Toni Iommi : Lord Of Metal Guitar

15 09 2009

tony iommi

Kawan semasa SMP, Ramdhan, pernah membawakan saya sebuah kaset The Best Of Black Sabbath, yang konon ditinggalkan seorang penumpang di kursi bis yang dikendarai ayahnya. Kaset dengan label publisher A-Team Record itu ia tunjukkan kepada saya, kawan sebangkunya, lantaran dia merasa takjub mendengarkan riff-riff gitar yang ada di album tersebut. Ramdhan yang mulai menyukai musik rock semenjak duduk sebangku dengan saya, kian besar saja rasa takjubnya ketika saya mengatakan belum pernah tahu ada grup rock bernama Black Sabbath. Maklum, saat itu, meskipun sejak sekolah dasar sudah menggandrungi musik rock, yang saya tahu soal lagu dan kelompok musiknya baru sebatas grup-grup yang memainkan hard rock atau rock n roll standar semacam :  The Beatles, Rolling Stones, Elvis Presley, Queen, Led Zeppelin dan Deep Purple. Terbatas pada koleksi rekaman bapak atau paman saja, tepatnya. Kebetulan juga, pada koleksi mereka memang tidak ada rekaman milik Black Sabbath. Kemudian hari, bapak dan paman memberi alasan : musik band asal Birmingham, Inggris itu, kurang  sejiwa dengan mereka.

Ketika pertamakali memutar The Best Of Black Sabbath, yang saya pinjam dari Ramdhan dengan janji akan dikembalikan dua hari ke depan, yang langsung menyita perhatian adalah intro demi intro dalam lagu-lagu mereka. Saking sukanya saya pada intro-intro yang dibangun lewat riff-riff gitaris Sabbath itu, sampai-sampai jadwal pengembalian kaset pinjaman molor dua minggu. Riff-riff yang tertuang di nomor-nomor legendaris Sabbath seperti “Paranoid”, “Iron Man”, “N.I.B” atau “Symptom Of The Universe”, membuat saya- yang baru menjelang akil baligh saat itu- “jatuh cinta pada pendengaran pertama.” Sehingga, sempat pula saya kecewa berat, disaat kawan sebangku di kelas 2 SMP itu menolak tawaran barter atas kaset temuan ayahnya tersebut. Kesungguhan saya untuk memiliki kaset, yang kemudian baru saya temukan lagi rilisannya sewaktu kuliah itu, bahkan membuat saya rela untuk menraktir Ramdhan setiap istirahat pertama selama beberapa hari. Tapi ternyata, harga Bubur Ayam atau beberapa porsi Baso Tahu Goreng yang biasanya mewah bagi anak usia sekolah menengah pertama ketika itu, tidak sebanding dengan harga kaset The Best Of Black Sabbath yang padahal didapatkan secara kebetulan, dengan cuma-cuma.

**

Orang dibalik intro-intro nan dahsyat yang mencengangkan saya itu adalah, Frank Anthony Iommi, gitaris Sabbath yang populer dengan panggilan : Tony Iommi. Gitaris yang lahir pada tanggal 19 Februari 1948 ini, mulai serius menekuni dunia musik, khususnya sebagai gitaris, setelah terinspirasi oleh permainan Hank Marvin, pemain gitar dari grup legendaris The Shadows. Hank Marvin & The Shadows pula yang menginspirasi fans fanatik FC. Aston Villa, Birmingham ini, untuk membentuk sebuah grup band bersama tiga karibnya semasa sekolah. Ya, pada medio 1967 itulah, Iommi mulai intensif  melakukan jam session dengan beberapa grup beraliran blues dan rock, sebelum akhirnya menemukan “rumah permanen” bagi hasrat musikalisasinya bersama Earth- sebuah kelompok yang kemudian berganti nama menjadi Black Sabbath. Kelompok yang kelak dianggap sebagai pelopor metal nomor wahid ini Iommi dirikan bersama, Terence Michael Joseph Butler (Geezer Butler, bassist), William Thomas Ward (Bill Ward, drummer) serta salah satu vokalis yang kelak menjadi ikon Heavy Metal, John Michael Osbourne a.k.a Ozzy Osbourne.

Pada masa-masa awal pembentukan karakter permainan gitarnya (medio 1967), Iommi mengalami sebuah peristiwa yang nyaris menutup karier bermusiknya. Ruas jari kanan gitaris kidal ini terpotong saat bekerja di pabrik logam, tempatnya mencari nafkah sebelum mapan sebagai musisi. Gagal mentransformasi diri dari seorang left-handed guitarist menjadi seorang right-handed guitarist, Iommi mengalami masa-masa depresi dan frustasi pasca “industrial accident” tersebut. Untung saja, Iommi memiliki kawan-kawan yang sangat peduli atas keberlangsungan kariernya. Lambat-laun kesehatan jasmani dan rohaninyapun pulih, terutama setelah Iommi mendengar kisah tragis yang pernah dialami Jean “Django” Reinhardt, seorang gitaris dan master musik Gypsy Jazz kelahiran Belgia. Reinhardt yang populer berkat permainannya di lagu “Minor Swing” itu, pernah mengalami kecelakaan tragis yang sampai merenggut fungsi normal jari kelingking dan jari manis kirinya ketika masih berusia 18 tahun. Berkat keteguhan hatinya, Reinhardt terus berkarya hingga ajal merenggutnya saat masih berusia 43 tahun. Masterpiece album buah karya Reinhardt, seperti Paris 1945 (1945), Ellingtonia (1947), Djangology (1949) hingga Django Reinhardt In His Rhythm (1959)-lah yang mengilhami Iommi, untuk terus bermusik dan melupakan cacat di dua ruas jari kanannya. Dengan pelindung ruas jari yang terbuat dari plastik lunak, Iommi kembali berlatih dan tampil secara rutin di berbagai pentas musik seputar kota Birmingham. Setelah melewati masa pemulihan fisik dan mental, Iommi juga sempat keluar dari Earth untuk mendukung Jethro Tull (1968), sebuah band yang punya nama besar di kancah Progressive Rock. Karena perbedaan visi, Iommi tercatat hanya sekali tampil sebagai personil Jethro Tull. Tepatnya ketika : Iommi dan band yang dimotori vokalis bergaya teatrikal, Ian Anderson itu, tampil dalam acara TV spesial, Rock & Roll Circus, memainkan lagu “Song for Jeffrey.”

Sekembalinya Iommi ke Earth, kelompok yang kerap membawakan nomor-nomor blues rock dari Joe Walsh Band dan Mountain ini, mengubah namanya menjadi Black Sabbath. Nama tersebut diambil dari English title film horor produksi Italia, I Tre Volti Della Paura.  Ganti nama, ganti juga warna musik. Musik a la Earth yang cenderung kearah blues rock, berkembang lebih kearah heavy rock ketika Iommi dan kawan-kawan menggunakan nama Black Sabbath. Diilhami oleh lirik-lirik mistis yang kebanyakan ditulis oleh sang vokalis, Ozzy Osbourne, aransemen Sabbath-pun cenderung bergerak ke nuansa yang lebih gelap dan keras. Dalam proses musikalisasi di tahun-tahun awal berkibarnya bendera Black Sabbath itu, Iommi menjadi pelopor corak permainan gitar yang kemudian dikenal sebagai blue-print-nya para gitaris Metal. Lewat album Black Sabbath (1969), Paranoid (1971), Master of Reality (1971), Black Sabbath Vol.4 (1972) dan Sabbath Bloody Sabbath (1973), Iommi mengembangkan teknik dan style permainan yang kelak menginspirasi banyak gitaris kelompok Metal legendaris setelahnya, seperti : Glen Tipton dan K.K. Downing (Judas Priest), Adrian Smith dan Dave Murray (Iron Maiden), Kirk Hammet dan James Hetfield (Metallica) atau almarhum Dimebag Darrell (Panthera).  Pengaruh Toni Iommi-pun, sepanjang pengamatan saya, mempengaruhi pula permainan gitaris-gitaris dan musisi Underground terkemuka di Indonesia. Robin Malauw (Puppen), Donnijantoro dan Ibrahim Nasution (Koil), atau double guitarist band keras paling populer di Indonesia, Agung BK dan Ebenz dari Burgerkill, sadar atau tak sadar adalah gitaris pribumi yang nyata terpengaruh corak dan spirit Iommi dalam permainan mereka.

Eksistensi Toni Iommi sempat juga menghadapi sebuah ujian serius, ketika Ozzy Osbourne dikeluarkan oleh manajemen Sabbath, pasca dirilisnya album ke-8, Never Say Die ! (1978). Kala itu, banyak pengamat musik rock yang memperkirakan Sabbath akan tenggelam, pasca keluarnya sang vokalis berjuluk Prince Of Darkness itu. Perkiraan pengamat musik tersebut menunjukkan pesimisme berlebihan dan pengamatan yang ternyata baru sebatas permukaan, terhadap sosok Iommi yang sesungguhnya memiliki naluri kreatif yang tajam. Ketika “Heaven & Hell” (1980) dan “The Mob Rules” (1981), dua album Sabbath sepeninggal Ozzy Osbourne dirilis, nyata bahwa karakter permainan Iommi lebih mewakili corak Black Sabbath ketimbang lengkingan Prince of Darkness. Warna Iommi berhasil menjembatani karakter vokal Ronnie James Dio, sang suksesor Ozzy Osbourne, yang pasca dirilisnya “Heaven & Hell” mempunyai julukan baru : “The Voice of Metal.” Keberhasilan Iommi yang diindikatori dengan perkembangan musikalitas di nomor-nomor seperti : Heaven and Hell dan Children of The Sea (Heaven and Hell,1980), Turn Up The Night dan Sign of The Southern Cross (The Mob Rules,1981), diikuti dengan sukses komersial Sabbath di daratan Eropa dan Amerika.

**

Memasuki album-album berikutnya, ketika Ronnie James Dio memutuskan untuk bersolo karier pada 1983, Sabbath sebetulnya masih bisa dibilang berhasil menjaga standar sukses komersialnya. Tapi upaya Iommi dan Geezer Butler – dua personil Sabbath yang tersisa- untuk mencoba sesuatu yang baru dengan Ian Gillan (eks-vokalis Deep Purple yang menggantikan Dio) dalam aransemen Sabbath, dinilai gagal total oleh para kritikus musik. Corak vokal Gillan yang nge-blues dan lirik-lirik bernada humor yang ditulisnya, menurut kritikus kenamaan, Eduardo Rivadavia, gagal menyatu dengan spirit Iommi yang kerap diejawantahkan dalam riff-riff yang keras dan gelap.

Sepeninggal Gillan yang kembali masuk line-up Deep Purple (1983), Sabbath berkali-kali mengganti frontline-nya. Tidak hanya vokalis, untuk posisi bassist dan drummer-pun Sabbath mengalami bongkar-pasang line-up. Sehingga, praktis hanya Iommi sendiri yang masih fokus bersama Sabbath, sampai-sampai fans Sabbath menyebut band pelopor musik Metal ini sebagai : solo project Toni Iommi. Asumsi umum itu jugalah yang membuat album solo Iommi yang pertama, Seventh Star (1984), jadi sulit diidentifikasi oleh para fans-nya sebagai album Sabbath ataukah album solo-nya.

Pada medio 1989, untuk pertamakalinya album Sabbath gagal menembus US Billboard 100 (Headless Cross feat. vokalis Tony Martin, 1989), dilanjutkan dengan kegagalan tour mereka yang untuk pertamakalinya tak menyertakan Amerika sebagai negara tujuan (pasca merilis Tyr, 1990).  Padahal, dalam rentang waktu tersebut, beberapa nama besar dalam musik rock, seperti : Glenn Hughes (eks-Deep Purple), Eric Singer (Kiss & Alice Cooper), Cozy Powell (eks-Jeff Beck Group) sampai gitaris Queen, Brian May, sempat mengisi line-up atau berkolaborasi dengan Iommi dan Black Sabbath-nya. Itulah sebabnya, kendati Sabbath terpuruk secara komersial, namun kualitas musik mereka masih tetap membuat sebagian kritikus berdecak kagum.

Dalam karier Iommi di era tahun 1984 hingga 1990 dimana Sabbath dilanda banyak ketidakstabilan itu, Eternal Idol (1987), album ke 13 Sabbath, disebut-sebut sebagai album dimana Iommi memainkan riff-riff terkerasnya. Namun hingga medio 1991-1995, sampai Forbidden (1995), album studio ke-18 dan terakhir Black Sabbath dirilis, Iommi yang semakin matang secara teknik, aransemen, komposisi lagu dan penulisan lirik itu, masih belum berhasil membawa band pelopor musik Metal tersebut mengulang sukses komersialnya di era 1970-1978 dan 1980-1982. Dalam rentang 12 tahun (1983-1995) itu, Iommi praktis gagal menyajikan riff-riff yang melegenda sebagaimana ia suguhkan dalam nomor lawas Sabbath seperti :”Paranoid”, “Iron Man” atau “Sabbath Bloody Sabbath”, yang telah menjadi klasik dan ditengarai sebagai ciri khas kehandalan gitaris Toni Iommi. Meskipun, pada rentang itu, sebenarnya banyak kreasi Iommi yang patut diapresiasi lebih seperti permainannya dalam nomor-nomor : “The Shining” (Eternal Idol), “Headless Cross” (Headless Cross) , “When Death Calls” (Headless Cross), “Odin’s Court” (Tyr), “The Sabbath Stones” (Tyr), “Heart Like A Wheel” (Seventh Star) dan “Master of Insanity” (Dehumanizer).

**

Pada musim semi 1997, Toni Iommi bereuni dengan para founding-member Black Sabbath, minus Bill Ward. Dalam Ozzfest 1997, Black Sabbath yang terdiri dari Toni Iommi, Ozzy Osbourne, Geezer Butler dan additional drummer Mike Bordin, eks-drummer Faith No More, menghentak ribuan fans yang berkumpul pada festival yang menyajikan kelompok-kelompok Metal papan atas seperti : Marilyn Manson, Panthera, Machine Head, Fear Factory dan Ozzy, nama band yang diusung Ozzy Osbourne dalam rentang 29 tahun solo karirnya itu. Sambutan fans yang luar biasa saat Ozzfest 1997 digelar, membuat Black Sabbath kembali menggelar konser di kampung halamannya, Birmingham, Inggris, pada 20 Oktober 2008. Konser yang kembali menampilkan Bill Ward pada drum itu kemudian direkam dan dirilis dalam bentuk double album, bertajuk Reunion, yang langsung menembus urutan 11 dalam UK Billboard 100, juga berhak atas double platinum di Amerika Serikat. Kesuksesan reuni Sabbath tidak berhenti sampai disitu. Pada tahun 2000, untuk pertamakalinya dalam rentang 30 tahun berdirinya, Black Sabbath dianugerahi Grammy Award untuk kategori Best Metal Performance. Adalah penampilan Sabbath secara live di lagu “Iron Man”, yang diapresiasi lebih oleh para juri Grammy Award tahun 2000 itu.

Kebangkitan Sabbath menginspirasi Iommi untuk merilis “the true solo album”-nya, Iommi, pada bulan oktober tahun 2000. Para superstar rock dan heavy metal ikut andil dalam materi solo album ini, diantaranya : Henry Rollins (Rollins Band), Dave Grohl (eks-Nirvana, Foo Fighter), Serj Tankian (System Of A Down), Billy Corgan (Smashing Pumpkins), superstar Glam Rock Inggris, Billy Idol, juga karib Iommi, Brian May, gitaris Queen. Best Cut album ini adalah “Goodbye Lament”, yang menampilkan Dave Grohl pada vokal. Kendati album ini menampilkan banyak nama besar, namun baik secara musikalitas maupun komersial, album ini tak mendapat respon positif baik dari fans maupun kritikus.

Bagi saya, yang sangat mengagumi keterampilan Iommi dalam memainkan riff dan memilih sound gitar dalam nomor keras Sabbath di era Ozzy Osbourne maupun Ronnie James Dio, solo album terbaik Iommi adalah Fused, yang dirilis pada 11 Juli 2005 di Inggris. Album ini tidak melibatkan banyak musisi populer seperti solo album sebelumnya. Hanya Glenn Hughes (eks-Deep Purple) pada bass dan lead vocal, Kenny Aronoff (eks-Cinderella) pada drum, Bob Marlette pada keyboard, dan Toni Iommi sendiri pada lead & rhytm guitar. Ke 10 track di album ini membuat saya berkata,”Gila, rocker diatas 50 tahun masih bisa maenin musik kayak gini ?” Riff, solo dan ritem kreasi Iommi di album ini membuat nomor-nomor seperti : “Dophamine”, “Wasted Again”, “Saviour of The Real” atau nomor paling cepat beat-nya di album ini, “What You’re Living For”, terdengar seperti lagu-lagu Metal band yang lebih muda 20 tahun. Apalagi, ditambah lengkingan “The Voice of Rock”, Glenn Hughes, yang juga menjadi satu-satunya rocker kenamaan selain Iommi yang punya andil di album Fused. Materi di album Fused-nya Iommi itu seharusnya membuat banyak musisi muda bertanya,”Apa sih yang dilakukan para Papa Metal tersebut, sampai-sampai bisa menjaga energi dan karakter musiknya sekuat itu ?”

**

Melihat sepak terjang dan kualitas kreasinya, Toni Iommi layak ditahbiskan sebagai “Lord of Metal Guitar” sepanjang masa. Meskipun ada kalanya roda nasib berputar ke bawah, namun dengan tegar Iommi terus memainkan gitar dan melakukan terobosan-terobosan baru sambil sekuat tenaga mempertahankan karakternya yang khas. Spirit Django Reinhardt, sang idola, telah membuat Iommi kuat menghadapi berbagai ujian terhadap karir dan kreatifitas bermusiknya.

Kebesaran hati Iommi-pun ditunjukkan ketika ia dinyatakan harus membagi rata pendapatan dari royalti brand Black Sabbath, yang dimasa-masa sebelumnya dimiliki penuh oleh Iommi. Adalah Ozzy Osbourne, sang Pangeran Kegelapan, yang pertama mengajukan peninjauan ownership merk Black Sabbath tersebut. “Kami semua bekerja keras dalam waktu yang panjang didalam karir kami untuk membiarkan kau menjual merchandise yang memuat wajah kita berempat, dalam cover lama album dan logo Black Sabbath, lalu kau mengatakan bahwa kaulah pemilik hak cipta. Kita sudah berumur 60 tahun sekarang. Nama Black Sabbath seharusnya hidup lebih panjang setelah kita semua pergi. Jadi, tolong putuskan yang benar dan paling baik.”keluh Ozzy kepada Iommi, dalam situs pribadinya, setelah ia mengajukan gugatan hak milik terhadap brand Black Sabbath (Mei,2009).

Saya sendiri kurang tertarik untuk mengikuti proses pengadilan brand yang konon memenangkan Ozzy Osbourne, sehingga mendapat 50 persen keuntungan dari penjualan merchandise dalam rentang karir Sabbath itu. Saya lebih tertarik untuk menyimak kiprah Iommi berikutnya, bersama Heaven & Hell, kelompok yang berisikan para punggawa Sabbath di era Ronnie James Dio (1980-1982 dan 1990-1993). Para Papa Metal yang rata-rata sudah berumur 60 tahunan itu kini sedang menjalani tur Amerika Serikat, setelah menyelesaikan tur Eropa pasca merilis “Devil You Know” (april,2009), album ke-2 band yang didirikan tahun 2007 ini. Heaven & Hell sendiri eksis setelah Rhino Record merilis album Black Sabbath : The Dio Years, pada tanggal 3 April 2007. Album pertama Heaven & Hell sendiri adalah rekaman konser mereka di Radio City Hall, New York, Amerika Serikat, pada 30 Maret 2007. Dalam konser tersebut, mereka membawakan nomor-nomor keras dari album Sabbath di era Ronnie James Dio. Sebuah penghormatan besar bagi grup baru beranggotakan para superstar metal lama ini, disaat Megadeth dan Down bersedia ikut membuka konser mereka dalam tur Amerika, pasca konser pertama digelar di Radio City Hall sebulan sebelumnya. Ketika Heaven & Hell kembali menggelar tur dengan tajuk Metal Masters Tour bersama Judas Priest, Motorhead dan Testament (2008), disusul dengan penampilan mereka di pentas rock dan metal paling bergengsi di Eropa, Sweden Rock Festival, dunia musik rock dan heavy metal seolah-olah diingatkan, bahwa penampilan seorang Toni Iommi masih begitu dirindukan oleh para penikmat musik cadas. Selama “Lord of Metal Guitar” masih hidup, selama itu pula rakyat metal senantiasa menunggu karya dan penampilannya diatas pentas. Kiranya kepercayaan dari fans, serta pengalaman getir di masa lalulah, yang membuat Toni Iommi terus berkreasi, menjadi pelopor, tanpa peduli apa yang kelak bakal diraihnya. Iommi telah mengikuti naluri musikalitasnya, bukan semata mengikuti hasratnya akan limpahan harta dan popularitas, ketika ia beraksi diatas fret Epiphone P94 signature series-nya. Hail Lord of Metal Guitar ! (aea a.k.a eddie ramone)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.