Membuka Jalan Sedekah

2 09 2009

Bulan ramadhan melatih kepekaan sosial kita, melalui ibadah shaum yang kita kerjakan. Dalam haus dan lapar, kita diajak untuk menghayati penderitaan mereka yang kurang beruntung, tidak hidup dalam kebercukupan. Dengan berpuasa diharapkan kita bisa merasai betapa lapar itu tidak enak, haus itu demikian menyiksa. Sehingga diharapkan, kita yang berkemampuan mau berbagi ridzki dengan mereka yang papa, karena perasaaan empatik yang dirangsang melalui ibadah puasa.

Sikap nyata dari perasaan empatik kita adalah kedermawanan diri. Dan wujud kedermawanan diri itu tercetuskan lewat sedekah, yaitu segala ikhtiar yang kita lakukan hingga membawa manfaat moril dan materiil bagi sesama mahluk.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata : “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al Qur`an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al Qur`an. Rasulullah SAW ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dengan tambahan : “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.”

Mengapa Rasulullah SAW sedemikian bersemangat dalam kedermawanannya pada syahrur-Ramadhan ini ?

Pada bulan ramadhan Allah melimpahkan rahmat dan ampunan sedemikian banyak dan `dahsyat`-nya. Bagi para pencari surga, mereka yang rindu untuk tinggal bertetangga dengan Nabi-nya serta kangen menatap raut Sang Khaliq, bulan Ramadhan ini menjadi waktu kebebasan mereka dari api neraka. Mengingat Allah yang begitu Maha Pemurahnya di bulan yang suci ini, tentu menjadi pertanyaan, bila kita sebagai umat-Nya malah bersikap kebalikan. Sungguh tak tahu diri, jika kita yang lemah dan tak punya kuasa apapun tidak mau mendermakan sebagian milik, padahal segala yang kita miliki itu pada hakikatnya adalah kepunyaan Allah, bukan milik kita semata.

Bila apa-apa yang kita miliki adalah kepunyaan Allah, maka sungguh tak beralasan jika kita menggunakannya untuk meraih sesuatu yang malah menjauhkan kita dari-Nya. Akan lebih mulia diri ini, seandainya semua hak Allah itu kita kembalikan melalui, salah satunya, mengikuti perintah sedekah. Dengan bersedekah berarti kita telah membelanjakan sebagian ridzki kita di jalan Allah.

Manfaat sedekah itu hakikatnya diperuntukkan bagi diri kita juga. Pahalanya untuk kita, berguna sebagai bekal akhirat kita, apalagi dilakukan pada bulan dimana pahala amal perbuatan kita dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bila kita mengerti akan hal itu, kita akan mafhum, bahwa upaya sedekah kita bisa menjadi jalan bagi kebahagiaan tak hanya di akhirat saja, namun juga di dunia tempat kita hidup sekarang ini. Dengan sedekah kita akan memahami bahwa, `meraih` bukan dengan `mengambil` melainkan dengan `memberi.` Artinya, meraih dunia dan akhirat itu tidak hanya dengan menimbun harta, tapi memperbanyak sedekah dan membuka banyak jalan untuk menafkahkan rejeki di jalan Allah. Insya Allah.
***


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: