oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi
Begitu cepatnya perputaran waktu, sehingga kita hampir sampai lagi pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bila dalam sepuluh malam pertama kita mengarungi lautan rahmat, sepuluh malam kedua menadahi limpahan ampunan dari Allah SWT, maka dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan Allah menjanjikan pembebasan kita dari api neraka.
Diantara sepuluh hari terakhir inilah terdapat ‘Lailatul Qadr`, yaitu ‘malam seribu bulan.` Apakah `malam seribu bulan` itu ? Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr :1-5)
Bagi mereka yang telah bersungguh-sungguh ibadah sejak hari pertama hingga malam ke-21, inilah saatnya menyempurnakan ibadah yang telah dikerjakan semenjak awal Ramadhan. Bagi mereka yang belum bersungguh-sungguh menjalani Ramadhan dengan ikhtiar terbaik, inilah waktunya untuk mulai meluruskan niat dan langkah, dengan melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah dan ghayr mahdhah yang sebelumnya terlalaikan. Pada sepuluh hari terakhir ini kaum muslimin dan muslimat hendaknya senantiasa `menghidupkan malam`. Dengan apa kita menghidupkan sepuluh malam terakhir tersebut ? Dalam shahihain disebutkan, dari `Aisyah r.a. : “Bahwasanya Nabi SAW selalu ber-i`tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.”
***
I`tikaf diisi dengan munajat, dzikir dan berdoa kepada Allah. Jumhur ulama mengatakan, i`tikaf berlangsung dengan shalat Isya berjamaah pada awalnya, serta shalat subuh berjamaah pada ujungnya. Lebih khusus disyariatkan : i`tikaf bagi laki-laki bertempat di masjid, sedang i`tikaf bagi perempuan bisa dilakukan di masjid atau cukup di mushola tempat-tinggal.
Dalam i`tikaf kita mengasingkan diri, mengosongkan pikir dari berbagai urusan dunia, serta meninggalkan segala kesibukan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan peribadatan. Orang yang i`tikaf menambatkan hatinya hanya kepada Allah, menikmati taat atas segala perintah-perintah-Nya, dan iapun menikmati khalwat ketika berdzikir dan menghaturkan munajat, hingga seakan ia sedang berdua dengan Allah saja. Dari sini bisa disimpulkan makna hakikat i`tikaf itu sendiri. Yaitu : memutuskan hubungan dengan semua mahluk demi menyambungkan penghambaan kepada Sang Khaliq.
Ketika diri menikmati ketaatan, menghayati dzikir dan senantiasa rindu untuk ber-khalwat dengan Allah, berarti diri telah sampai kepada derajat ihsan. Apakah ihsan ? Rasulullah menjawab,”(yaitu) apabila kamu menyembah (beribadah) kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.” (H.R. Bukhari).
Qur`an memuat 11 tempat yang menyebutkan kata ihsan dengan berbagai konteks dan 40 tempat yang menggunakan kata itu sebagai sebutan pelaku ihsan (orang yang berbuat baik/muhsin). Ihsan juga merupakan visi para ulama sufi dan para pengikutnya, ketika mereka mengarungi jalan tasawufnya. Arti jalan tasawuf ? Menurut Ensiklopedia Islam, tasawuf adalah metode seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui keimanan, pengamalan syariat Islam secara kaffah dan pembawaan akhlaqul karimah.
***
Bila umat Islam yang menjadi mayoritas mau berbondong-bondong ke masjid, menjemput malam kemuliaan yang telah dijanjikan diantara sepuluh hari terakhir Ramadhan, pantas bila kita berandai bahwa negeri ini kelak akan kembali dinaungi kesejahteraan. Entah berapa ratus, berapa ribu, bahkan berapa juta orang yang mampu memetik hikmah `Lailatul Qadr`, yaitu keihsanan diri, sehingga kelak menjadi manusia pembawa maslahat bagi lingkungan kerja, belajar, maupun tempat tinggalnya.
Namun sayang jikalau sepuluh hari terakhir ini justru kita abaikan, sebab kesibukan kerja, belajar, atau urusan-urusan tertentu di lingkungan tempat tinggal. Kesempatan kita untuk mendapat hikmah ruhani dan meraup bekal untuk akhirat kelak, kita lewatkan hanya untuk rutinitas dunia yang pasti lebih kerap menjengkelkan daripada menenteramkan diri. Bulan Ramadhan kemudian bukan menjadi sarana bagi bertambahnya keimanan, perbaikan kualitas dan kuantitas ibadah, serta peningkatan akhlaqul karimah kita. Bisa jadi, pasca Ramadhan kelak, kita malah menjadi lebih lalai, lebih jahil dan lebih tidak tenteram dibandingkan masa-masa sebelumnya. Na`udzubillah.
Untuk itu, mari kita sisihkan waktu dalam sepuluh hari terakhir ini untuk ber-i`tikaf. Bila tak mampu i`tikaf mulai ba`da isya hingga ba`da subuh, sebagaimana pendapat jumhur ulama, upayakan untuk bangun tengah malam lantas berangkat i`tikaf ke masjid sehingga ba`da subuh. Bila masih tak mampu mengikuti secara penuh sepuluh hari, hendaknya kita ber-i`tikaf pada malam-malam ganjil yang kemungkinan besar didalamnya terdapat pahala seribu bulan. Semoga dengan usaha paling sederhana itu kita masih bisa meraih Lailatul Qadr, mengikut ketentuan hadits dari Abu Dzar r.a. yaitu : “Bahwasanya Rasulullah SAW melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25) dan dua puluh tujuh (27). Dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja.” (Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Risalah Ramadhan, Darul Wathan, Riyadh, Rajab 1418 H). Jadikan itu standar minimal i`tikaf kita. Jangan sampai kita tidak menjemput Lailatul Qadr sama sekali. (aea)
***



