oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi
Dimulakan dengan bismillah
Disudahi dengan alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah mudahan dirahmati Allah
(Bismillah, Raihan)
Dalam lirik nasyid berjudul “Bismillah” buah karya kumpulan Raihan diatas, terbetik dengan jelas sebuah nasehat bahwasanya, setiap perbuatan yang diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah, berada dalam naungan rahmat Allah. Dengan mengucap basmalah pada awal dan mengucap hamdalah pada akhir aktivitas, seorang muslim menyerahkan proses dan hasil dari amalan-amalannya kepada kasih sayang Allah. Seorang kolumnis muslim, Abu Mushlih Ari Wahyudi mengungkapkan, hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan mengucap basmalah adalah demi, mencari keberkahan bagi perbuatan lewat melisankannya. Selain itu, demikian sang kolumnis mengutip dari Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat-nya Syaikh Shalih Al-Fauzan, dalam lafal basmalah juga terkandung kalimat permohonan, ungkapan kebutuhan, akan pertolongan Allah ‘azza wa jalla.
Bila diterjemahkan, lafal basmalah atau “bismillaahirrahmaanirrahiim” mempunyai arti : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Dalam lafal tersebut terkandung dua sifat Allah yang termasuk dalam Al-Asmaul Husna, yaitu : Ar-Rahman dan Ar-rahiim. Ibnu Jarir pernah mengatakan,”As-Surri bin Yahya bercerita kepada saya bahwa Usman bin Zufar mendengar Al-‘Azrami menjelaskan tentang Ar-Rahman dan Ar-Rahiim.” Al-‘Azrami menjelaskan kepada Usman bin Zufar bahwasanya,”Dia (Allah) adalah Ar-Rahman dengan segala ciptaan-Nya dan Ar-Rahiim dengan siapapun yang beriman kepada-Nya.” Dengan Ar-Rahman Allah mengasihi semua ciptaan-Nya, baik mereka yang beriman maupun kafir, baik mereka yang ingkar maupun taat. Namun tak seperti Ar-Rahman yang berlaku tanpa pandang bulu, mereka yang kafir dan ingkar tidak berhak mendapatkan Ar-Rahiim-Nya dalam kehidupan akhirat nanti. Ar-Rahim itu khusus dperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman saja, sehingga jelas nyata perbedaan keuntungan antara kaum mukminin dan kaum kafirin.
Perintah untuk mengucapkan basmalah ada termuat dalam Al Qur’an. Salah satu firman-Nya yang paling populer dikalangan umat muslim, terkait perintah melisankan basmalah setiap mengawali kegiatan itu, tercantum pada surat Al–‘Alaq ayat 1. Terjemahan ayat tersebut yaitu : “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan”. Al-Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyammi menafsirkan, dalam ayat yang termuat dalam surat Al-Qur’an yang pertama diturunkan itu, Allah memerintahkan secara langsung kepada Nabi SAW dan tak langsung kepada umat beliau, agar membaca dan mengawali bacaannya dengan basmalah. Disamping dalil atau nash Al-Qur’an tentang basmalah, dalil-dalil yang berlandaskan pada As-Sunnah atau hadits Nabi SAW-pun banyak macamnya. Diantara hadits-hadits yang memuat perintah agar umat muslim mengawali kegiatan dengan basmalah adalah hadits dari ‘Aisyah binti Abu Bakar RA, yang termuat dalam kitab Sunan Abu Dawud. Dalam hadits termaksud Nabi SAW bersabda,“Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Allah. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: “Dengan nama Allah di awal dan di akhir.’”
Ismail bin Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir mengutip sabda Nabi SAW bahwa,”Setiap perbuatan yang diawali dengan menyebut nama Allah (membaca) Bismillaahirrahmaanirrahiim- adalah terputus (dari berkah atau rahmat-Nya).” Secara tak langsung hadits yang dikutip oleh Ismail bin Katsir itu menjelaskan, jika seseorang mengucapkan basmalah pada setiap mengawali aktivitasnya, maka Allah akan menyambungkan keberkahan dan rahmat terhadap dirinya. Untuk mempertegas makna daripada pernyataan dalam hadits tersebut, Allah juga telah berfirman lewat hadits qudsi yang bunyinya,”Basmalah untuk-Mu dan umat-Mu, suruhlah mereka bila memohon sesuatu dengan Basmalah. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap matapun sejak Basmalah diturunkan kepada Adam.”
Bila melalui uraian tentang lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahiim dalam basmalah, kaum muslimin diingatkan bahwasanya Allah sedemikian mengistimewakan orang yang beriman, maka melalui sebuah hadits-nya Nabi SAW menjelaskan bagaimana cara Allah mengistimewakan kaum mukminin itu secara konkret. Dalam hadits yang termuat pada kitab Jamius-Shahih halaman 6419, sahabat Anas RA mendengar Nabi SAW bersabda,”Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Allah. Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’”
Amsal dari hadits yang dianggap shahih oleh Bukhari-Muslim diatas, yaitu : dengan memberinya petunjuk, Allah menuntun pelisan basmalah agar bisa membedakan mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan ; dengan mencukupinya, Allah menjamin pelisan basmalah selalu terpenuhi kebutuhan jasmani maupun ruhaninya ; dan dengan memeliharanya, Allah menjamin pelisan basmalah agar senantiasa ada dalam limpahan berkah, rahmat, hidayah dan nikmat-Nya. Tiga keutamaan yang diperuntukkan bagi kaum mukminin itu, tidak hanya sekadar berlaku di dunia dalam serba kefanaan, melainkan berlaku pula di akhirat dengan serba keabadiannya. Maka dengan mengucapkan basmalah, memahami makna, mengetahui keutamaan-keutamaan yang terkandung didalam lafadz-nya, setiap muslim yang beriman hendaknya selalu mengupayakan sinkronisasi antara hajat dunia dan akhirat, dari awal hingga akhir aktivitasnya. Jangan sampai mengutamakan salah satu hajat diatas hajat lainnya, agar Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Nya senantiasa mengiringi perjalanan dari alam fana menuju alam baka kelak. Wallahu a’lam bish shawab.



