukakan janji-janji yang logis, tidak mengawang-awang, tidak kebanyakan, dan tidak sampai mengumbar janji yang muluk-muluk. Sering saya temui, banyak orang yang hendak menjadi pemimpin, tapi gagal diawal, gagal jadi calon pemimpin yang baik. Untuk urusan janji sering seenaknya mengumbar, bahkan untuk memengaruhi orang-orang agar mencalonkan atau memilih sampai-sampai harus menyuap alias memberikan sejumlah imbalan materi. Alhamdulillah. Kawan saya tidak melakukan hal-hal yang buruk, sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa disebut pemimpin yang baik, jika dalam memengaruhi orang lain agar memilihnya dia menggunakan cara-cara yang buruk.





Bekerja Untuk Kualitas Diri

17 04 2009

Yang dimaksud beruntung dalam bekerja, sukses dalam bisnis adalah andaikata dengan bekerja, kualitas pribadi kita semakin meningkat. Kekayaan yang hakiki itu bukan sesuatu yang ada di luar kita, namun kekayaan yang hakiki adalah pembentukan pribadi kita. Banyak terjadi, dimana seseorang yang sebelum naik pangkat memiliki akhlak yang baik, namun justru setelah naik pangkat akhlaknya menjadi buruk. Kalau begitu, apa artinya naik pangkat kalau pribadinya menjadi turun kualitasnya ?

Jendral Sudirman bisa menjadi salah satu contoh seseorang yang memiliki pribadi berkualitas. Kendati ia telah wafat, jasadnya sudah terkubur tanah, namun namanya tetap saja harum. Padahal tidak sedikit yang kini masih berpangkat namun mereka sudah dihina, dinista. Mengapa ? Karena tidak sebanding antara pangkat, jabatan dengan kualitas pribadinya.
Maka jangan terkecoh. Naik pangkat dan jabatan tidak selalu identik dengan naik kemuliaan, namun identik dengan naiknya cobaan. Jangan merasa bangga dengan naiknya jabatan atau kedudukan, karena belum tentu selamat dunia-akhirat. Tidak sedikit orang yang menjadi terhina sesudah naik jabatan, akibat kualitas pribadinya tidak meningkat.

Keberuntungan harus dikaitkan dengan perubahan untuk menjadi lebih baik. Nabi SAW mengisyaratkan, orang yang beruntung adalah “Man kaana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa raakihun” Barang siapa yang hari ini berubah menjadi lebih baik daripada hari kemarin, dialah orang yang beruntung.

Selayaknya kita pahami bahwa keuntungan dalam bekerja adalah ketika seorang pekerja atau pebisnis dapat bertambah ilmu, bertambah wawasan, dan bertambah pengalaman baru. Karena meskipun umurnya bertambah, namun pribadinya Insya Allah akan semakin berkualitas. Akhlak semakin mulia, iman bertambah kokoh, dan pribadi semakin cemerlang. Kemuliaan sesungguhnya bukan melekat pada pangkat, gelar atau jabatan, namun melekat pada pribadinya.





Takdir Adalah Penyempurna Rencana Manusia

13 03 2009

Pagi itu, tanggal 5 Desember 2008, Bandung diguyur hujan deras dimana-mana. Saya mau tak mau harus sudah berangkat pukul 6 Pagi, sesuai jadwal mengantar istri ke pool tempat mobil kantor yang akan membawanya ke Jakarta. Sejak pukul 4 Pagi, sebenarnya saya sudah terjaga. Tapi karena semenjak hari Sabtu tubuh dan akal ini belum istirahat penuh dari aktivitas, saya merasa lemah dan kecil hati menyaksikan halaman rumah yang basah total diguyur hujan.

Selesai shalat subuh, hujan belum juga reda. Bahkan setelah saya dan istri selesai berdandan, hujan yang turun masih tak terkira lebatnya. Andai saya memiliki mobil, tentu tak perlu terlalu mencemaskan hujan. Karena saya baru punya motor saja, maka saya dan istri cukup mencemaskan perjalanan menuju pool, yang kurang lebih akan memakan waktu 30 menit dari rumah itu. Terbayang sesampainya disana kami berdua bakal basah kuyup. Dan tentu saya lebih mencemaskan istri saya, takut jatuh sakit-minimal masuk angin- dalam perjalanan menuju Jakarta.

Melihat gelagat hujan yang belum juga akan reda, saya dan istri memutuskan untuk sarapan lebih dulu, sambil menunggu hujan berhenti. Jam 6 kurang 15 menit, saya dan istri menghadapi Gulai Sapi yang baru saja dipanaskan, ditambah segelas Teh Manis untuk menahan serbuah angin pagi dan udara dingin. Pukul 6 kurang 5 kami selesai santap pagi, dan saya langsung menyiapkan motor di teras rumah. Subhaanallaah. Baru beberapa saat saya memanaskan motor, hujan yang demikian deras tiba-tiba mereda sampai kemudian tinggal menyisakan basah dimana-mana. Saya dan istri saling berpandangan, sebelum kemudian secara bersamaan mengucapkan hamdalah. Kamipun segera meluncur menuju pool, menembus udara sejuk Cimahi menuju Kota Bandung.

“Tuh, Bang. Allah menyuruh kita sarapan dulu ya kayaknya…”ucap istri saya, waktu motor kami sampai di separuh perjalanan.

“Iya. Tadinya kita mau langsung aja, gak pake sarapan dulu.”jawab saya.

“Subhaanallaah. Allah tahu betul kalau Abang gampang masuk angin, kalau enggak sarapan. Allah juga ingat betul kalau saya ini suka migrain kalau enggak sarapan. Makanya, hujan tadi enggak reda-reda. Allah nyuruh kita sarapan dulu ya…”

Saya langsung teringat pesan Mas Amri, sehabis diskusi pendek dengan istri di atas motor, dalam perjalanan menuju pool kendaraan kantor. Iya, ya. Kita boleh saja punya rencana, tapi tetap saja rencana Allah-lah yang lebih baik. Mau cocok atau tidak cocok dengan perasaan kita, rencana Allah itu pasti jauh lebih baik, bagi siapapun yang bisa mengambil hikmah dibalik ketentuan-Nya. Kalau saya memaksakan rencana saya, mungkin saya dan istri bakal kerepotan menembus hujan, bahkan mungkin bisa tak enak badan, sebab melupakan sarapan. Tapi kalau ikut rincian perencanaan Allah, saya ternyata tetap bisa pergi tepat waktu, dan tidak lalai dari ikhtiar menjaga kondisi : sarapan sebelum beraktivitas.

“Dalam hidup ini kita mutlak harus punya rencana. Tapi saat ketentuan Allah tampak seperti sedikit atau banyak melenceng dari rencana kita, maka sesungguhnya itu adalah proses penyempurnaan terhadap rencana hamba-Nya.”demikian hikmah yang saya ambil dari kejadian pagi hari ini, yang sebenarnya pernah saya dapatkan juga selesai diskusi dengan Masrukhul Amri,MBA, sahabat saya yang Knowledge Entrepreneur itu.





Kondomisasi Bukan Solusi

11 02 2009

Sungguh janggal, ketika kita berbicara soal penumpasan HIV/AIDS, tanpa berbicara soal pengentasan free sex. Pandangan itu kurang lebih sama, dengan dasar pemikiran dari kritik yang dilontarkan Wapres Jusuf Kalla, terhadap kampanye aktivis HIV/AIDS yang lagi-lagi mensosialisasikan penggunaan kondom. Secara teknis, penggunaan kondom mungkin bisa meminimalisir resiko masuknya virus lewat hubungan seksual. Tapi perlu diingat, bahwa maraknya penggunaan kondom secara bebas, bisa pula memicu maraknya aktivitas seks bebas. Padahal, bila kita berpikir linear, maka maraknya free sex berarti terbukanya peluang bagi penyebaran virus HIV, dengan jangkauan yang lebih luas.
Kondomisasi yang dilakukan di negara-negara barat dalam perang terhadap AIDS tampaknya kurang relevan bila diterapkan di Indonesia, mengingat perbedaan kebiasaan dan budaya yang cukup signifikan diantara keduanya. Dalam urusan seksual barat berpijak kepada teori psikoanalisa Freud, sementara kita menganut cara-cara penyaluran hasrat seksual yang dipandu oleh nilai-nilai religius.
Menurut Freud, hasrat seksual boleh disalurkan kapan saja, kepada siapa saja, tak penting dia sudah menikah atau belum, mengingat seks merupakan kebutuhan yang secara naluriah menuntut dipenuhi secara segera. Terhadap masyarakat yang demikian, kondom bisa menjadi solusi, mengingat pengereman kebiasaan free-sex tersebut harus diminimalisir dengan cara paling cepat dan darurat. Seks sudah menjadi begitu mekanik, bukan sesuatu yang sifatnya sakral seperti dalam masyarakat kita, sehingga penggunaan kondom menjadi begitu penting dan urgensial dalam pengeliminasian bahaya virus HIV/AIDS pada masyarakat barat.
Dalam masyarakat kita yang dipandu nilai-nilai religi serta budaya timur, hubungan seks pra-nikah adalah tabu, dan hasrat penyalurannya bagi yang belum menikah dianjurkan diredam dengan puasa. Kalau dalam masyarakat barat kondom digunakan untuk mencegah kehamilan, digunakan demi kepentingan keamanan ketika melakukan hubungan kelamin secara bebas, maka dalam masyarakat islam kondom utamanya berfungsi sebagai alat pengatur jarak kehamilan. Jelasnya, kondom digunakan sebagai alat kontrasepsi untuk mengatur jarak kehamilan pada ibu hamil yang telah menikah, alat safety dalam hubungan seks ketika salah satu pasangan menderita infeksi genital tertentu, tapi ada juga sebagian yang mengharamkan dengan argumen : pernikahan adalah sarana pelestarian keturunan, sementara kondom justru mencegah kehamilan, yang sama artinya dengan menghalangi proses pelestarian tersebut.
Istilah kondomisasipun, tanpa maksud melecehkan pemahaman sebagian kalangan, bukanlah istilah yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Daripada kondomisasi, penjelasan soal bahaya seks bebaslah yang justru harus lebih banyak mencuat. Sehingga, kalangan yang beresiko terkena AIDS tidak menganggap bahwa, bukan karena hubungan seksnya seseorang bisa tertular, melainkan karena tidak menggunakan kondom.
Selain menampik isyu kondomisasi, menggantikannya dengan program rutin penyuluhan mengenai bahaya serta proses inkubasi virus HIV/AIDS serta penggalakan aktivitas ruhaniah, pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk memutus akses para pelaku seks bebas dan pecandu narkotik, sebagai kalangan yang rentan tertular virus HIV/AIDS, terhadap segala tempat maupun wadah yang memungkinkan terjadinya penyimpangan. Mau tak mau, perang terhadap AIDS berarti juga peninjauan ulang terhadap kebijakan lokalisasi kawasan seks komersial, serta pengawasan penuh departemen terkait, terhadap wadah atau organisasi yang selama ini menjadi penyalur aspirasi, atau wadah yang melegalkan perilaku penyimpangan seksual. Mengapa lokalisasi dan wadah ekpresi menyimpang itu dilegalkan, sementara kita sama-sama tahu, bahwasanya dari akses-akses dan komunitas tersebutlah penyakit AIDS lazimnya berasal ?





Menyembuhkan Penyakit Cinta Dunia

4 02 2009

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (Q.S. At-Taubah ayat 34-35).

Allah SWT sangat murka kepada mereka yang melakukan al-kanzu (perbuatan menimbun harta), sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya diatas. Namun sering kita salah memahami pandangan-Nya, berkenaan dengan urusan harta duniawi tersebut. Ada dari kita yang menduga, bahwa Islam melarang orang kaya, bahwa mengumpulkan harta itu tercela, saat baru membaca satu ayat itu saja. Banyak juga dari kita yang menganggap : kepapaan itu lebih terpuji daripada kebercukupan, dalam pandangan risalah agama yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ini.

Kebalikan dari al-kanzu adalah al- ‘afwu, yaitu menginfakkan apa yang berlebih dari kadar kebutuhan pribadi. “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.”firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 219. Dalam kitab Al Jami li Ahkam al Qur’an, Al Qurtubhi mengutip tafsir dari Imam Abdullah Bin Abbas, Imam Hasan Al Bashri dan Imam Qatadah bin Du’amah As-Sadusi, berkenaan dengan makna ayat tersebut. Tafsirnya adalah “Infakkanlah harta yang berlebihan dari kebutuhan-kebutuhan pribadimu, namun jangan sampai membuat dirimu menjadi merugi sehingga menjadi orang miskin.”

Read the rest of this entry »





Crying Money

28 01 2009

Dalam seminar bertajuk “Konferensi Menuju Indonesia Bebas Korupsi” di Universitas Indonesia beberapa tahun lampau, Prof. Emil Salim menyitir satu pengertian korupsi. ”Korupsi adalah perilaku mereka yang bekerja di sektor publik dan swasta, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri dan/atau memperkaya mereka yang berdekatan dengannya, atau merangsang orang lain berbuat serupa dengan menyalahgunakan kedudukan yang mereka emban.”demikian bunyi definisi termaksud. Pada definisi yang disempurnakan dalam kredo Bank Pembangunan Asia dari konsep Transparency International, sebuah LSM yang meliputi 60 negara dan mengkhususkan diri pada usaha pemberantasan korupsi di dunia itu, terkandung beberapa pengertian pokok. Pertama, pengertian pokok dari definisi tersebut yalah bahwasanya mereka yang terlibat korupsi terdapat dikalangan pemerintah (birokrat), swasta (pengusaha), lembaga politik (politisi). Dua, mereka yang tercantum dalam butir pertama berupaya memperkaya diri sendiri, memperkaya orang-orang yang ’dekat’ dengan mereka, atau merangsang orang lain untuk memperkaya diri. Memperkaya diri dalam pokok kedua ini, selain bisa berarti menumpuk harta, bisa juga berarti memupuk kekuasaan. Tiga, pokok yang terkandung dalam definisi korupsi dari konsep Transparency International adalah ketidakwajaran dan ketidaklegalan cara yang dipakai, misalnya dengan penyalahgunaan kedudukan oleh mereka-mereka yang termaksud dalam pokok pertama.

Sesuai kedudukan pelaku korupsi, nilai uang atau barang yang terlibat di dalamnya bisa bernominal kecil, dapat juga bernilai besar. Jika uang atau barang yang diberikan hanya sekedar bermakna “persenan”, yang diberikan ikhlas dengan bahasa ”tanda terima kasih”, maka uang/barang tersebut, menurut Prof. Emil Salim termasuk jenis ”Smiling Money”. Jika uang/barang yang terlibat ternyata disediakan atas dasar keterpaksaan- demi memenuhi prasyarat pelayanan, Prof. Emil Salim menggolongkan jenis uang atau barang tersebut sebagai ”Crying Money.” Dalam kasus Crying Money terdapat pihak penerima suap, yang memaksa pemberi suap atau calon pemberi suap agar menyerahkan sebentuk ‘upeti’, bagi kelancaran birokrasi. Bagi pihak penerima suap, baik suap berupa uang/barang dalam kasus Crying Money, faktor pembiayaan pekerjaan atau proyek akan terpecah kedalam tiga aspek perhitungan : perhitungan jangka pendek, jangka panjang, dan menurut kelakaran sunda- perhitungan ”jang-ka imah.” Secara etimologis ”jang-ka imah” dalam bahasa Indonesia memiliki arti : untuk ke rumah. Dalam sebuah Studium Generale yang pernah saya ikuti, seorang rekan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pernah membuat plesetan untuk kasus praktek Crying Money tersebut. Rekan mahasiswa itu memelesetkan akronim UUDP dan UYHD sebagai : ”uang untuk dibawa pulang” dan ”uang yang harus dibawa pulang.”

Read the rest of this entry »





Tiada Damai Tanpa Rahmat

28 01 2009

Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah fil ‘ardh atau khalifah di muka bumi (Q.S. 2 : 30). Manusia diperintahkan untuk mengelola alam yang fana ini, semata-mata untuk beribadah kepada-Nya (Q.S. 51 : 56), selain demi kemaslahatan alam dan umat manusia sendiri. Begitu besar kepercayaan Allah terhadap mahluknya yang bernama manusia. Bahkan malaikat yang tak lepas dari ibadah dan taat, bahkan iblis yang telah Dia ciptakan dari api membara, tak pernah sempat mengemban amanah sebesar itu. Bukan malaikat atau iblis, tapi manusialah yang diperintahkan Allah untuk menjadi penebar rahmat bagi sekalian alam.
Nabi Muhammad SAW diutus Allah tak lain untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam (Q.S. 21 : 107). Kita sebagai umatnya perlu mengikut contoh perilaku, ucapan dan perangai beliau, sebab Allah sendiri telah berfirman : “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu contoh ikutan (uswatun hasanah) yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. 33 : 21) Maka perintah Allah untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam, sekaligus berlaku pula untuk seluruh umatnya yang bersaksi : “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah.”
Tidak mudah bagi manusia untuk menjadi rahmat sekalian alam. Ada setan yang selalu menggoda untuk berbuat ingkar, sampai kesesatan itu menjadi ‘darah’, menjadi ‘daging’, dalam diri seorang anak manusia. Namun adakalanya pula manusia bersiteguh, selalu tegar dan istiqamah, mengikuti perintah dan menjauhi segala larangan Tuhannya. Dan ada diantara mereka pula yang kemudian bertobat, setelah diri berkubang dosa, sebab Allah melimpahkan hidayah setelah setan menggelincirkannya.

Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.