Jalan Kampung Suatu Maghrib

2 09 2009

Senin sore itu, saya terpaksa pulang lebih malam. Lebih lambat dari kawan-kawan kantor, karena proses penayangan artikel yang lama. Inilah dilema jurnalis dunia maya. Ketika teks telah siap, tiba-tiba kecepatan jaringan internet berkurang, melemah dan akhirnya lambat sama sekali. Untuk membuka sistem manajemen konten butuh waktu 5 sampai 7 menit. Bila dijumlahkan, waktu mengganti artikel bisa memakan waktu 20 menit per satu artikel. Betul-betul menyiksa. Mengingat saya seharusnya sudah bisa pulang 20 menit lebih awal, jika kecepatan jaringan sedang normal.

Saya keluar dari pintu kantor lima belas menit menjelang shalat maghrib. Seharusnya, saat lima belas menit menjelang maghrib itu saya sudah menghirup bau rumah, rangkuman aroma masakan untuk makan malam, sabun mandi anak saya, dan harum tanah basah di kebun kecil rumah kami. Tapi apa boleh buat. Lima belas menit menjelang maghrib itu saya baru saja mengawali sebuah perjalanan pulang. Perjalanan yang juga seharusnya cepat dan tenteram, jika saja tidak ada kemacetan dan ulah pengendara mobil-motor yang seperti dikejar hantu. Melihat ulah mereka saya berbaik-sangka saja : “Mungkin takut ketinggalan maghrib berjamaah.”

Langit yang gelap dan penat yang sangat, membuat saya menyingkir dari jalanan sibuk, yang biasa saya lalui setiap pulang. Didepan mulai tampak tanda-tanda kemacetan, sedang dari langit mulai turun setitik-dua titik air hujan. Cukup alasan bagi saya untuk mengambil jalan pintas lewat perkampungan, meski sebenarnya bukan malah menyingkat jarak. Tapi setidaknya, lewat jalan kampung pasti terhindar dari macet, dan ketika hujan bisa berteduh di dangau atau warung kopi, yang tentu lebih nyaman keadaannya daripada berlindung di pelataran toserba pinggir jalan- menunggu hujan reda sambil memandang botol plastik, kotak minuman dan kadang veses atau bangkai tikus mengalir ke tengah jalan. Sungguh menjijikkan.

Singkat cerita, setelah beberapa saat menikmati suasana kampung yang lengang menunggu maghrib, hujan akhirnya turun menemani perjalanan pulang sore itu. Jalan desa yang dinaungi dedaunan rimbun, yang menjulur dari tangkai pohon besar di kiri-kanan jalan, membuat hujan deras itu tidak begitu menyulitkan saya. Dengan jaket lapis mantel hujan saya terus menyusuri jalan kampung. Saya bersyukur dan merasa beruntung telah memutuskan untuk lewat di jalan yang sangat sepi itu.

Hujan turun kian deras. Kalau mengikuti hitungan jam, semestinya saya bisa sampai ke rumah lima belas menit lagi, karena separuh jalan kampung itu telah habis saya lalui. Setelah jalan kampung ini, saya tinggal menyeberangi jalan raya lalu masuk ke gang lokasi tempat tinggal. Hati yang kecut karena gelegar petir yang terus sahut-menyahut, dingin yang menyusup karena air mulai tembus ke lapisan terakhir mantel hujan, jadi sedikit tak terasa. “Santai saja. Sebentar juga sampai ke rumah.”bisik batin saya.

Sedang asyik-asyiknya melancar, ketika jarum kecepatan motor melewati angka 60, tiba-tiba motor saya oleng sukar dikendalikan. Untung bukan kali itu saja saya mengalami kejadian serupa, sehingga saya bisa mengendalikan laju motor dengan mantap. Beberapa detik saya terlambat, bisa-bisa saya dan Gorgom-julukan motor saya, dijuluki demikian oleh montir langganan karena jarang sekali dicuci- menyeruak kebun singkong di pinggir jalan. Dulu, jaman pertama kali belajar motor, saya dan Gorgom pernah dua kali menggerus perkebunan dan tanaman milik orang. Pertama, waktu saya dan Gorgom ‘berselancar’ di perkebunan teh. Kedua, waktu saya dan Gorgom melakukan ‘terjun bebas’ di sawah belakang komplek. Alhamdulillah, senin sore itu saya dan Gorgom tidak sampai mencetak rekor baru.

Di pinggir jalan kampung itu, dibawah hujan yang masih deras menyiram, saya memeriksa apa penyebab dari olengnya motor saya tadi. Kalau dalam dua peristiwa sebelumnya olengnya motor disebabkan oleh terlalu cepat di belokan tajam, maka dalam peristiwa ketiga ini penyebabnya adalah ban belakang yang bocor. Inna lillaahi…kepala paku beton tampak tersembul dekat bagian pentil, ketika saya menjamah ban motor yang kempes total.

Setelah saya mencabut paku yang menancap dalam itu, dibawah air hujan yang turun dan kini betul-betul merembes ke seluruh tubuh, saya berjalan menuntun motor. Seandainya saja saya belum kawin, tidak punya tujuan rumah yang hangat dengan senyum istri dan canda anak, pasti rasanya pahit betul perasaan di sore nan gelap dan lembab itu. Sambil berjalan, mengatur nafas, saya berharap bisa cepat menemukan tukang tambal ban. Diantara kecipak langkah sendiri yang dirasa mulai berat sayapun bergumam : semoga anakda tercinta, Si Abang yang sedang demam dan menunggu-nunggu ayahnya di rumah, dikaruniai kesembuhan oleh Allah dan tidak gelisah atau panas seperti malam sebelumnya.

Ah, sudahlah. Saya harus melupakan bau rumah untuk sementara. Saya harus cepat-cepat mencari kios tambal ban, yang kalau tidak salah ada di ‘lima menit’ menjelang jalan raya, masih bagian dari jalan kampung ini. Singkat kata, sayapun bergegas menuntun motor ke arah depan, menyibak hujan yang mulai meriah ditingkahi suara gelegar petir yang menciutkan nyali.

+++

“Tambal Ban Uca.” Papan nama kios tambal ban yang saya tuju lamat-lamat terlihat di arah depan, setelah hampir setengah jam berjalan menuntun Gorgom. Kaki yang pegal seperti mendapat tenaga baru. Kaki yang beku berbalut sepatu gunung itu terus melangkah, berderap, diantara air yang membanjiri jalan sampai semata kaki. Cruk, crak, cruk, crak, sampai akhirnya tiba di tempat penambalan ban. Yang empunya bengkel mendongak sedikit, meninggalkan motor lain yang sedang ditambal, lalu membantu saya menaikkan motor. Untuk sesaat saya menghela nafas lega, lantas duduk bertiga, berderet, menonton kecekatan tangan Pak Uca (kalau melihat papan namanya mungkin saja namanya Uca), bersama pasangan dua-sejoli yang datang lebih dulu, yang mimiknya tampak tak rela atas keberadaan saya. Hmm, lagi asyik dempet-dempetan begitu ada yang nimbrung, pastilah sedikit gondok. “Maaf juragan, kalau tidak kempes ban saya tidak akan duduk di bangku ini.”cetus saya dalam hati, setelah mengucap istighfar, karena tak sengaja menatap terlalu lama si perempuan muda, yang bajunya basah ketat kena rembes air hujan. Pantas, yang laki-laki kelihatan seperti ’kucing melihat ikan tawes.’

Hujan reda dan Pak Uca telah selesai menambal ban motor pasangan ‘kucing’ dan ‘ikan tawes’ itu. Saya semakin lega saat Pak Uca menghampiri dan mulai melihat-lihat ban motor saya yang kempes. Dia ambil ember besar, perkakas, kaleng aspal dan tungku pemanas ke dekat motor saya. Aneh. ‘Kucing’ dan ‘ikan tawes’ itu malah mengobrol, bukannya cepat-cepat mengambil motor dan membayar ongkos tambal ban kepada Pak Uca. Untuk beberapa lama mereka tampak sedikit berdebat. Lama-lama, sang ‘kucing’ datang menghampiri Pak Uca, sambil mengulurkan sesuatu berbentuk dompet tipis, mirip-mirip kantong sarung Atlas, yang kemudian saya ingat bahwa itulah wadah SIM dan STNK. Karena, ada lambang kepolisian RI pada bagian sampulnya.

“Maaf, Pak. Saya tidak bawa uang. Inilah untuk jaminan.”

Pak Uca tampak terkesima. Sejurus lewat, wajah yang tadinya tenang, dengan air muka damai itu berubah keruh seperti warna air got.

“Tidak usah. Gampanglah. Nanti saja, Dik.”jawab Pak Uca. Kata-katanya memang halus. Tapi cara dia menampik menampakkan bahwa tukang tambal ban setengah baya ini kesal luar biasa. Wah, ikut tak enak juga saya, menyaksikan perangai Pak Uca. Tapi, lebih terkejut dan sebal menyaksikan ‘kucing’ pemilik motor itu yang langsung menurunkan penyangga motor sambil berkata, “Terima kasih, Pak,” lalu berlalu membawa ‘ikan tawes’-nya.

Duh, sangat tidak empatik dan kurang sopan sikap pasangan anak muda itu. Berlalu begitu saja sambil cengengesan, berboncengan mesra tanpa beban, dihadapan Pak Uca yang sudah capek-capek tapi belum lunas dibayar keringatnya. Mungkin mereka memang tak sengaja, mungkin memang betul-betul tidak bawa uang. Tapi, bukankah lebih baik mereka jaga sikap, jangan terlalu menunjukkan perasaan merdeka, saat berlalu dari hadapan kami.

Pak Uca kembali pada pekerjaannya menghadapi ban motor yang bocor. Ia susuri ban luar bagian dalam dengan tangannya yang sudah menonjolkan urat-urat ketuaan. Rupa-rupanya, ia lupa memeriksa ban dalam yang sudah sobek, sebab biasanya tukang tambal memeriksa bagian itu lebih dulu. Saya yang terkesima oleh kejadian sebelumnya juga lupa memberi informasi, bahwa ban dalam saya tadi ditembus paku beton secara telak.

“Den, sudah sobek ban dalamnya juga. Harus diganti sepertinya.”ujar Pak Uca kepada saya, ketika ia tersadar dan memeriksa ban dalam si Gorgom.

Raut Pak Uca saat menyapa saya sudah kembali seperti semula : tenang dan santun. Saya kemudian memintanya untuk memilihkan salah satu merk ban dalam, biar ban dalam yang robek itu lekas diganti saja. Sejurus kemudian Pak Uca masuk kedalam jongko, mengambil tiga buah kotak ban dalam dan memberikan semuanya kepada saya.

“Ini 19.000, Den. Yang ini 21.000 dan yang ini 25.000. Sudah sama harga pasang, Den.”jelas Pak Uca sambil mengatakan, ban dalam dengan harga 19.000 dan 21.000 sama saja kualitasnya. Dan ban dalam yang harganya 25.000 jelas terjamin dan paling bagus kualitasnya. Paling unggul dari yang dua sebelumnya.

“Ini saja, Pak Uca.”ucap saya sambil memilih kotak ban dalam seharga Rp.25.000

Pak Uca mengangguk dan segera menuruti apa keinginan saya. Sambil membaca koran sore yang menggeletak begitu saja di meja dalam kios, saya menunggui Pak Uca bekerja dengan sabar. Pasang ban dalam baru lebih cepat dari menambal ban yang lama. Hanya 10 menit, pekerjaan Pak Uca sudah kelar dan saya siap untuk kembali menyelesaikan seperempat jalan kampung, seberangi jalan, dan sampailah kedalam rumah.

Enteng saja saya mengulurkan uang kepada Pak Uca, dua puluh lima ribu rupiah jumlahnya. Alangkah tertegunnya saya, karena saat Pak Uca menerima lembaran uang Rp.25.000 itu, ia lantas mengucapkan syukur dengan terbata-bata, sedang tangannya yang kanan memegang punggung tangan kiri saya.

“Alhamdulillah. Akhirnya, akhirnya dapat rejeki juga bapak hari ini.”ucapnya dengan wajah penuh syukur, dan mata merah berusaha menahan tangis.

“Lho, kenapa, Pak ?” tanya saya yang memang tak habis pikir, kenapa Pak Uca sampai bisa sedramatis itu.

“Eh, si Aden ini. Dari pagi saya belum istirahat menambal ban. Tapi, rata-rata yang datang tak punya uang, lupa bawa dompet.”jelas Pak Uca tersendat-sendat.”Mau marah percuma, sabar juga hampir saja tidak bisa bapak ini. Mmh, Den. Terima kasih banyak.”

“Lho, tidak usah berterimakasih pada saya, Pak. Kan ini buruh pekerjaan, Pak Uca.”jawab saya yang agak sedikit grogi.”Kalau mau juga saya yang terima kasih. Kalau kios Pak Uca tutup, wah, saya bisa semaput jalan sampai depan.”

“Ah, alhamdulillah.”gumamnya sambil memasukkan lembar uang 20.000-an dan 5.000-an ke kantong baju. Sepertinya, dia tidak mendengar apa yang saya katakan tadi.”Semoga lebih besar lagi rejekinya,Den,”ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.

“Yah, saya pamit dulu, Pak Uca.”sayapun bersegera pamit.

“Hahaha ! Aden ini. Nama saya bukan Uca, Den. Nama saya Pardi. Uca itu nama cucu saya.”ucap Pak Uca eh Pak Pardi, sambil menghampiri saya, menepuk-nepuk pundak saya, dan berpesan agar saya berhati-hati.

“Ya, Assalamu’alaikum, Pak.”saya pamit untuk terakhir kali, meluncur deras menghabiskan seperempat jalan kampung ini.

+++

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan, betapa Pak Pardi mensyukuri nikmat rejeki yang dikaruniakan Allah itu. Padahal, barangkali laba jual-pasang ban dalam itu paling banter lima ribu rupiah saja. Ekspresi Pak Pardi itu sangat berkesan buat saya, kendati saya juga prihatin, sebab di jaman sekarang ternyata cari uang itu sulitnya minta ampun. Entah berapa motor yang menawarkan jaminan STNK, KTP, SIM atau mungkin surat nikah yang dilayani Pak Pardi hari ini. Sampai kemudian, saya dan Gorgom datang ke kiosnya dan dianggap sebagai malaikat yang ditunggu-tunggu. Ah, malaikat apa pula saya ini. Kalau malaikat, ya pasti tahu namanya Pardi bukan Uca.

“Lain kali, jangan sembarang panggil nama orang. Lebih baik panggil mas, mbak, ibu atau bapak saja. Bikin malu ibu saja kamu.”Terngiang lagi nasehat orangtua, yang diucapkan semasa saya SMA dulu. Ketika itu, saya dengan seenaknya memanggil nama pemilik warung “Sinyo”, warung baru di daerah rumah kami, dengan panggilan Bu Sinyo. Sang empunya warung tertawa terbahak-bahak lantas berkata kepada ibu : “Nama suami saya bukan Sinyo, Bu. Anak ibu jangan panggil saya Bu Sinyo, ah. Lucu banget kedengarannya…”

Maghrib itu saya lupakan semua penderitaan, ketika saya menuntun motor diantara deras hujan yang menyiram sekujur jalanan kampung, dan penderitaan sebelumnya : ganti artikel yang lambat, jalanan yang macet, ban dalam yang bocor dan badan yang nyaris beku karena dingin. Pengalaman di kios tambal ban telah mengajarkan kepada saya, bagaimana mengenali nikmat meraih sesuatu, nikmat mencapai sesuatu, nikmat mendapat rejeki yang sejati. Kedatangan saya di rumah disambut Si Abang yang sudah reda panasnya, dan suaranya sudah tidak seserak ketika saya pergi pagi hari. Duh, nikmat sekali rejeki kesembuhan yang Allah berikan terhadap anak saya, rejeki penghasilan yang Allah berikan kepada Pak Pardi, dan terhadap hamba-Nya yang sempat putus asa padahal, terselamatkan dari kecelakaan memalukan : melabrak kebun singkong di pinggir jalan kampung. Sayang, saya shalat maghrib agak terlambat, pada senin sore itu. (aea)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: