Potensi Ultrapreneurship Umat Islam

15 09 2009

oleh Abang Eddy Adriansyah (Republika)

Kecepatan informasi membuat dunia seakan menciut. Peristiwa di salah satu belahan bumi dapat segera diketahui oleh orang di belahan bumi lainnya dalam hitungan detik saja. Pola-pola standar dalam lingkungan politik, ekonomi, sosial dan budaya memerlukan modifikasi agar adaptif terhadap ekses daripada perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat. Teknologi informasi dengan tingkat akselerasi yang tinggi, memegang peran sebagai source of changes yang menimbulkan kegairahan baru di dunia usaha. Saat ini, pasar tengah berevolusi dari bentuk marketplace menuju bentuk marketspace. Dalam bentuk marketspace, pertemuan antara pembeli dan penjual telah meninggalkan banyak cara-cara tradisional yang mengharuskan kedua pihak bertemu di suatu tempat. Fenomena yang dikemukakan ahli pemasaran Hermawan Kertajaya ini, timbul karena cyber technology berkembang dengan percepatan yang mengagumkan. Tak pelak lagi, inti daripada percepatan dalam dunia usaha di waktu sekarang adalah akses yang cepat dan reflek yang tanggap terhadap informasi.

Era keterbukaan informasi membuka peluang yang luas bagi para entrepreneur atau wirausahawan untuk melakukan strategic alliance (persekutuan strategis) dan outsourcing strategy, tanpa harus mengesampingkan kreativitas dan jati dirinya. Para entrepreneur itupun diharapkan pula mampu melakukan benchmarking yang synergistic. Sinergisitas ini diupayakan untuk optimal membesarkan, serta memberikan manfaat lebih bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat. Prinsip mutualisme selayaknya dikedepankan disini. Pola kompetisi murni yang sebelum era globalisasi ini banyak dianut, telah melahirkan pemenang dan pecundang. Pola tersebut berkontribusi dalam menciptakan sekat-sekat penutup bagi pertukaran informasi di antara perusahaan-perusahaan. Cara tersebut tidak tepat lagi untuk menggagas pertumbuhan dan kesinambungan usaha pada saat sekarang. Di era ini, keterpurukan yang menimpa satu pihak, akan membawa dampak negatif pula terhadap pihak lainnya. Untuk itulah diperlukan entrepreneur plus yang dapat melakukan strategic alliance, outsourcing strategy dan benchmarking yang synergistic tersebut, hingga tercipta dinamika usaha yang harmonis antar perusahaan-perusahaan yang terlibat. Ahli kewirausahaan, Thoby Mutis, menyebut para entrepreneur dengan kehandalan lebih itu dengan sebutan ultrapreneur.

Umat Islam Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan para ultrapreneur, dengan potensi kuantitatif sebagai mayoritas di Indonesia. Sebagai contoh, apabila persekutuan strategis tercetus di kalangan para entrepreneur dengan komitmen penegakan ekonomi syari’ah yang dilandasi oleh pertumbuhan, kontinuitas, dan keberkahan, maka dampaknya akan luas sekali, serta mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif secara nasional. Tanpa menutup kemungkinan persekutuan strategis, outsourcing strategic dan benchmarking dengan entrepreneur dari kalangan non-muslim, para ultrapreneur tersebut akan berperan luas dalam pemulihan ekonomi Indonesia, bahkan membawa kegairahan yang kondusif di wilayah regional maupun internasional. Selain itu, dengan landasan tiga fokus utama ekonomi syari’ah yang diungkapkan sebelumnya, maka aktivitas tersebut Insya Alloh akan berfungsi pula sebagai dakwah bil-lisan.

Umat Islam Indonesia menyimpan pula potensi kualitatif dalam mendorong terlahirnya para ultrapreneur. Hal tersebut diindikasikan oleh kegairahan kalangan santri maupun intelektual muda muslim untuk ikut berperan aktif mengembangkan sistem perekonomian syari’ah. Kegairahan itu disertai pula oleh ketertarikan mereka untuk mulai mempelajari konsep muamalah yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya secara lebih intensif. Selanjutnya, kemauan keras untuk mempelajari konsep muamalah tersebut, selayaknya diikuti pula oleh penerapan yang tepat dalam setiap aktivitas kewirausahaan. Dengan begitu, kesempurnaan konsep yang memegang prinsip adil, transparan, dan saling menguntungkan ini, secara optimal dapat dirasakan manfaatnya secara pribadi, hingga para santri dan intelektual muda ini matang sebagai entrepreneur dan siap menjadi seorang ultrapreneur yang akan memperkenalkan pula konsep perekonomian syari’ah melalui proses strategic alliances, outsourcing strategy, dan benchmarking yang synergistic tadi.

Tidak terdapat halangan bagi entrepreneur yang memegang prinsip ekonomi syari’ah untuk melakukan benchmarking dengan kalangan manapun. Prof. Thoby Mutis telah menjelaskan bahwa dasar daripada benchmarking adalah adanya keterbukaan informasi, kesediaan saling menukar informasi, perbandingan kinerja, dialog kerja dan saling mempelajari keunggulan. Dari penjelasan tersebut, inti dari benchmarking sendiri adalah kepercayaan, sesuatu yang dikedepankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam bermuamalah. Sehingga secara prinsip, tidak ada hal yang menghambat seorang entrepreneur muslim untuk mampu melakukan benchmarking yang sinergis, dan berhak mencapai derajat ultrapreneur atas dedikasinya dalam usaha.(red/aburashif)





Toni Iommi : Lord Of Metal Guitar

15 09 2009

tony iommi

Kawan semasa SMP, Ramdhan, pernah membawakan saya sebuah kaset The Best Of Black Sabbath, yang konon ditinggalkan seorang penumpang di kursi bis yang dikendarai ayahnya. Kaset dengan label publisher A-Team Record itu ia tunjukkan kepada saya, kawan sebangkunya, lantaran dia merasa takjub mendengarkan riff-riff gitar yang ada di album tersebut. Ramdhan yang mulai menyukai musik rock semenjak duduk sebangku dengan saya, kian besar saja rasa takjubnya ketika saya mengatakan belum pernah tahu ada grup rock bernama Black Sabbath. Maklum, saat itu, meskipun sejak sekolah dasar sudah menggandrungi musik rock, yang saya tahu soal lagu dan kelompok musiknya baru sebatas grup-grup yang memainkan hard rock atau rock n roll standar semacam :  The Beatles, Rolling Stones, Elvis Presley, Queen, Led Zeppelin dan Deep Purple. Terbatas pada koleksi rekaman bapak atau paman saja, tepatnya. Kebetulan juga, pada koleksi mereka memang tidak ada rekaman milik Black Sabbath. Kemudian hari, bapak dan paman memberi alasan : musik band asal Birmingham, Inggris itu, kurang  sejiwa dengan mereka.

Ketika pertamakali memutar The Best Of Black Sabbath, yang saya pinjam dari Ramdhan dengan janji akan dikembalikan dua hari ke depan, yang langsung menyita perhatian adalah intro demi intro dalam lagu-lagu mereka. Saking sukanya saya pada intro-intro yang dibangun lewat riff-riff gitaris Sabbath itu, sampai-sampai jadwal pengembalian kaset pinjaman molor dua minggu. Riff-riff yang tertuang di nomor-nomor legendaris Sabbath seperti “Paranoid”, “Iron Man”, “N.I.B” atau “Symptom Of The Universe”, membuat saya- yang baru menjelang akil baligh saat itu- “jatuh cinta pada pendengaran pertama.” Sehingga, sempat pula saya kecewa berat, disaat kawan sebangku di kelas 2 SMP itu menolak tawaran barter atas kaset temuan ayahnya tersebut. Kesungguhan saya untuk memiliki kaset, yang kemudian baru saya temukan lagi rilisannya sewaktu kuliah itu, bahkan membuat saya rela untuk menraktir Ramdhan setiap istirahat pertama selama beberapa hari. Tapi ternyata, harga Bubur Ayam atau beberapa porsi Baso Tahu Goreng yang biasanya mewah bagi anak usia sekolah menengah pertama ketika itu, tidak sebanding dengan harga kaset The Best Of Black Sabbath yang padahal didapatkan secara kebetulan, dengan cuma-cuma.

**

Orang dibalik intro-intro nan dahsyat yang mencengangkan saya itu adalah, Frank Anthony Iommi, gitaris Sabbath yang populer dengan panggilan : Tony Iommi. Gitaris yang lahir pada tanggal 19 Februari 1948 ini, mulai serius menekuni dunia musik, khususnya sebagai gitaris, setelah terinspirasi oleh permainan Hank Marvin, pemain gitar dari grup legendaris The Shadows. Hank Marvin & The Shadows pula yang menginspirasi fans fanatik FC. Aston Villa, Birmingham ini, untuk membentuk sebuah grup band bersama tiga karibnya semasa sekolah. Ya, pada medio 1967 itulah, Iommi mulai intensif  melakukan jam session dengan beberapa grup beraliran blues dan rock, sebelum akhirnya menemukan “rumah permanen” bagi hasrat musikalisasinya bersama Earth– sebuah kelompok yang kemudian berganti nama menjadi Black Sabbath. Kelompok yang kelak dianggap sebagai pelopor metal nomor wahid ini Iommi dirikan bersama, Terence Michael Joseph Butler (Geezer Butler, bassist), William Thomas Ward (Bill Ward, drummer) serta salah satu vokalis yang kelak menjadi ikon Heavy Metal, John Michael Osbourne a.k.a Ozzy Osbourne.

Pada masa-masa awal pembentukan karakter permainan gitarnya (medio 1967), Iommi mengalami sebuah peristiwa yang nyaris menutup karier bermusiknya. Ruas jari kanan gitaris kidal ini terpotong saat bekerja di pabrik logam, tempatnya mencari nafkah sebelum mapan sebagai musisi. Gagal mentransformasi diri dari seorang left-handed guitarist menjadi seorang right-handed guitarist, Iommi mengalami masa-masa depresi dan frustasi pasca “industrial accident” tersebut. Untung saja, Iommi memiliki kawan-kawan yang sangat peduli atas keberlangsungan kariernya. Lambat-laun kesehatan jasmani dan rohaninyapun pulih, terutama setelah Iommi mendengar kisah tragis yang pernah dialami Jean “Django” Reinhardt, seorang gitaris dan master musik Gypsy Jazz kelahiran Belgia. Reinhardt yang populer berkat permainannya di lagu “Minor Swing” itu, pernah mengalami kecelakaan tragis yang sampai merenggut fungsi normal jari kelingking dan jari manis kirinya ketika masih berusia 18 tahun. Berkat keteguhan hatinya, Reinhardt terus berkarya hingga ajal merenggutnya saat masih berusia 43 tahun. Masterpiece album buah karya Reinhardt, seperti Paris 1945 (1945), Ellingtonia (1947), Djangology (1949) hingga Django Reinhardt In His Rhythm (1959)-lah yang mengilhami Iommi, untuk terus bermusik dan melupakan cacat di dua ruas jari kanannya. Dengan pelindung ruas jari yang terbuat dari plastik lunak, Iommi kembali berlatih dan tampil secara rutin di berbagai pentas musik seputar kota Birmingham. Setelah melewati masa pemulihan fisik dan mental, Iommi juga sempat keluar dari Earth untuk mendukung Jethro Tull (1968), sebuah band yang punya nama besar di kancah Progressive Rock. Karena perbedaan visi, Iommi tercatat hanya sekali tampil sebagai personil Jethro Tull. Tepatnya ketika : Iommi dan band yang dimotori vokalis bergaya teatrikal, Ian Anderson itu, tampil dalam acara TV spesial, Rock & Roll Circus, memainkan lagu “Song for Jeffrey.”

Sekembalinya Iommi ke Earth, kelompok yang kerap membawakan nomor-nomor blues rock dari Joe Walsh Band dan Mountain ini, mengubah namanya menjadi Black Sabbath. Nama tersebut diambil dari English title film horor produksi Italia, I Tre Volti Della Paura.  Ganti nama, ganti juga warna musik. Musik a la Earth yang cenderung kearah blues rock, berkembang lebih kearah heavy rock ketika Iommi dan kawan-kawan menggunakan nama Black Sabbath. Diilhami oleh lirik-lirik mistis yang kebanyakan ditulis oleh sang vokalis, Ozzy Osbourne, aransemen Sabbath-pun cenderung bergerak ke nuansa yang lebih gelap dan keras. Dalam proses musikalisasi di tahun-tahun awal berkibarnya bendera Black Sabbath itu, Iommi menjadi pelopor corak permainan gitar yang kemudian dikenal sebagai blue-print-nya para gitaris Metal. Lewat album Black Sabbath (1969), Paranoid (1971), Master of Reality (1971), Black Sabbath Vol.4 (1972) dan Sabbath Bloody Sabbath (1973), Iommi mengembangkan teknik dan style permainan yang kelak menginspirasi banyak gitaris kelompok Metal legendaris setelahnya, seperti : Glen Tipton dan K.K. Downing (Judas Priest), Adrian Smith dan Dave Murray (Iron Maiden), Kirk Hammet dan James Hetfield (Metallica) atau almarhum Dimebag Darrell (Panthera).  Pengaruh Toni Iommi-pun, sepanjang pengamatan saya, mempengaruhi pula permainan gitaris-gitaris dan musisi Underground terkemuka di Indonesia. Robin Malauw (Puppen), Donnijantoro dan Ibrahim Nasution (Koil), atau double guitarist band keras paling populer di Indonesia, Agung BK dan Ebenz dari Burgerkill, sadar atau tak sadar adalah gitaris pribumi yang nyata terpengaruh corak dan spirit Iommi dalam permainan mereka.

Read the rest of this entry »





Menjemput Lailatul Qadr

14 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

Begitu cepatnya perputaran waktu, sehingga kita hampir sampai lagi pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bila dalam sepuluh malam pertama kita mengarungi lautan rahmat, sepuluh malam kedua menadahi limpahan ampunan dari Allah SWT, maka dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan Allah menjanjikan pembebasan kita dari api neraka.

Diantara sepuluh hari terakhir inilah terdapat ‘Lailatul Qadr`, yaitu ‘malam seribu bulan.` Apakah `malam seribu bulan` itu ? Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr :1-5)

Bagi mereka yang telah bersungguh-sungguh ibadah sejak hari pertama hingga malam ke-21, inilah saatnya menyempurnakan ibadah yang telah dikerjakan semenjak awal Ramadhan. Bagi mereka yang belum bersungguh-sungguh menjalani Ramadhan dengan ikhtiar terbaik, inilah waktunya untuk mulai meluruskan niat dan langkah, dengan melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah dan ghayr mahdhah yang sebelumnya terlalaikan. Pada sepuluh hari terakhir ini kaum muslimin dan muslimat hendaknya senantiasa `menghidupkan malam`. Dengan apa kita menghidupkan sepuluh malam terakhir tersebut ? Dalam shahihain disebutkan, dari `Aisyah r.a. : “Bahwasanya Nabi SAW selalu ber-i`tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.”
***
I`tikaf diisi dengan munajat, dzikir dan berdoa kepada Allah. Jumhur ulama mengatakan, i`tikaf berlangsung dengan shalat Isya berjamaah pada awalnya, serta shalat subuh berjamaah pada ujungnya. Lebih khusus disyariatkan : i`tikaf bagi laki-laki bertempat di masjid, sedang i`tikaf bagi perempuan bisa dilakukan di masjid atau cukup di mushola tempat-tinggal.

Dalam i`tikaf kita mengasingkan diri, mengosongkan pikir dari berbagai urusan dunia, serta meninggalkan segala kesibukan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan peribadatan. Orang yang i`tikaf menambatkan hatinya hanya kepada Allah, menikmati taat atas segala perintah-perintah-Nya, dan iapun menikmati khalwat ketika berdzikir dan menghaturkan munajat, hingga seakan ia sedang berdua dengan Allah saja. Dari sini bisa disimpulkan makna hakikat i`tikaf itu sendiri. Yaitu : memutuskan hubungan dengan semua mahluk demi menyambungkan penghambaan kepada Sang Khaliq.

Ketika diri menikmati ketaatan, menghayati dzikir dan senantiasa rindu untuk ber-khalwat dengan Allah, berarti diri telah sampai kepada derajat ihsan. Apakah ihsan ? Rasulullah menjawab,”(yaitu) apabila kamu menyembah (beribadah) kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.” (H.R. Bukhari).

Qur`an memuat 11 tempat yang menyebutkan kata ihsan dengan berbagai konteks dan 40 tempat yang menggunakan kata itu sebagai sebutan pelaku ihsan (orang yang berbuat baik/muhsin). Ihsan juga merupakan visi para ulama sufi dan para pengikutnya, ketika mereka mengarungi jalan tasawufnya. Arti jalan tasawuf ? Menurut Ensiklopedia Islam, tasawuf adalah metode seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui keimanan, pengamalan syariat Islam secara kaffah dan pembawaan akhlaqul karimah.
***
Bila umat Islam yang menjadi mayoritas mau berbondong-bondong ke masjid, menjemput malam kemuliaan yang telah dijanjikan diantara sepuluh hari terakhir Ramadhan, pantas bila kita berandai bahwa negeri ini kelak akan kembali dinaungi kesejahteraan. Entah berapa ratus, berapa ribu, bahkan berapa juta orang yang mampu memetik hikmah `Lailatul Qadr`, yaitu keihsanan diri, sehingga kelak menjadi manusia pembawa maslahat bagi lingkungan kerja, belajar, maupun tempat tinggalnya.

Namun sayang jikalau sepuluh hari terakhir ini justru kita abaikan, sebab kesibukan kerja, belajar, atau urusan-urusan tertentu di lingkungan tempat tinggal. Kesempatan kita untuk mendapat hikmah ruhani dan meraup bekal untuk akhirat kelak, kita lewatkan hanya untuk rutinitas dunia yang pasti lebih kerap menjengkelkan daripada menenteramkan diri. Bulan Ramadhan kemudian bukan menjadi sarana bagi bertambahnya keimanan, perbaikan kualitas dan kuantitas ibadah, serta peningkatan akhlaqul karimah kita. Bisa jadi, pasca Ramadhan kelak, kita malah menjadi lebih lalai, lebih jahil dan lebih tidak tenteram dibandingkan masa-masa sebelumnya. Na`udzubillah.

Untuk itu, mari kita sisihkan waktu dalam sepuluh hari terakhir ini untuk ber-i`tikaf. Bila tak mampu i`tikaf mulai ba`da isya hingga ba`da subuh, sebagaimana pendapat jumhur ulama, upayakan untuk bangun tengah malam lantas berangkat i`tikaf ke masjid sehingga ba`da subuh. Bila masih tak mampu mengikuti secara penuh sepuluh hari, hendaknya kita ber-i`tikaf pada malam-malam ganjil yang kemungkinan besar didalamnya terdapat pahala seribu bulan. Semoga dengan usaha paling sederhana itu kita masih bisa meraih Lailatul Qadr, mengikut ketentuan hadits dari Abu Dzar r.a. yaitu : “Bahwasanya Rasulullah SAW melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25) dan dua puluh tujuh (27). Dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja.” (Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Risalah Ramadhan, Darul Wathan, Riyadh, Rajab 1418 H). Jadikan itu standar minimal i`tikaf kita. Jangan sampai kita tidak menjemput Lailatul Qadr sama sekali. (aea)

***





Kemurahan Allah Di Bulan Ramadhan

12 09 2009

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah memuliakan semua hamba-Nya. Kemuliaan dilimpahkan oleh Allah ke atas langit dunia, tinggal menunggu siapa-siapa yang sudi meraihnya. Siapa yang mau berusaha menggapai rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, tentu bisa menggenggam kemuliaan itu.

Baik muslimin maupun muslimah sama-sama berpeluang meraih segala keutamaan Ramadhan. Kendati kaum Hawa lebih banyak bergiat di rumah daripada kaum Adam, sesungguhnya tak ada beda pahala yang disediakan Allah bagi keduanya. Meski terkadang para muslimah harus batal shaum karena `kedatangan tamu`, tetap saja tak mengurangi jamuan Allah di bulan yang suci ini. Pahala mereka ketika meng-qadha shaum Ramadhan-nya yang terpaksa batal, sama saja dengan pahala yang disediakan Allah pada syahrur-ramadhan, padahal qadha shaum itu tentunya dilakukan diluar Ramadhan. Malah pada hakikatnya pahala tersebut bisa berlipat-ganda, bila `kedatangan tamu` itu membuatnya ridha dan tidak berkeluh kesah, menjadi iri terhadap kaum lelaki atau sesama jenisnya yang ditakdirkan belum atau tidak `kedatangan tamu.`

Sesungguhnya Allah telah memudahkan kaum Hawa, dalam beribadah kepada Allah dan melayani kaum kerabatnya selama bulan Ramadhan. Pahalanya bisa berlipat-lipat, dan caranyapun sudah sangat disederhanakan, menurut ketentuan dalam Al Qur`an maupun hadits. Setidaknya untuk urusan persiapan buka dan sahur, untuk urusan i`tikaf pada sepuluh hari terakhir, peluang muslimah untuk meraih pahala lebih besar, sedang teknisnyapun lebih mudah ketimbang syarat yang harus dipenuhi oleh setiap lelaki muslim.

Untuk perkara buka shaum ataupun sahur, para ibu atau istri, pada khususnya, menjadi andalan suami dan anak-anaknya. Tugas mereka adalah menyediakan, menyiapkan, memasakkan hidangan untuk suami dan anak-anak, untuk buka shaum ataupun bersantap sahur. Ganjaran Allah untuk para ibu dan para istri yang sigap menyiapkan penganan untuk mereka yang berpuasa itu, termaktub dalam hadits yang di-shahih-kan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Baihaqi. Bunyi haditsnya adalah : Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang didalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi (sebab) ampunan dari dosa-dosanya, dan pembebasan dirinya dari api neraka.” Sedang syarat mendapat pahala yang dimaksud dalam hadits ini cukup dengan memberi sebutir kurma, bisa dibayangkan betapa besar pahala yang dilimpahkan oleh Allah terhadap kaum perempuan, yang biasanya berupaya menyediakan hidangan buka shaum dan santap sahur yang lebih istimewa, ketimbang bulan-bulan diluar Ramadhan.

Untuk urusan i`tikaf pada sepuluh hari terakhir, kaum wanita cukup melakukan ibadah di mushola atau tempat ia biasa shalat didalam rumahnya. Di tempat ia biasa shalat dan bermunajat kepada Allah itu, kaum Hawa disunnahkan untuk memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur`an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do`a dan sebagainya. Meskipun begitu, bukan berarti seorang muslimah tidak boleh ber-i`tikaf di masjid.
Ketentuan i`tikaf di mushola rumah itu tidak berlaku bagi kaum pria. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mencontohkan, menyimak penyebab batalnya i`tikaf, yaitu : “Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan.”(Panduan I`tikaf, Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia, Jepang), maka kaum pria dikatakan sedang ber-i`tikaf disaat ia berdiam di masjid, bukan dalam mushola rumah. Bila kaum Hawa bisa meraih pahala seribu bulan cukup dengan ber-i`tikaf dalam mushola rumahnya, maka kaum Adam mesti melakukan i`tikaf di masjid untuk mendapatkan malam lailatul qadr. Demikianlah ketentuannya.

Kesempatan ibadah, peluang partisipasi serta janji ganjaran yang Allah limpahkan terhadap kaum Hawa di bulan Ramadhan ini, nyata sedemikian besarnya. Dari ganjaran untuk persiapan ifthar dan kemudahan kaum Hawa dalam mendapatkan `malam seribu bulan`, nyata betapa Maha Pemurah-Nya Allah, khususnya terhadap kaum perempuan. Semoga ukhti-ukhti sudi merenungkan hikmah dibalik kemurahan-Nya itu, serta makin bersemangat dalam meraih keutamaan-keutamaan ibadah lainnya.

***





Memilih Teman Di Bulan Ramadhan

9 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

Ramadhan adalah momen untuk menguji kejelian kita dalam menjalin pertemanan atau persahabatan. Persahabatan adalah satu diantara banyak hal yang bisa memengaruhi serta memotivasi diri kita, dalam perlombaan meraih rahmat beserta maghfirah dari Allah `Azza wa jalla, yang begitu berlimpah dalam bulan suci ini.

Selama satu bulan penuh selama ramadhan, setiap malam Rasulullah SAW dikunjungi malaikat Jibril. Interaksi antara utusan Allah dan pemuka para malaikat itu berlangsung lebih intensif ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Dalam pertemuan mereka di setiap malam-malam ramadhan, Rasulullah SAW membacakan ayat demi ayat Qur`an, memperdengarkan bacaannya kepada Jibril a.s. Begitu pula dengan Jibril. Iapun melantunkan ayat demi ayat kalamullah kepada Rasulullah SAW, sebelum kemudian mereka berembug soal makna ayat per ayat yang baru saja dibacakan.

Selain mengingatkan kepada kita untuk lebih erat berinteraksi dengan Al Qur`an, kedekatan Rasulullah SAW dan Jibril a.s. menjadi pelajaran bagi kita, bahwasanya kita memerlukan seorang teman yang bisa memotivasi diri dalam beribadah. Terutama dalam ramadhan ini.

Rasulullah SAW memilih berteman dengan Jibril a.s. selama ramadhan, semata-mata untuk menangguk pelajaran dan pengetahuan dari sang teman, agar batinnya selama ramadhan lebih terbuka dalam menerima hikmah, dari ayat-ayat suci yang dibahas dan dilantunkan. Beliau jadikan Jibril a.s. sebagai pemotivasi, beliau jadikan persahabatan dan interaksi intim itu sebagai sarana menuju rahmat Allah SWT.

Sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkan, kitapun mesti pandai-pandai memilih teman atau orang yang dekat dengan kita, selama bulan ramadhan ini. Pilihlah teman terbaik yang mempunyai keinginan kuar, bertekad bulat menjadikan ramadhan tahun ini sebagai “ramadhan best of the best”, atau ramadhan paling prestatif sepanjang hidup. Kita akan terpacu meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, jika berteman dengan orang yang memiliki nilai baik dan frekwensi ibadah tinggi. Allah SWT akan menggolongkan kita sebagai umat beriman yang ia bangga-banggakan, dihadapan para penghuni langit atau penduduk surga.

Sebaliknya, jika kita memilih berteman dengan orang yang tidak mempunyai cita-cita mulia, didalam bulan yang barokah ini. Alih-alih makin rajin beribadah atau makin menjaga kualitas shaum dan tarawih kita, teman yang jahil malah akan menyeret kita jauh dari nilai-nilai ramadhan. Ketika kita shaum di siang hari, digodanya kita untuk memandang aurat atau tontonan yang diharamkan. Ketika kita hendak tarawih dibujuknya kita untuk memilih pergi ke tempat bersenang-senang. Meskipun kita bersikeras untuk bertahan, satu-dua kali kita pasti bakal terbujuk, jika interaksi kita dengan orang-orang jahil sudah sedemikian intensif dan dekat. Disaat kita merasa diri berhasil menjalani ramadhan-pun, kita cenderung lebih dekat kepada sikap tinggi hati, padahal sebenarnya kita hanya menjadi `yang terbaik` diantara `yang terburuk`.

Rasulullah SAW mengumpamakan teman kita sebagai seorang pedagang parfum atau seorang pandai besi. Kalau berteman dengan pandai besi, lama-lama bara dari tanur pengapiannya malah memerciki pakaian, jelaganya juga akan mengotori raut wajah kita. Amsal dari sabda beliau tersebut adalah : baik-buruknya diri ini tergantung dari siapa yang menjadi teman dekat kita. Bila dikaitkan dengan bulan ramadhan, baik-buruknya kualitas ibadah, tinggi-rendahnya standar shaum dan ibadah lainnya, tergantung dengan siapa diri kita berlomba meraih rahmat dan mengundang ampunan Allah tersebut. Pertanyaannya : apakah kita cukup puas menjadi `yang terbaik` diantara `yang terburuk`, atau baru puas setelah menjadi `yang terbaik` diantara `yang terbaik` ?
***





Menjadi Insan Istiqamah

6 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

‘Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu
dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu
dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya dia Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.’
(Q.S. Hud ayat 112)

Banyak kisah yang menceritakan bagaimana seseorang yang tadinya kufur namun diujung hayatnya menjadi seorang mukmin. Banyak pula kisah yang menceritakan bagaimana seseorang yang tadinya mukmin, menjadi kufur saat menemui ajal. Kisah demi kisah tersebut memberi hikmah dan pelajaran bagi mereka yang berakal, tidak hanya tentang kemungkinan iman yang naik turun, namun juga betapa hidayah merupakan harta yang memerlukan penjagaan dan pemeliharaan. Seorang yang terbiasa taat harus menjaga ketaatannya, dan seorang yang ingkar harus segera memutar haluan dari jalan kesesatan, serta menjaga kebenaran yang telah ia genggam sampai ajal memutuskan. Bila seseorang berhasil menjaga dan memelihara ketaatannya hingga akhir usia, maka ia berhak menemui akhir yang baik, atau : husnul khatimah. Maka sebelum menemui husnul khatimah, sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar aman dan berada dalam keselamatan kekal.

Ikhtiar menjaga dan memelihara islam, iman dan ihsan dengan tujuan mencapai husnul khatimah, perlu didukung oleh suatu sifat yang dinamakan : istiqamah. Sufyan bin Abdillah RA, pernah mendengar betapa Nabi SAW sangat mementingkan keistiqamahan setelah iman, tatkala sahabat tersebut bertanya,”Wahai, Rasulullah, ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau.” Untuk menjawab pertanyaan Sufyan, Nabi SAW menjawab dengan tegas,“Ucapkanlah ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!’“(H.R. Muslim). Ketegasan beliau saat berbicara soal keistiqamahan ini dikarenakan betapa beratnya menunaikan perkara tersebut. Bahkan dalam suatu hadits diungkapkan, betapa beratnya Nabi SAW dalam memikirkan soal keistiqamahan, sampai-sampai rambut beliau banyak yang memutih. “Mengapa begitu ya Rasulullah ?”tanya Umar bin Khatthab RA, saat melihat perubahan pada warna rambut junjungannya. Nabi SAW menjawab,”Surat Hud telah membuatku beruban.” Dan ketika ditanya lagi tentang ayat yang mana dari Surat Hud yang membuat rambutnya memutih, Nabi SAW menjawab lagi,”Yaitu firman Allah Swt., ‘Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.’” (Q.S. Hud ayat 112)

Istiqamah menjadi suatu perkara sulit, mengingat hati manusia itu senantiasa berbolak-balik, antara keimanan dan kekufuran, antara ketaatan dan keingkaran. Pada setiap fase kehidupan, hati atau iman seseorang tak bisa terlepas dari apa yang dinamakan ujian. Ditambah lagi, perintah Nabi SAW agar kaum muslimin dapat terus dan selalu meningkatkan kualitas islam, iman dan ihsannya, dari waktu ke waktu. Perintah itu secara tak langsung dapat tersimak lewat sabda beliau berkenaan dengan hubungan waktu dan nasib seorang hamba. Suatu saat Nabi SAW pernah bersabda,”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” Dari hadits tersebut dan uraian sebelumnya saja, kaum muslimin diingatkan dengan tegas bahwa, tiada pilihan bagi keberuntungannya selain dengan, istiqamah berikhtiar meningkatkan kualitas ketaatannya selama mengarungi kehidupan.

Kendati berat, bahkan menurut seseorang yang sekaliber Nabi SAW, kaum muslimin tetap perlu mengetahui dan mengamalkan beberapa kiat agar bisa istiqamah menjaga sekaligus meningkatkan kualitas islam, iman dan ihsannya. Menurut Ustadz Yusuf Hazim, seorang pengasuh Pondok Pesantren KH Zaenal Mustofa, Tasikmalaya, kiat-kiat mencapai istiqamah itu terdiri dari : muraqabah, mu’ahadah, muhasabah, mu’aqabah dan mujahadah.

Dalil bagi perintah ber-muraqabah tercantum dalam Al Qur’an surat Al-Hadiid ayat 4, yaitu :”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Melalui firman-Nya tersebut, tersirat betapa Maha Besar kekuasaan-Nya, betapa Maha Luas jangkauan pengawasan-Nya. Seorang muslim yang mukmin, yang mampu menghayati ayat ini kelak akan menjadi seorang muhsin, yaitu manusia yang dihiasi Allah dengan sifat ihsan. Ciri dari sifat ihsan itu adalah : beribadah, melaksanakan amalan mahdhah dan ghayr mahdhah, dengan meyakini bahwa Allah tak pernah lepas dari mengawasinya.

Read the rest of this entry »





Awalnya Adalah Basmalah

5 09 2009

oleh Abu Rashif Ilyasa Bustomi

Dimulakan dengan bismillah
Disudahi dengan alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah mudahan dirahmati Allah
(Bismillah, Raihan)

Dalam lirik nasyid berjudul “Bismillah” buah karya kumpulan Raihan diatas, terbetik dengan jelas sebuah nasehat bahwasanya, setiap perbuatan yang diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah, berada dalam naungan rahmat Allah. Dengan mengucap basmalah pada awal dan mengucap hamdalah pada akhir aktivitas, seorang muslim menyerahkan proses dan hasil dari amalan-amalannya kepada kasih sayang Allah. Seorang kolumnis muslim, Abu Mushlih Ari Wahyudi mengungkapkan, hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan mengucap basmalah adalah demi, mencari keberkahan bagi perbuatan lewat melisankannya. Selain itu, demikian sang kolumnis mengutip dari Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat-nya Syaikh Shalih Al-Fauzan, dalam lafal basmalah juga terkandung kalimat permohonan, ungkapan kebutuhan, akan pertolongan Allah ‘azza wa jalla.

Bila diterjemahkan, lafal basmalah atau “bismillaahirrahmaanirrahiim” mempunyai arti : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Dalam lafal tersebut terkandung dua sifat Allah yang termasuk dalam Al-Asmaul Husna, yaitu : Ar-Rahman dan Ar-rahiim. Ibnu Jarir pernah mengatakan,”As-Surri bin Yahya bercerita kepada saya bahwa Usman bin Zufar mendengar Al-‘Azrami menjelaskan tentang Ar-Rahman dan Ar-Rahiim.” Al-‘Azrami menjelaskan kepada Usman bin Zufar bahwasanya,”Dia (Allah) adalah Ar-Rahman dengan segala ciptaan-Nya dan Ar-Rahiim dengan siapapun yang beriman kepada-Nya.” Dengan Ar-Rahman Allah mengasihi semua ciptaan-Nya, baik mereka yang beriman maupun kafir, baik mereka yang ingkar maupun taat. Namun tak seperti Ar-Rahman yang berlaku tanpa pandang bulu, mereka yang kafir dan ingkar tidak berhak mendapatkan Ar-Rahiim-Nya dalam kehidupan akhirat nanti. Ar-Rahim itu khusus dperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman saja, sehingga jelas nyata perbedaan keuntungan antara kaum mukminin dan kaum kafirin.

Perintah untuk mengucapkan basmalah ada termuat dalam Al Qur’an. Salah satu firman-Nya yang paling populer dikalangan umat muslim, terkait perintah melisankan basmalah setiap mengawali kegiatan itu, tercantum pada surat Al–‘Alaq ayat 1. Terjemahan ayat tersebut yaitu : “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan”. Al-Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyammi menafsirkan, dalam ayat yang termuat dalam surat Al-Qur’an yang pertama diturunkan itu, Allah memerintahkan secara langsung kepada Nabi SAW dan tak langsung kepada umat beliau, agar membaca dan mengawali bacaannya dengan basmalah. Disamping dalil atau nash Al-Qur’an tentang basmalah, dalil-dalil yang berlandaskan pada As-Sunnah atau hadits Nabi SAW-pun banyak macamnya. Diantara hadits-hadits yang memuat perintah agar umat muslim mengawali kegiatan dengan basmalah adalah hadits dari ‘Aisyah binti Abu Bakar RA, yang termuat dalam kitab Sunan Abu Dawud. Dalam hadits termaksud Nabi SAW bersabda,“Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Allah. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: “Dengan nama Allah di awal dan di akhir.’”

Ismail bin Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir mengutip sabda Nabi SAW bahwa,”Setiap perbuatan yang diawali dengan menyebut nama Allah (membaca) Bismillaahirrahmaanirrahiim- adalah terputus (dari berkah atau rahmat-Nya).” Secara tak langsung hadits yang dikutip oleh Ismail bin Katsir itu menjelaskan, jika seseorang mengucapkan basmalah pada setiap mengawali aktivitasnya, maka Allah akan menyambungkan keberkahan dan rahmat terhadap dirinya. Untuk mempertegas makna daripada pernyataan dalam hadits tersebut, Allah juga telah berfirman lewat hadits qudsi yang bunyinya,”Basmalah untuk-Mu dan umat-Mu, suruhlah mereka bila memohon sesuatu dengan Basmalah. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap matapun sejak Basmalah diturunkan kepada Adam.”

Bila melalui uraian tentang lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahiim dalam basmalah, kaum muslimin diingatkan bahwasanya Allah sedemikian mengistimewakan orang yang beriman, maka melalui sebuah hadits-nya Nabi SAW menjelaskan bagaimana cara Allah mengistimewakan kaum mukminin itu secara konkret. Dalam hadits yang termuat pada kitab Jamius-Shahih halaman 6419, sahabat Anas RA mendengar Nabi SAW bersabda,”Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Allah. Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’”

Amsal dari hadits yang dianggap shahih oleh Bukhari-Muslim diatas, yaitu : dengan memberinya petunjuk, Allah menuntun pelisan basmalah agar bisa membedakan mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan ; dengan mencukupinya, Allah menjamin pelisan basmalah selalu terpenuhi kebutuhan jasmani maupun ruhaninya ; dan dengan memeliharanya, Allah menjamin pelisan basmalah agar senantiasa ada dalam limpahan berkah, rahmat, hidayah dan nikmat-Nya. Tiga keutamaan yang diperuntukkan bagi kaum mukminin itu, tidak hanya sekadar berlaku di dunia dalam serba kefanaan, melainkan berlaku pula di akhirat dengan serba keabadiannya. Maka dengan mengucapkan basmalah, memahami makna, mengetahui keutamaan-keutamaan yang terkandung didalam lafadz-nya, setiap muslim yang beriman hendaknya selalu mengupayakan sinkronisasi antara hajat dunia dan akhirat, dari awal hingga akhir aktivitasnya. Jangan sampai mengutamakan salah satu hajat diatas hajat lainnya, agar Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Nya senantiasa mengiringi perjalanan dari alam fana menuju alam baka kelak. Wallahu a’lam bish shawab.